Hubungan suatu negara bisa rusak jika terjadi insiden-insiden yang tak diinginkan. Hal ini terjadi pada Thailand dan Arab Saudi akibat pencurian sejumlah perhiasan. Meski terungkap, perhiasan-perhiasan ini sudah tersebar kemana-mana dan dianggap melibatkan banyak petinggi-petinggi di Thailand.
Raibnya Permata di Rumah Pangeran Saudi
Baca juga: Skandal Amerika Serikat dan Arab Saudi
Kisah dimulai pada tahun 1989 di kediaman Pangeran Faisal bin Fahd yang merupakan putra dari Raja Saudi saat itu Raja Fahd. Seperti Pangeran Saudi lainnya, Pangeran Faisal juga memiliki harta berlimpah seperti berlian dan perhiasaan lainnya yang ia geletakan di kamarnya tanpa disimpan di tempat yang aman.
Hingga akhirnya Pangeran Faisal kecolongan, dimana perhiasan-perhiasan berharganya dengan total 20 juta USD hilang, termasuk berlian biru 50 karat kesayangannya. Pencurian terjadi ketika Pangeran Faisal sedang ada di luar Riyadh. Dan di hari yang sama dengan menghilang juga seorang ART (Asisten Rumah Tangga) yang biasa ditugaskan membereskan kamar sang pangeran, pria asal Thailand bernama Kriangkai Techamong.
Modus dan Tertangkapnya Pelaku
Selidik punya selidik, Techamonglah rupanya pelaku pencurian itu.
Memanfaatkan keadaan dimana Pangeran Faisal sedang pergi, Techamong bersembunyi hingga malam sebelum menyelinap masuk kamar pangeran, memasuk perhiasan kedalam karung, melempar keluar istana dan kemudian kabur.
Techamong membawa perhiasan-perhiasan itu kembali ke Thailand, tepatnya ke Lampang dan menjual perhiasan-perhiasan yang beberapa sudah dicacah ke toko-toko emas termasuk milik Santi Srithanakan dengan harga dibawah harga aslinya.
Singkat kata, Polisi Thailand berhasil menciduk Techamong setahun setelah pencurian dan mengakui pencurian. la mau bekerja sama dengan memberi tahu kemana ia menjual perhiasan-perhiasan itu dan mengembalikan perhiasan yang belum ia jual.
Digarong oleh Para Pejabat Thailand?
Techamong, karena sudah mau mengaku akhirnya dijatuhi hukuman 7 tahun penjara. Namun dibebaskan hanya setelah 3 tahun karena kelakuan baik. la beruntung tak diekstradi ke Saudi karena sudah pasti ia akan dipenggal.
Permata-permata juga dikembalikan, happy ending !!! Atau setidaknya begitu karena pihak Saudi protes karena perhiasan yang dikembalikan temyata tidak lengkap atau ditukar dengan berlian palsu termasuk berlian biru kesayangan Pangeran Faisal.
Pihak Saudi menuding, Polisi atau para pejabat Thailand sudah mencuri perhiasan-perhiasan ini. Tudingan muncul karena adanya foto-foto dari sebuah pesta amal yang dihadiri oleh para pejabat dan perwira tinggi kepolisian Thailand di Bangkok dimana para istri menggunakan perhiasan yang diduga dicuri.
Kambing Hitam Kepala Polisi
Baca juga: Pernyataan Enam Negara Arab Atas Serangan Iran di Teluk
Mungkin merasa tak terima di kambing hitamkan dan ditekan sana-sini, Letjen Chalor Kerdthes yang menjadi pemimpin investigasi kasus ini kemudian melakukan penculikan terhadap anak dan istri dari pemilik toko perhiasan yang dianggap sebagai penadah utama, yakni Santhi Sithanakan agar memaksanya untuk mengaku bahwa ialah yang menukar berlian asli dengan yang palsu.
Namun, yang terjadi kemudian istri dan anak Santhi malah dihabisi oleh Chalor. Chalor kemudian diciduk dan dijatuhi hukuman mati. Namun hukumannya dikorting menjadi 50 tahun dan hanya mendekam di penjara selama 19 tahun
Tidak percaya dengan pihak Thailand, pihak Arab Saudi mengirimkan beberapa orang untuk menyelidiki secara independen. Muhammad Al-Ruwaili seorang pengusaha dikirim untuk menyelidiki secara langsung. Namun, apa yang terjadi kemudian ia menghilang tanpa jejak dan kemungkinan sudah dihabisi.
Selain Al-Ruwaili, ada tiga diplomat Saudi yang dikirim ke Bangkok. Namun pada 1 Februari 1990, jasad mereka ditemukan di Distrik Yan Nawa, Bangkok. Tudingan Pemerintah Arab Saudi pada Thailand semakin bertambah karena dianggap tidak serius menyelesaikan misteri hilangnya Al-Ruwaili dan tewasnya 3 diplomat Saudi.
Meski ada beberapa yang ditangkap namun tak lama dibebaskan karena tak ada bukti.
Renggangnya Hubungan Thailand-Saudi
Rangkaian peristiwa yang terangkum sebagai "Blue Diamond Affair" ini akhirnya merusak hubungan antara Thailand dan Arab Saudi dimana para pekerja Thailand dilarang untuk bekerja di Saudi dan yang sedang bekerja dipulangkan paksa.
Baca juga: Cara Asik Menikmati 48 Jam di Jeddah
Beberapa kerjasama strategis juga dibatalkan. Namun, pada tahun 2022, Perdana Menteri Thailand, Prayud "Lung Tuu" Chan-o-cha mengunjungi Arab Saudi dan bertemu dengan Pangeran Muhammad Bin Salman dimana diperkirakan ada usaha untuk memulihkan hubungan yang sudah rusak.
Perbaikan hubungan ditandai dengan salah satunya maskapai penerbangan Arab Saudi, Saudi Airlines yang membuka rute penerbangan langsung ke Bangkok.
Nasib Techamong
Sementara bagi Techamong, setelah bebas dari penjara, ia mencoba memperbaiki segala kesalahannya, terutama karena telah membuat dua negara jadi susah dan renggang serta sampai memakan korban jiwa dengan menjadi biksu. Namun, ia kemudian berhenti dan kembali ke desanya untuk bekerja menjadi petani.
Sampai kini, keberadaan berlian-berlian ini masih misterius, termasuk berlian biru yang menjadi pusat dari skandal ini. Ada keyakinan berlian-berlian ini tetap kini berada ditangan pejabat-pejabat Thailand. (*)
*) Source : Inspechistory
Editor : Bambang Harianto