Gempa Pacitan, Gedung Madrasah dan Puluhan Rumah Rusak

Reporter : Redaksi
Kerusakan akibat gempa di Pacitan

Wilayah Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, diguncang gempa tektonik Magnitudo 6,2 pada Jumat (06/02/2026) sekitar pukul 01.06 WIB. Gempa Pacitan tersebut menimbulkan susulan sebanyak 16 kali.

Meski tidak mengarah munculnya bencana geologi dan tsunami, namun sedikitnya terdapat 5 rumah warga dan gedung madrasah mengalami kerusakan akibat gempa Pacitan.

Baca juga: Gempa Bumi Tektonik M5,5 di Selatan Jawa Barat

Kerusakan bangunan terdampak gempa bumi Pacitan, tersebar di sejumlah desa yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Pacitan, Pringkuku dan Arjosari. Sedangkan kerusakan menjangkau beberapa sisi bangunan rumah dan sekolahan, meliputi atap, plafon, dinding, teras dan bagian lainnya. 

Para korban yang umumnya tengah beristirahat saat bencana tiba dan mengakibatkan tempat tinggalnya berantakan masing-masing, Agus, warga Lingkungan Gantung, Kelurahan/Kecamatan Pacitan ; Marno, warga Lingkungan Kebon, Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan ; Juminto, warga Lingkungan Temon, Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan.

Kemudian rumah milik Lilik, warga Desa Menadi, Kecamatan Pacitan ; Suwito, warga Desa Taman Asri, Kecamatan Pringkuku, dan gedung Madrasah Ibtidaiyah yang berada di Desa Weru, Kecamatan Arjosari. Kondisi bangunan terdampak pada umumnya memiliki tingkat kerusakan ringan hingga sedang.

Meski tempat tinggalnya mengalami kerusakan, menurut salah seorang relawan setempat, Didin, para penghuni tidak diungsikan petugas atau berinisiatif mengungsi. 

"Sejauh ini tidak ada korban yang diungsikan atau mengungsi sendiri, Mas," kata Didin kepada koresponden, pada Jumat (06/02/2026).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, Erwin Andriatmoko menyebutkan, bencana alam gempa bumi merupakan peristiwa alam yang hingga kini sulit diprediksi. Guncangan gempa Pacitan saat ini, menurutnya, sangat terasa karena berada di dasar laut yang dangkal.

Dia merinci, pergerakan atau pergeseran lempengan bumi berada di laut dengan jarak 89 kilometer arah tenggara Kota Pacitan. Sedangkan titik episentrumnya berada pada kedalaman 58 kilometer. Meski begitu, jelasnya, gempa itu tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

"Gempa bumi ini berada pada jarak 89 kilometer arah tenggara Kota Pacitan. Dengan kedalam 58 kilometer. Gempa itu sangat dangkal makanya guncangannya sangat bisa dirasakan. Dimungkinkan adanya gempa susulan sebanyak enam belas kali. Meski begitu peristiwa ini tidak menimbulkan tsunami," terang Erwin Andriatmoko dalam video siaran pers.

Karena gempa merupakan bencana yang sulit diprediksi sebelumnya, pinta Erwin, para korban terdampak diminta segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Hal itu, sambungnya, guna mempercepat dan memperlancar penanganan para korban yang dilakukan para petugas.

Dia menghimbau, agar untuk sementara waktu masyarakat luas menjauh dan tidak melakukan aktivitas di pinggir pantai di seluruh area Pacitan. Seluruh masyarakat, menurutnya, akan lebih baik meningkatkan kewaspadaan pribadi, keluarga dan warga sekitarnya guna meminimalisir kerugian. 

Terkait itu, Koordinator Pos BASARNAS Trenggalek, Bayu Prasetyo, mengaku sewaktu-waktu siap bergerak ke lokasi untuk melakukan pertolongan dan penyelamatan manakala diperlukan setelah gempa Pacitan. 

"Karena tidak ada korban jiwa, untuk sementara kami standby di pos. Tapi sewaktu-waktu kami siap bergerak kesana manakala diperlukan. Sementara penanganan dihandle BPBD Pacitan," ujarnya. (fin)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru