Proyek Gagal Rachmat Gobel

Reporter : Redaksi
Rachmat Gobel

Berbincang dengan Nirwan Dewanto, seorang penyair dan kritikus sastra, kami sampai pada kesimpulan: Hans Bague Jassin layak diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional. Orang Gorontalo yang besar di Medan itu raksasa yang paling berjasa dalam mendokumentasikan perkembangan sastra Indonesia dengan kegigihan yang menakjubkan. 

Dan jika tokoh seperti itu diakui sebagai Pahlawan Nasional, kami pikir akan membuat publik memiliki perspektif baru bahwa kepahlawanan bukan melulu bermakna militeristik atau politik. Kesastraan, sebagai elemen penting pembentuk semangat kebangsaan dan kebudayaan, juga layak dipertimbangkan untuk alasan mempahlawankan seseorang — dan untuk ini tidak ada yang lebih tepat daripada HB Jassin, yang praktis seumur hidupnya ia curahkan sepenuhnya untuk merawat dan mencatat denyut sastra Indonesia. 

Baca juga: Opu Daeng Risadju, Disiksa Kolonial Belanda hingga Tuli

Setelah menjual gagasan ini ke sana ke mari, saya tiba di pintu rumah Rachmat Gobel, salah satu wakil terpenting Gorontalo di arena politik nasional. Ia menyambut hangat ide ini. Dan setelah beberapa kali diskusi, ia bersedia menyeponsori seminar di gedung DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), tempat ia menjadi Wakil Ketua. Saya juga menyiapkan buku kecil untuk memaparkan alasan-alasan mengapa Pak Jassin pantas dipahlawan nasionalkan. 

Saya melihat semua proses bakal lancar, karena pejabat terpenting yang menangani urusan usulan-usulan semacam ini beserta rangkaiannya adalah Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Prof. Mahfud MD, senior di masa kuliah, yang selalu mudah ditemui dan dimintai nasihat. 

Pertemuan-pertemuan untuk memperlancar urusan ini cukup sering diadakan di rumah dinas Rachmat Gobel. Ia selalu ramah dan informal menyambut saya dan sejumlah aktivis asal Gorontalo, yang sering saya provokasi agar gencar mengupayakan keberhasilan proyek ini, mengingat saya saja sebagai orang Lampung sangat bersemangat; orang Gorontalo mestinya lebih semangat.

Dalam salah satu pertemuan itu, misalnya, Rachmat sempat memperkenalkan satu-dua makanan dan minuman baru asal Jepang yang ia dapatkan hak produksi dan penjualannya di Indonesia. Relasinya dengan dunia bisnis Jepang, yang dirintis ayahnya sejak tahun 1950-an, dirawatnya dengan baik. 

Ada juga hal menarik yang terungkap dari ikhtiar mempahlawankan Pak Jassin ini. Ternyata, Pak Gobel senior pernah menumpang tinggal di rumah Pak Jassin selama beberapa bulan, ketika ia masih sebagai remaja miskin yang nekat merantau ke Jakarta puluhan tahun silam; ketika itu nama Pak Jassin sudah mashur dan punya kemampuan ekonomi yang lumayan sebagai dosen Universitas Indonesia dan lain-lain. 

Saya duga Rachmat pun tidak tahu riwayat awal ayahnya berjuang di Jakarta ini dan sampai bersentuhan dengan Pak Jassin. 

Baca juga: Suzuki Menggelar Owners Fun Race 2025

Proyek pemahlawanan HB Jassin itu gagal dengan alasan-alasan yang kurang jelas bagi saya. Ada yang menyebut bahwa pada saat yang sama ada tokoh Gorontalo lainnya yang juga sedang diusulkan, dan rupanya pemerintah mengutamakan tokoh kerajaan lama yang turut berjasa bagi kemerdekaan Indonesia itu. Selebihnya tidak jelas. Yang jelas hanya satu hal : HB Jassin gagal menjadi Pahlawan Nasional.

Sejak itu, saya hampir tidak pernah lagi berjumpa dengan Rachmat Gobel. Tapi karena dia tokoh terkenal, dan seorang penasihatnya saya kenal baik, maka saya sedikit-banyak mendengar juga apa-apa yang sedang dikerjakannya. Misalnya rencananya untuk menjadi calon gubernur Gorontalo, karena terpanggil untuk mengatasi keterbelakangan kampung halaman ayahnya itu.

Sampai tadi subuh — ketika sebuah pesan Whatsapp masuk dari seorang sahabatnya, mengabarkan hal yang sangat mengejutkan. 

Bung Rachmat, kata orang niat baik yang bahkan tidak terwujud pun mendapatkan satu pahala. Saya kira niat baik Anda untuk mempahlawankan orang yang menolong ayah Anda di masa sulit itu pun pasti tercatat — berikut begitu banyak kebaikan Anda lainnya. 

Baca juga: KH Ahmad Rifai Berani Menantang Belanda dengan Ilmu dan Pena

Terima kasih untuk beberapa makan malam yang menyenangkan. Dan untuk keramahan Anda yang tak kurang menyenangkan.

Rachmat Gobel meninggal dunia pada Jumat, 10 Juli 2026. Rahmat Gobel adalah putra dari H. Thayeb Mohammad Gobel, pendiri pabrik radio transistor pertama di Indonesia pada tahun 1954 dengan merek Tjawang. Perusahaan tersebut diberi nama PT Transistor Radio Manufacturing Co. yang berlokasi di Cawang, Jakarta. Pada tahun 1960, pabrik ini mulai bekerjasama dengan perusahaan elektronik asal Jepang, yang sekarang menjadi Gobel Group dan Panasonic Gobel Indonesia. (*)

*) Source : Hamid Basyaib

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru