Profil Tengku KH Nuruzzahri Yahya
Tengku KH Nuruzzahri Yahya, akrab disapa Waled NU (Nahdlatul Ulama), lahir di desa Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, pada tahun 1951. Beliau anak sulung Tengku H. Yahya dari istri pertamanya, Sa’diah.
Dari ibunda Sa’diah yang meninggal dunia pada tahun 1959, Waled NU mempunyai dua orang saudara; Tengku Fakhrurrazi Yahya dan Syeh Asnawi Yahya (Alm). Dari ibunda kedua, Hj Nurjannah, Waled mempunyai dua orang adik, yaitu Tengku Syeh Baihaqi dan Hj Marhamah (Walidah Tanoh Mirah, isteri Tengku H. Anwar Nurdin). Ketika Tengku KH Nuruzzahri Yahya berumur 8 tahun, ibu kandungnya meninggal dunia dan tinggallah Nuruzzahri kecil dengan adik-adiknya bersama ayahnya.
Ayah Tengku KH Nuruzzahri Yahya, Tengku H. Yahya, adalah seorang tokoh masyarat, tokoh agama, juga seorang guru besar yang merangkap panitia pembangunan Dayah Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI MESRA), di era kepemimpinan Tengku H. Abdul Aziz (Abo Aziz Samalanga). Selain sebagai tokoh agama, Tengku KH Nuruzzahri Yahya juga seorang pebisnis hasil bumi yang tergolong sukses.
Tengku KH Nuruzzahri Yahya berasal dari desa Monkeulayu, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen. Pada tahun 1937, Tengku KH Nuruzzahri Yahya berangkat ke Samalanga untuk menyantri (meudagang) di Dayah MUDI MESRA yang dipimpin oleh Tengku Abi (Tengku H. Hanafiah).
Setelah 14 tahun, disana Tengku KH Nuruzzahri Yahya menikah dengan Sa’diah, seorang gadis desa Mideun Jok, desa tempat Dayah MUDI berada.
Tengku H Yahya adalah sosok berdarah Arab Yaman Selatan. Dilihat dari postur tubuh, Tengku KH Nuruzzahri Yahya mirip orang Timur Tengah dan sering disapa dengan panggilan “Tengku Arab”. Begitu juga dengan anak-anaknya seperti Waled NU.
Dalam mendidik anak-anaknya, Tengku KH Nuruzzahri Yahya sangat disiplin dan memahami bakat serta kemampuan mereka. Anak-anak beliau diberi kebebasan memilih jalan hidup asalkan mereka sudah matang menguasai ilmu agama dengan cara belajar di Dayah.
Tengku KH Nuruzzahri Yahya sangat menekankan pentingnya kewiraswastaan agar terkikis mental-mental manja dari seorang anak. Apapun sikap dan tindakan yang bermanfaat bagi mereka, akan diberi dukungan, baik dukungan moril maupun materil.
Sebagai contoh, ketika Waled NU pada masa muda memilih turun ke sawah untuk menjadi petani layaknya masyarakat lain sebagai sikap mandiri dalam soal ekonomi, sang ayah memberi dukungan dan dorongan dan bahkan memodalinya. Mungkin ada sebagian masyarakat yang memandang ironis karena Waled adalah anak seorang peniaga sukses. Mereka heran mengapa beliau memilih memanggul cangkul ke sawah.
Pola pendidikan seperti itu telah mengantar anak-anak Tengku KH Nuruzzahri Yahya ke jenjang kesuksesan, seperti Tgk. H. Nuruzzahri yang kemudian menjadi seorang tokoh ulama Aceh dan akhirnya dipanggil Waled NU. Tengku Fakhrurrazi menjadi pedagang hasil bumi.
Syekh Asnawi menjadi Guru Sekolah Menengah di Sigli dan meninggal dunia sebagai korban DOM 1991. Syekh Baihaqi menjadi ketua umum Dayah Malikussaleh Panton Labu. Putri bungsu beliau, Hj Marhamah berkiprah sebagai pimpinan Pesantren Putri Miftahul Ulum, Tanoh Mirah (Walidah Tanoh Mirah).
Pada usia belia, Waled mengecap sedihnya hidup sebagai piatu. Namun demikian, Waled dan adik-adiknya tetap tegar dalam menjalani kehidupan. Semangat beliau untuk terus belajar tidak pernah surut karena mereka selalu diayomi dan ditempa dengan semangat kesabaran oleh sang ayah.
Di rumah kayu berukuran sedang (rumoh santeut), bercat hitam oli bekas dan diterangi cahaya redup redam lampu minyak tanah yang menggambarkan kesederhanaan, Nuruzzahri dan saudaranya menghabiskan malam menjelang isya untuk belajar Al-Qur'an. Selain mereka, kaum ibu desa juga ambil bagian belajar agama di rumah itu sehingga rumah tersebut dinamakan dengan madrasah rumahan (rumoh beuet).
Masa kanak-kanak Nuruzzahri dihabiskan di Dayah MUDI dan bergaul dengan para santri sebaya dan Teungku-teungku. Dari sinilah tumbuh dan berkembang semangat belajarnya hingga membentuk satu sikap cinta akan ilmu pengetahuan agama dan untuk seterusnya memilih menjadi santri di dayah tersebut.
Waled NU mengawali pendidikan formalnya di SR (Sekolah Rakyat) 3 Samalanga. Beliau belajar di sekolah pada pagi hari dan di Madrasah Diniyyah pada sore hari. Pada 1964 beliau masuk Pesantren Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiah (MUDI) Samalangan yang dipimpin oleh Tgk. H. Abdul Aziz Shaleh (Abon Aziz Samalanga). Seperti santri yang lainnya, Waled belajar dengan tekun dan menaati setiap peraturan dayah.
Walaupun putra daerah, Waled tidak seperti santri yang lain. Biasanya putra daerah susah mondok (muedagang) di daerah sendiri. Tidak adanya kesan sebagai putera daerah, sikap betah dan taat itulah yang membuat seorang Nuruzzahri mendapat perhatian serius dari para Teungku di Dayah. Ketika Waled menduduki kelas 7, beliau mendapat kepercayaan menjadi ketua IKPDS (Ikatan Pelajar Daerah Samalanga). Selain itu, beliau juga terlibat dalam berbagai seksi di dalam sejumlah bidang kegiatan di Dayah.
Sejak di Dayah, Waled sudah dipersiapkan oleh Abon ‘Aziz untuk menjadi seorang pemimpin di kemudian hari. Hal itu sangat berkesan ketika suatu hari Waled dan kawan-kawan yang waktu itu masih menjadi santri, keluar dari Dayah untuk menyaksikan dakwah seorang mubaligh ternama pada malam hari.
Saat mereka pulang ke Dayah, Waled ditegur oleh Abon, dengan mempertanyakan untuk apa peduli urusan orang, “tugas kalian di sini adalah belajar bukan dengar dakwah”.
Dari ungkapan sang guru tersebut dicerna oleh Waled sebagai teguran bijak yang mengandung nilai-nilai tarbiyah (mendidik). Sesungguhnya Abon menekankan pentingnya belajar dari segala-galanya kendatipun itu bermanfaat, pentingnya prioritas waktu untuk belajar dan dengan belajar seseorang akan meraih apa yang dikaguminya.
Setelah 10 tahun di pesantren tersebut, tepatnya pada tahun 1974, Tengku KH Nuruzzahri Yahya hijrah ke Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, dan masuk Fakultas Syariah di Universitas Hasyim Asy’ari. Setelah menyelesaikan satu semester di sana, Tengku KH Nuruzzahri Yahya pindah ke Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang, pimpinan Habib Abdullah Bilfaqih, untuk memperdalam pengetahuannya di bidang Ilmu Hadits.
Setelah lebih kurang 2 tahun di sana, Tengku KH Nuruzzahri Yahya kembali ke Aceh dan menetap di Samalanga. Dari riwayat pendidikan tersebut, Tgk. KH. Nuruzzahri dapat disebut seorang penjelajah pesantren. Pengalaman spiritual yang sempat beliau kutip dalam perjalanannya itu selanjutnya diterapkan pada lembaga yang beliau pimpin.
Semenjak di bangku pendidikan, Waled NU sudah bercita-cita untuk membangun sebuah lembaga pendidikan dengan formula baru yang tidak terdominasi konsep modern, dengan harapan, lembaga tersebut akan mampu menciptakan kader-kader intelektual muslim di masa depan yang penuh tantangan.
Pada1976, Waled NU menikah dengan Hulaimah Jalal dan dikaruniai 7 orang putra putri, yaitu Aysyatul Kubra, Misnaiyah, Muyassirah, Ummi Hanik, Abdul Malek dan Muhammad Al-Mushtafa. Setelah menikah, Waled tinggal di sebuah asrama Pesantren Putri Muslimat Samalanga milik mertua beliau, Tgk. H. Jalaluddin Hanafiah.
Di pesantren itulah Waled NU mengaktifkan diri selaku pelaksana pendidikan yang menangani segala aspek pelayanan mulai dari pembangunan hingga hal sekecil apapun.
Dedikasi seorang Waled NU sangat luar biasa terhadap Dayah itu, selain sebagai staf pengajar beliau juga pencari dana pembangunan Dayah tersebut. Hampir setiap hari Waled mendatangi desa-desa terpencil dengan berceramah untuk menggalang dana pembangunan Dayah dengan harapan masyarakat desa itu mau membawa anak mereka ke Dayah Muslimat. Upaya itu tidaklah sia-sia, dalam masa itu pula banyak santriwati berdatangan dan kebanyakan mereka berasal dari desa yang pernah dikunjungi Waled.
Ada suatu kisah yang sangat mengerikan dan penuh resiko yang menimpa Waled dalam kesetiaannya pada Dayah. Peristiwa itu terjadi pada suatu malam di tahun 1989 sekitar pukul 22.00 WIB. Pada malam itu Waled dalam perjalanan pulang berceramah dari Geumpang, Pidie dengan mengendarai sepeda motor merk Vespa Spring, ditemani pendamping beliau, Tengku Ilyas Geurugok.
Dalam kegelapan malam itu, tidak ada satupun kendaraan lain yang lalu lalang di jalan B Aceh-Medan, tetapi suara mesin tua vespa Waled memecah kesenyapan malam. Vespa terus melaju membawa dua insan yang diburu rasa was-was kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam perjalanan.
Di sekitar daerah Paru, Kabupaten Pidie, suasana kian mencekam, hanya suara raungan mesin dan nyanyian jangkrik sayup terdengar. Tiba-tiba dari arah kegelapan ada yang menghadang jalan mereka dengan melempari batu untuk melumpuhkan beliau dan bermaksud ingin merampok. Lemparan itu menghentak jantung yang dari tadi memang tak nyaman. Teringat kata orang, bahwa di kawasan hutan tersebut rawan terjadi perampokan. Lemparan benda keras tidak sempat mengenai mereka.
Dalam keadaan pontang-panting Waled NU menancap gas vespa menyelamatkan diri bersama uang sumbangan Dayah dalam bagasi vespa senilai kurang lebih Rp. 2.500.000. Akhirnya Waled berhasil meloloskan diri dari todongan penggangu jalan dan uang sumbangan untuk Dayah pun berhasil diselamatkan.
Pada waktu ayah mertua Waled, Tengku H. Jalaluddin, Ayah Jalal, dalam kondisi sakit menjelang pulang ke rahmatullah, kepemimpinan pesantren dipercayakan kepada Waled. Tidak mudah memang mengelola pesantren yang notabene santrinya adalah kaum putri. Namun, berkat kegigihan dan loyalitas yang tinggi, selama 18 tahun kepemimpinan beliau telah membuat pesantren yang jumlah santrinya mencapai seribuan itu menjadi pioner untuk pesantren-pesantren putri lainnya di Aceh.
Sekitar penghujung tahun 1989, saat di Aceh diberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM). Hampir di setiap pelosok Aceh terkena imbas. Banyak sekali anak yang kehilangan orang tua dan menjadi yatim, padahal mereka masih sangat membutuhkan perhatian keluarga dalam bidang pendidikan.
Ribuan anak Aceh saat waktu itu terlantar, tanpa sentuhan tangan kesejahteraan dari pihak mana pun, kebebasan mereka untuk belajar terancam punah. Sekolah mereka terbakar dan rumah-rumah terpaksa dikosongkan. Mereka menghuni barak-barak darurat. Karena itulah tatanan sosial mendebu dan orang-orang menangisi nasib dirinya masing-masing.
Menyikapi fenomena yang sangat memprihatinkan itu, timbullah gagasan Tengku KH Nuruzzahri untuk mendirikan sebuah panti asuhan yang menampung anak yatim piatu pada tahun 1990 yang diberi nama Ummul Ayman. Itu dilakukan sebagai wujud kepekaan sosial dalam menanggulangi korban konflik.
Nama “Ummul Ayman” diambil dari nama salah seorang pengasuh Nabi Muhammad SAW. setelah beliau ditinggal wafat ibunya dengan harapan Ummul Ayman akan jadi pelindung anak anak yatim dari keputusasaan dan keterlantaran.
Untuk merealisasikan gagasan tersebut, Waled memilih lokasi panti asuhan persis di sebelah timur kediamannya yang waktu itu masih rawa rawa. Tempat itu adalah lahan kumuh yang digunakan warga setempat untuk membuang sampah, bekas sungai yang sudah sangat lama terbengkalai dan dipenuhi ilalang layaknya kawasan angker. Kedalaman tempat itu mencapai 3 meter.
Dengan semangat dan dorongan tanggung jawab moral, tempat itu diuruk sedikit demi sedikit dengan mengandalkan tenaga swadaya sebagian masyarakat sehingga berhasil didirikan satu bale dilengkapi kamar tidur hasil waqaf hamba Allah di atas sebidang tanah wakaf berukuran 300 meter persegi yang kondisinya sangat becek. Bila hujan deras, sekitar balai dipenuhi air kotor.
Wajar saja, kedalaman area mencapai 3 meter dari badan jalan. Di atas balai itulah, beberapa anak yatim korban konflik belajar ngaji dan tidur di waktu malam dalam desingan nyamuk dan dingin angin malam.
Makin lama, jumlah santri korban konflik semakin bertambah. Umumnya mereka berasal dari Aceh Timur dan Pidie, daerah sentral DOM. Rata-rata mereka diantar oleh wali/kerabat/saudara sebagai pengganti orang tua. Antusias mereka untuk belajar terbukti dari kesabaran mereka bertahan dalam kondisi yang serba kekurangan.
Mereka masak dan makan bersama sebagai upaya menumbuhkan semangat solidaritas pada anak didik. Di samping itu, yang membuat mereka betah tidak terlepas dari sikap harmonisme seorang pemimpin yang dengan tanpa pamrih mengayomi mereka sehingga berkesan bahwa mereka telah menemukan sosok pengganti orang tua.
Pada tahun 1991 Ummul Ayman berkembang menjadi sebuah yayasan yang diketuai oleh Tgk. KH. Nuruzzahri sendiri. Yayasan Ummul Ayman menyediakan tiga unit pelayanan sosial, yaitu panti asuhan, sekolah, dan pasantren salafiah. Barulah pada waktu itu bantuan sarana dan prasarana dari lembaga lain, baik pemerintah maupun nonpemerintah mulai mengalir.
Dalam menjalankan roda pelayanan sosial, Waled menerapkan prinsip-prinsip menuju keberhasilan dengan cara menyamakan kurikulum Dayah dan sekolah agar mutu pendidikan agama dan umum bisa meningkat dan mereka memperoleh hak pendidikan seperti anak-anak lain.
Memberi rasa nyaman kepada anak didik supaya tertanam kesabaran dalam jiwa mereka dalam menempuh pendidikan. Konsep kepemimpinan itulah yang telah mampu membawa panti asuhan Ummul Ayman menjadi sebuah lembaga sosial pendidikan yang optimal dan dikagumi oleh banyak kalangan.
Ummul Ayman, yang dulu asramanya berkontruksi kayu dan dihuni oleh anak-anak terlantar, kini menjelma menjadi sebuah lembaga pendidikan semi terpadu yang kualitas santrinya mendapat prestasi puncak dan mampu beradaptasi dengan pendidikan formal lain.
Semi terpadu adalah istilah yang diberikan oleh Waled sendiri karena metode pendidikan di Ummul Ayman berbeda dengan pesantren-pesantren terpadu. Ummul Ayman masih mempertahankan metode dan target kurikulum Dayah salafiah dengan cara menyelaraskan pendidikan sekolah dan Dayah namun prioritasnya adalah Dayah.
Asrama penginapan dan tempat belajar masih dipertahankan nilai-nilai Dayah layaknya, seperti masih ada balai-balai tempat belajar ngaji dan busana santri pun masih berkain sarung dan berpeci. Nilai-nilai klasikal tersebut terus dipertahankan agar Ummul Ayman memiliki ciri khas tersendiri.
Karena untuk suatu perkembangan dan pembaharuan tidak mesti menghilangkan nilai-nilai yang sudah ada hanya saya butuh penyesuaian. Dalam hal ini, ungkapan yang pengandung nilai prinsipil, “menyekolahkan santri bukan menyantrikan siswa” kerap diucap oleh Waled.
Pasca Aceh dilanda tsunami, Desember 2004, banyak anak-anak korban tsunami tamatan SD (Sekolah Dasar) ditampung dan diberi pelayanan di Ummul Ayman. Mula-mula, dari desa-desa pesisir Samalanga anak-anak yatim perempuan diantar ke Ummmul Ayman, padahal waktu itu belum tersedia asrama putri di komplek, maka terpaksa santriwati yang berjumlah 40 orang ditampung di rumah Waled, dua kamar tidur dijadikan asrama sekaligus tempat belajar mereka.
Masyarakat yang mengetahui di Ummul Ayman sudah menerima santriwati, berduyun-duyun menitipkan anak mereka, sebab itu sudah dinanti-nantikan oleh masyarakat.
Setelah setahun mereka menginap di rumah Waled, jumlah mereka sudah bertambah mencapai 80 orang dan itu jumlah yang tidak mungkin ditampung di dua kamar rumah. Dalam kondisi serba darurat seperti itu, Waled NU yang berjiwa kreatif dan inovatif, membeli lahan seluas 3 hektare di sebelah selatan komplek putra. Dalam waktu dua tahun, Sampai 2007 jumlah santriwati yang masih anak-anak sudah mencapai 100 orang.
Selain anak korban tsunami, anak-anak non yatim pun diterima di Dayah tersebut dengan ketentuan membayar biaya makan bulanan agar bisa membantu biaya konsumsi bagi anak-anak yatim. Kurikulum yang diterapkan di Dayah Ummul Ayman putri, sama seperti di Ummul Ayman putra dan Dayah Salafiah lainnya.
Begitu juga dengan kuriklum Sekolah Menengah Pertama (SMP) sama seperti sekolah negeri sehingga dengan sebab itu, Ummul Ayman baik putra maupun putri menjadi pilihan bagi orang tua yang ingin anaknya mondok di lembaga pendidikan yang ada pesantren dan sekolah.
Waled adalah sosok bertubuh tinggi tegap, jenggot lebat yang kian memutih menggambarkan sosok wibawa terpancar dari rautnya. Rambut lurus mulai beruban melukiskan kejernihan di pikirannya. Sorot mata yang tajam menerkam perasaan bagi siapa yang menatapnya dan nada bicara beliau terkesan vokal namun lembut dan santun.
Secara kasat mata, Waled nampak keras dan seram. Namun, siapa menduga, di balik suaranya yang memekik dan jenggotnya yang lebat bak sarang lebah bergantung di dahan, tersimpan kelembutan yang luar biasa dan manisnya ilmu yang diteguk oleh sekian banyak murid-murid beliau dan masyarakat.
Waled menerapkan sikap kewiraswastaan dalam mendidik para santri. Beliau sering bersama-sama anak yatim bergotong royong di sawah dan di Dayah. Sampai di usia menjelang 60 tahun, Waled masih sanggup mengontrol pembangunan di Dayah.
Menurut beliau, seorang pimpinan jangan mutlak menyerahkan setiap urusan kepada bawahan. Dengan kata lain, pimpinan harus tahu persis apa yang dikerjakan bawahan. Karena itu, selain memimpin Dayah, beliau juga ikut berpartisipasi dalam setiap urusan internal Dayah. Tidak ada satu kebijakan pun yang diambil oleh dewan guru terlepas dari rekomendasi beliau.
Di samping itu, Waled NU juga menonjolkan sifat khidmah. Di bulan Ramadhan, menjelang buka puasa, Waled sudah bersimpuh di balai mushalla yang masih berkontruksi kayu. Setiap ada santri yang lewat dipanggil untuk berbuka puasa bersama.
Dalam menyapa anak didik, Waled sering menggunakan bahasa Arab atau bahasa Indonesia sebagai upaya menumbuhkan semangat berkomunikasi dengan bahasa resmi nasional dan dunia. Wajar saja karena di pesantren beliau diterapkan berbahasa Arab, Inggris dan Indonesia. Bahkan pembelajarannya termasuk dalam ekstrakurikuler, menjadi ciri khas pendidikan di Ummul Ayman.
Berawal pada 1976 sampai sekarang, Waled NU sering diundang masyarakat untuk berceramah dalam perayaan hari besar Islam. Dalam menyampaikan ceramah, Waled memiliki gaya tersendiri yaitu suara yang nyaring menggelegar, ekspresif, serta berpenampilan layaknya orang kharismatik.
Dengan cara itu, beliau mampu menarik perhatian para pendengar. Sehingga nama Waled NU cukup dikenal di lapisan masyarakat bawah dan komunitas intelektual karena sering juga menjadi pemateri dalam forum diskusi dan seminar.
Sampai sekarang Waled intens berpikir untuk kemajuan pendidikan agama. Hal itu beliau relisasikan dengan cara menambah kurikulum serta mengembangkan aspek keterampilan sebagai life skill bagi anak didik di Dayah Ummul Ayman.
Dalam setiap kesempatan, apakah itu mimbar khutbah, pengajian atau forum resmi lainnya, Waled selalu menuangkan gagasan mengenai kualitas pendidikan di Aceh. Selain pimpinan Dayah, Waled tidak pernah ketinggalan dalam setiap kegiatan kemasyarakatan seperti memimpin pengajian massal di desa-desa, menjadi imam dan khatib Mesjid Raya Samalanga.
Beliau berdedikasi tinggi dalam sosial kemasyarakatan pada lapisan bawah, mulai dari lingkup desa sampai kecamatan. Sering bila ada permasalahan yang muncul di tengah masyarakat sekitar, diharapkan keterlibatan Waled untuk rekonsiliasi/ishlah. Hal itu terihat dari rumah beliau yang tidak pernah sepi dari kunjungan masyarakat dengan beragam keperluan menjumpai sang tokoh dan panutan. Dengan mudah nasyarakat bisa menjumpai beliau karena tidak harus menempuh prosedur protokoler atau ajudan.
Untuk melayani masyarakat, Waled sering menggunakan teras rumah sederhana yang dilengkapi meja kecil dan beberapa kursi plastik. Di sanalah Waled sering menjamu tamu-tamu penting dari dalam dan luar negeri untuk bertemu ramah dengan beliau. Dalam mengkondisikan tamu yang berkunjung, Waled sering menyuguhkan kesederhanaan dan apa adanya. Cara seperti ini telah mampu menciptakan kekaguman dalam hati sang tamu dan menjalin keakraban dengan beliau.
Selain berperan sebagai pimpinan Dayah Salafiyah dan panti asuhan, Waled juga terlibat dalam beberapa organisasi masyarakat (ormas), baik daerah maupun nasional. Waled pernah menjadi Rais Syuriah PWNU Aceh tahun 1970. Ketua Tanfidziah PWNU Nanggroe Aceh Darussalam (PWNU NAD) tahun 1995. Ketua dua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) tahun 1999, dan menjadi anggota Dewan Paripurna Ulama (DPU) NAD tahun 2006. Dalam forum akademik khususnya pendidikan agama, beliu dikenal sebagai konseptor yang idealis sehingga banyak terlibat dalam berbagai seminar selaku pemateri.
Bila ditoleh dari latar belakang pendidikan, beliau bukanlah lulusan Universitas dengan menyandang titel tertentu, akan tetapi beliau mantan santri Dayah Ma'hadul Ulum Diniyah Islamiah (MUDI) Samalanga, Dayah yang telah banyak melahirkan tokoh ulama Aceh dalam kepemimpinan Alm Tengku H. Abdul Aziz (Abon Samalangan), seperti Tengku Ibrahim Bardan (Abu Panton), Tengku Daud Lueng Angen (Abu Lhok Nibong), Tengku H. Kasem TB, Tengku H. Usman Kuta Krueng (Abu Kuta Krueng) dan banyak lagi alumni lain yang sekarang ada beberapa diantara mereka menempati birokrasi pemerintahan seperti Tengku H. Gazali Syam.
Berkat konsistensi beliau di dunia pesantren dan melibatkan diri dalam berbagai organisasi, Waled telah mampu beradaptasi dengan lingkungan akademis dan politikus walau dalam kapasitas tertentu. Tokoh ulama yang satu ini punya andil besar dalam perkembangan pendidikan formal dan informal di Aceh dengan mengedepankan kepekaan sosial yang tinggi terhadap kelangsungan pendidikan anak-anak yatim korban konflik dan tsunami.
Seiring waktu berjalan, pada tahun 1999 dimana Aceh berkesempatan bangkit dari mimpi buruk yang sudah sekian lama mencengkeram, aksi-aksi masyarakat muncul di mana mana, menjamurnya organisasi dan komunitas masyarakat baik itu pelajar maupun masyarakat biasa.
Ketika mahasiswa meneriakkan slogan referendum disertai dengan pergerakan massal yang luar biasa, tokoh-tokoh kontra publik Aceh mengunci rumah-rumah mereka dan bersembunyi dari mata massa yang dalam kepanasan, tapi Waled NU tampil di atas pentas orasi di halaman Mesjid Agung Baiturrahman, disaksikan oleh ribuan mata masyarakat yang berdatangan dari segala penjuru Aceh.
Seorang tokoh ulama berpenampilan kain sarung, bukan jas safari yang berdasi, dengan polos berorasi menyuarakan kata hati masyarakat. Itu dilakukan bukan atas kepentingan suatu lembaga apalagi untuk mempertahankan jabatan yang tak pernah disemat atasan dan diancam oleh bawahan, seperti sikap beberapa tokoh Aceh waktu itu.
Pada 15 September 2002, Waled NU mendapat undangan dari Institute Training and Development Amerika serikat (ITD. USA), untuk mengikuti pelatihan Leader Standart Akademi Internasional selama 20 hari yang difasilitasi oleh sebuah lembaga sosial dan Waled memperoleh sertifikat dari ITD.
Dalam training selama 20 hari, menghasilkan beberapa poin hasil studi antara lain, untuk mengoptimalkan metode pendidikan perlu ada perumusan materi pokok dan mensosialisasi meteri yang sifatnya universal, agar peserta didik menguasai materi-materi ilmu pengetahuan di Universitas luar negeri dan akan memudahkan generasi ke depan dalam beradaptasi dengan pendidikan di sana.
Dalam studi tersebut, Waled beserta anggota tim lainnya sempat berkunjung ke beberapa tempat pendidikan di negeri Paman Sam yang terkenal itu. Dari amatan beliau, pola pendidikan agama kususnya agama Islam di Amerika tidak jauh bedanya dengan di Indonesia. Yaitu dengan cara mengasramakan para pelajar dan mempunyai jenjang pendidikan. Hanya saja di sana tidak ada pesantren yang tulen ataupun salafiah, maklum ummat muslim di Amerika termasuk dalam kelompok minoritas dan komunitas Muslim lebih banyak berasal dari imigran Timur Tengah.
Waled sangat mendukung seandainya kaum santri atau masyarakat agamis yang sekarang terkesan termarjinal dari kebebasan politik untuk bangkit dan berkiprah dalam politik praktis seperti pembentukan partai politik lokal. Dalam hal ini, menurut beliau ada beberapa hal yang harus ditempuh demi suksesnya rencana ini. Antara lain menyiapkan sumber daya manusia (SDM) kaum santri untuk berkiprah dalam partai agar mereka yang nanti membawa aspirasi jangan dikalahkan dalam kompetisi argumen politik di ruang sidang.
Di samping itu juga mereka harus diperkokoh pemahaman tentang lembaga yang mengantar mereka ke arena politik supaya partai tersebut menjadi partai yang aspiratif. Bahkan beliau sendiri bersedia untuk membina mereka dalam hal ini. Menurut beliau, sebenarnya dalam komunitas santri banyak sekali SDM yang berkompeten di bidang politik namun potensi tersebut tidak ada yang mengorbit dan menginfentarisir.
Kaum santri dan ulama sudah saatnya untuk membuka diri dan berkiprah dalam kancah politik. Tidak perlu merasa takut pada ancaman-ancaman politik yang belum pasti ada. Sebab negara kita negara demokrasi, kalau masih ada pihak yang mengancam keberadaan partai berbasis santri, beliau menilai bahwa pihak tersebut belum dewasa dalam berpolitik dan masih ada sistem perbudakan politik atau politik “belah bambu”.
Wacana itu perlu secepatnya direalisasikan dalam momentum reformasi dan demokrasi. Partai yang dimaksud adalah seperti PKNU (Partai Kebangkitan Nahdlatul Ulama) yang dimotori oleh NU (Nahdlatul Ulama). Dengan kata lain, partai yang dimaksudkan Waled bukan partai RTA (Rabithah Taliban Aceh) dan HUDA (Himpunan Ulama Dayah Aceh), tapi satu lembaga lain yang dibentuk untuk partai lokal yang berbasis RTA dan HUDA dan menjadi penyalur aspirasi ulama dan kaum santri serta masyarakat umum.
Dalam memperkokoh sebuah organisasi, Waled berpendapat bahwa pentingnya kegiatan silaturahmi atau pertemuan formal seperti melaksanakan rapat evaluasi dan sebagainya. Sebagai salah seorang pengurus organisasi Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), beliau bercita-cita lembaga ini menjadi lembaga besar dan berpengaruh yang akan menjadi panutan bagi organisasi lain.
Untuk organisasi santri, Rabithah Taliban Aceh (RTA) beliau menyarankan perlu ditingkatkan sosialisasi dengan cara membuat kegiatan seperti mengadakan pertemuan dengan santri-santri di Dayah. Dalam hal ini RTA harus siap menerima berbagai reaksi dari santri. Untuk mendukung ekonomi satu lembaga seperti RTA perlu adanya satu kopererasi namun jangan seperti kata orang “koperasi, gop rasi” koperasi yang menguntungkan cuma pimpinannya karena kurangnya transparansi kepada bawahan.
Perkembangan Dayah bisa saja dipengaruhi oleh fenomena sosial sehingga Dayah rentan mengalami kemunduran. Dayah dan sistem pengelolaannya pada zaman dahulu dengan sekarang sangat jauh berbeda. Kalau dulu, pimpinan Dayah memfokuskan waktu untuk mengajar para guru dan aktif mengayomi anak didik.
Dalam hal pembangunan, santri menyediakannya sendiri, seperti bilik dan fasilitas lain. Santri yang mondok cuma meminta izin dari pimpinan untuk mendirikan bilik, dan bilik tersebut menjadi milik Dayah kalau santri sudah pindah atau tidak lagi mendiaminya. Rasa memiliki akan Dayah sangat ditanam dalam jiwa santri sehingga kepekaan pun tumbuh. Cara pelayanan seperti ini akan memudahkan seorang pimpinan untuk mengajar tanpa dibebani oleh persoalan pembangunan.
Perbedaan yang nampak ke permukaan sekarang adalah, pimpinan Dayah yang kapasitasnya adalah pengajar dan pengayom santri namun sekaligus menjadi pemikir pembangunan. Ketika seorang pimpinan Dayah dihadapkan pada persoalan pembangunan terpaksa harus menyisakan waktu di luar Dayah untuk menggalang dana pembangunan.
Hal ini menggambarkan betapa prioritas Dayah sekarang ini pada bangunan fisik untuk menarik perhatian dan “mengundang” santri. Apabila pimpinan sudah tidak aktif mengajar para guru maka guru pun terpaksa pamit dan santri berangsur menyusut. Ini salah satu penyebab kemunduran Dayah di Aceh khususnya. (*)
*) Sumber: YPI Ummul Ayman II Pidie Jaya
Editor : S. Anwar