Di saat Kopi Kenangan berlomba buka 1.000 gerai dengan investor ratusan miliar, Andanu Prasetyo justru menolak semua tawaran franchise. Banyak yang bilang dia sedang bunuh bisnisnya sendiri.
Sembilan tahun kemudian, Kopi Tuku ada di Seoul dan Amsterdam (Belanda). Tanpa satu pun mitra waralaba.
Industri Kopi Indonesia 2015-2019
Kopi Tuku berdiri pada Juni 2015 di Cipete, Jakarta Selatan. Sejak awal, Andanu Prasetyo menerapkan konsep "local neighborhood coffee shop" fokus melayani komunitas sekitar dan meningkatkan konsumsi kopi lokal.
Di tahun yang sama, industri kopi lokal sedang meledak. Kopi Kenangan lahir pada tahun 2017 dan langsung kejar ratusan gerai. Janji franchise bertebaran di mana-mana. Uang investor mengalir deras ke siapa saja yang mau ekspansi cepat. Semua orang berlomba jadi yang terbesar. Andanu memilih jadi yang paling konsisten.
Keputusan yang Bikin Semua Orang Bertanya
Pertanyaan itu terus datang. Di setiap talkshow, setiap wawancara. Kapan Kopi Tuku buka franchise?
Andanu Prasetyo akhirnya menjawab langsung di talkshow How To Start Business For Young Entrepreneur.
"Alasan pertamanya dari aku pribadi, karena mungkin aku belum punya alasan kenapa aku harus mendapatkan dana sebesar itu."
Bukan karena tidak ada yang mau investasi. Bukan karena tidak ada tawaran. Tapi karena Andanu Prasetyo tidak mau mengambil uang yang tidak punya alasan kuat untuk dia terima. Di era semua orang bakar uang investor, ini terdengar seperti keputusan paling tidak masuk akal.
Apa yang Andanu Lihat yang Orang Lain Tidak Lihat
Andanu Prasetyo tidak sedang membangun jaringan kedai kopi. Dia sedang membangun sebuah perasaan.
Andanu Prasetyo percaya bahwa esensi Kopi Tuku tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada value dan experience yang diberikan kepada pelanggan. Sistem franchise berisiko menghilangkan konsistensi itu.
Dia sadar satu hal yang tidak bisa di-franchise : kehangatan. Filosofi "kopi tetangga" hanya bisa dijalankan kalau setiap gerai dikontrol langsung oleh orang yang benar-benar percaya pada filosofi itu.
Integritas Merek Lebih Mahal dari Kecepatan Ekspansi
Berbeda dengan strategi ekspansi agresif yang dianut beberapa pesaingnya, Tuku memilih jalur pertumbuhan yang lebih terukur dan hati-hati. Andanu Prasetyo berkomitmen untuk mempertahankan kendali penuh atas bisnisnya. Pendekatan ini memungkinkan Tuku untuk menjaga standar kualitas, konsistensi rasa, dan filosofi kopi tetangga di setiap gerainya.
Ini bukan keputusan yang nyaman. Pertumbuhan lambat artinya pendapatan lebih lambat. Artinya pasar dikuasai kompetitor lebih dulu. Artinya banyak yang meragukan. Tapi Andanu Prasetyo punya keyakinan yang tidak bisa digoyahkan : brand yang dibangun dengan benar tidak perlu terburu-buru.
Bukti Pertama : Konsistensi yang Tidak Bisa Dibohongi
Ketika Kopi Tuku membuka pop-up store di Seoul, YouTuber Korea Selatan Jang Hansol yang pernah tinggal di Indonesia mencicipi langsung dan membandingkan rasanya. Ia mengakui rasa Tuku di Korea dengan Indonesia sama persis. Itu bukan kebetulan. Itu hasil dari sembilan tahun menolak franchise dan mempertahankan kontrol penuh di setiap gerai.
Meski tanpa sistem franchise, Kopi Tuku sukses membuka lebih dari 60 gerai dengan strategi fokus pada takeaway, mampu menjual lebih dari 800 cup per hari di tiap gerainya.
Lambat tapi konsisten ternyata menghasilkan sesuatu yang lebih sulit dibangun: kepercayaan
Hasilnya : Dari Cipete ke Seoul dan Amsterdam
Pada Amsterdam Coffee Festival 2024, Kopi Tuku hadir untuk kedua kalinya. Andanu menyatakan: "Kunjungan yang kami dapat di Amsterdam telah membuktikan bahwa Tetangga Blend kita dan gula aren memiliki tempat tersendiri bagi konsumen kopi internasional."
Pada tahun 2024, Kopi Tuku membuka kedai pop-up di Gangnam, Seoul, Korea Selatan dari 25 Maret hingga 10 Mei 2024. Tujuannya untuk mengeksplorasi potensi pasar internasional sekaligus memperkenalkan budaya kopi Indonesia. Dari satu gerai kecil di depan Toodz House Cipete, tanpa satu pun mitra waralaba, Kopi Tuku kini membuktikan kopi Indonesia punya tempat di kota-kota kelas dunia.
Insightnya?
Andanu Prasetyo tidak menolak franchise karena tidak butuh bang. Dia menolak karena tahu satu hal yang tidak semua founder sadari: kecepatan ekspansi yang melampaui kemampuan kontrol kualitas adalah awal dari kehancuran brand.
Satu hal yang bisa kamu terapkan hari ini: Sebelum ekspansi, tanya satu pertanyaan ini, apakah kamu sudah punya sistem yang cukup kuat untuk menjaga kualitas di setiap titik baru yang kamu buka?
Editor : S. Anwar