850 ribu Ton Urea Tertahan di Kawasan Teluk karena Akses Selat Hormuz

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Distribusi urea di Selat Hormuz
Distribusi urea di Selat Hormuz
grosir-buah-surabaya

Pasar pupuk di kawasan Teluk menghadapi masalah yang tidak banyak berkaitan dengan kemampuan produsen memproduksi urea, melainkan sepenuhnya bergantung pada kemampuan mereka untuk mendistribusikannya ke luar wilayah tersebut.

Dengan tertutupnya Selat Hormuz, produsen di seluruh kawasan Teluk memang bisa terus memproduksi urea, namun jalur maritim utama yang menghubungkan hasil produksi mereka dengan pembeli internasional mengalami gangguan parah. Di sinilah masalah logistik mulai berubah menjadi masalah pasokan.

Menjelang pertengahan Juli 2026, dilaporkan sekitar 850 ribu ton urea tertahan di berbagai lokasi di Iran dan kawasan Teluk. Pada tahap awal gangguan, diperkirakan 55 persen sampai 60 persen produksi urea Timur Tengah terdampak. Kini, tekanan beralih ke tahap berikutnya: penyimpanan.

Setiap kapal yang gagal tiba menyebabkan tertahannya muatan lain. Setiap muatan yang tertahan memakan kapasitas penyimpanan. Dan begitu ruang penyimpanan mulai penuh, produsen yang sebenarnya masih mampu beroperasi dengan tingkat produksi tinggi tiba-tiba harus menjawab pertanyaan yang sangat sulit:

Ke mana ton berikutnya akan disalurkan?

Arab Saudi dan Oman memiliki opsi logistik alternatif, namun Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain jauh lebih bergantung pada Selat Hormuz. Arab Saudi telah mulai menggunakan rute alternatif. Ma’aden dilaporkan mengerahkan sekitar 3.500 truk, sementara SABIC menggunakan sekitar 1.300 truk, untuk mengangkut muatan urea seberat 25.000 ton.

Hampir 4.800 pergerakan truk untuk mengangkut 25.000 ton.

Ini adalah upaya logistik yang luar biasa—sekaligus pengingat yang sama kuatnya bahwa ribuan truk tidak dapat menggantikan peran koridor pelayaran internasional utama.

Laut Merah pun tidak menawarkan jalan keluar yang sederhana. Risiko keamanan masih ada, sehingga rute alternatif menjadi lebih mahal, lebih lambat, dan kurang dapat diprediksi.

Jika gangguan ini berlanjut selama 1 sampai 3 bulan, pasar pupuk bisa menghadapi reaksi berantai yang sangat berbeda : ekspor melambat, inventaris menumpuk, ruang penyimpanan penuh, tingkat produksi menurun, ketersediaan global menipis, serta harga urea dan amonia mengalami tekanan kenaikan.

Dan dampaknya tidak berhenti pada produk nitrogen saja.

Pasokan belerang (sulfur) tetap terbatas, sementara ketersediaan dan harga amonia turut menambah tekanan pada produksi fosfat. Akibatnya, dampaknya merembet ke produk DAP (Diammonium Phosphate), MAP (Mono Ammonium Phosphate), dan TSP (Triple Superphosphate), mengubah situasi yang awalnya sekadar gangguan pelayaran di kawasan Teluk menjadi masalah rantai pasok pupuk yang lebih luas.

Sementara itu, permintaan pasar tidak menunggu hingga Selat Hormuz dibuka kembali.

Brasil sedang memasuki musim pembelian bulan Agustus. Eropa menyusul kemudian, dan periode permintaan dari Amerika Serikat akan tiba pada bulan September 2026. Hal ini menciptakan sebuah paradoks pasar yang pelik, yakni pupuknya tersedia, kapasitas produksinya memadai, pembelinya ada, tapi jalur penghubung di antara ketiganya tidak tersedia.

Selama bertahun-tahun, industri pupuk berfokus pada pembangunan pabrik, pengamanan bahan baku, dan maksimalisasi produksi. Kini, situasi di Selat Hormuz memberikan pelajaran yang cukup mahal mengenai ekonomi komoditas:

Kapasitas produksi hanya bernilai jika logistik mampu mengubah hasil produksi menjadi pasokan yang benar-benar sampai ke tujuan. Dan jika Selat tersebut tetap tertutup dalam waktu yang cukup lama, masalah utama bagi kawasan Teluk bukan lagi soal "bisakah kita memproduksi satu ton berikutnya?"