Sejarah Pembantaian Nanjing

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Pembantaian Nanjing
Pembantaian Nanjing
grosir-buah-surabaya

Tahun 1937. Pembantaian Nanjing (dalam bahasa Mandarin: 南京大屠杀, dalam bahasa Jepang: 南京事件) merupakan salah satu kekejaman terburuk yang dilakukan terhadap warga sipil selama abad ke-20.

Setelah jatuhnya ibu kota Tiongkok Nanjing (南京, Nanjing) ke tangan tentara Jepang pada Desember 1937, kota ini menyaksikan berminggu-minggu pembunuhan massal terhadap tawanan dan warga sipil, operasi pemerkosaan yang meluas, disertai tindakan perampokan, pembakaran, dan penghancuran.

Jumlah korban masih menjadi perdebatan di antara sejarawan Tiongkok dan Jepang.

Pengadilan Militer Internasional untuk Wilayah Timur Jauh memperkirakan jumlah korban tewas lebih dari 200 ribu orang, sementara Tiongkok menyebut angka 300 ribu korban.

Sebaliknya, beberapa sejarawan Jepang memperkirakan angka yang jauh lebih rendah, sementara kelompok penyangkal mengecilkan skala kejahatan tersebut atau bahkan menyangkal kejadiannya.

Namun, peristiwa Nanjing tidak bergantung pada satu sumber saja; peristiwa itu meninggalkan banyak bukti, mulai dari catatan harian misionaris dan pebisnis Barat, hingga foto dan laporan diplomatik, kesaksian para penyintas, bahkan kesaksian dari beberapa tentara Jepang sendiri.

Salah satu saksi utama adalah pebisnis Jerman, John Rabe, yang memanfaatkan keanggotaannya di Partai Nazi dan hubungan Jerman dengan Jepang saat itu untuk membantu mendirikan Zona Aman Internasional di Nanjing, yang menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari 200 ribu warga Tiongkok serta sejumlah orang asing.

Catatan harian Rabe, yang ditemukan kembali dan diterbitkan pada tahun 1990-an, menjadi salah satu sumber pribadi terpenting yang mendokumentasikan apa yang terjadi di Nanjing. (*)