Aljazair dan Oman Jadikan Arzew Motor Pertumbuhan Urea dan Amonia

Reporter : Redaksi
Algerian-Omani Fertilizer Company

Kemitraan yang ditandatangani pada tahun 2008 kini memasuki babak baru, dan momentumnya sangatlah penting. Sonatrach dan Suhail Bahwan Holding asal Oman telah memberikan lampu hijau untuk melanjutkan ekspansi Algerian-Omani Fertilizer Company (AOA) di Arzew, beralih dari tahap diskusi teknis dan komersial yang telah berlangsung bertahun-tahun menuju tahap implementasi.

Rencananya sederhana namun signifikan, penambahan lini produksi baru yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas amonia dan urea di kompleks tersebut sebesar 50%.

Baca juga: Pasar Pupuk Global Mengalami Penyesuaian Ulang

Algerian-Omani Fertilizer Company didirikan dengan komposisi kepemilikan 51 persen oleh Sonatrach dan 49 persen oleh Suhail Bahwan Holding. Sejak tahun 2017, kompleks Arzew telah beroperasi dengan dua unit amonia dan dua unit granulasi urea, yang menghasilkan sekitar 4.000 ton amonia per hari dan 7.000 ton urea granul (kadar 46%) per hari.

Secara tahunan, konfigurasi yang ada saat ini mencerminkan kapasitas produksi sekitar 2,8 juta ton amonia dan 4,8 juta ton urea. Namun, angka yang lebih menunjukkan signifikansi proyek ini adalah ke mana urea tersebut disalurkan: lebih dari 90% diekspor ke pasar internasional.

Hal ini menjadikan ekspansi tersebut lebih dari sekadar proyek industri domestik. Ini merupakan langkah strategis yang mengandalkan kemampuan Aljazair untuk mengubah sumber daya gasnya menjadi produk kimia bernilai lebih tinggi serta meraih posisi yang lebih besar dalam perdagangan pupuk global.

Kondisi pasar membuat keputusan ini menjadi semakin menarik.

Pada bulan Juli 2026, Aljazair menjadi pemasok amonia terbesar bagi Norwegia, dengan mengirimkan 25.000 ton dari total impor Norwegia yang sebesar 53.000 ton—mengungguli tipis Amerika Serikat yang mencatatkan angka 23.000 ton. Di seluruh pasar Eropa, Aljazair dilaporkan menguasai sekitar 30% pasokan amonia, dengan volume pengiriman ke Eropa mencapai sekitar 800.000 ton.

Dengan demikian, ekspansi di Arzew ini hadir pada saat amonia asal Aljazair tengah mendapatkan momentum komersial yang kuat di Eropa. Namun, ada aspek lain dalam cerita ini.

Baca juga: Tren Perdagangan Pupuk China pada Juli 2026

Peraturan lingkungan hidup Eropa yang semakin ketat serta penerapan bertahap Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) mengubah definisi daya saing. Volume produksi semata tidaklah cukup; intensitas karbon di balik volume tersebut akan menjadi faktor yang semakin krusial. Di sinilah strategi jangka panjang Aljazair mulai terlihat jelas.

Gas memberikan negara ini basis industri yang mapan. Kedekatan geografis memberinya keunggulan logistik untuk menjangkau pasar Eropa. Sumber daya tenaga surya membuka peluang jalur lain melalui hidrogen hijau dan, pada akhirnya, amonia hijau.

Proyek percontohan Sonatrach bersama perusahaan Jerman, VNG—yang ditargetkan mulai berproduksi pada tahun 2027—mengarah pada tahapan berikutnya tersebut.

Oleh karena itu, ekspansi di Arzew mencerminkan gambaran yang lebih luas daripada sekadar peningkatan kapasitas sebesar 50%.

Baca juga: 850 ribu Ton Urea Tertahan di Kawasan Teluk karena Akses Selat Hormuz

Saat ini, Aljazair sedang meningkatkan produksi amonia dan urea sembari memosisikan diri untuk pasar masa depan; pasar di mana nilai produk-produk tersebut tidak lagi hanya bergantung pada besaran volume produksi, melainkan juga pada tingkat efisiensi dan kebersihan proses produksinya.

Tantangan pertama adalah menjadi pemasok utama.

Tantangan berikutnya adalah mempertahankan posisi sebagai pemasok utama ketika faktor karbon mulai diperhitungkan dalam penentuan harga. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru