Opu Daeng Risadju, Disiksa Kolonial Belanda hingga Tuli
Ada seorang wanita umur 60 tahun lebih. Dia buta huruf latin, disiksa berkali-kali oleh kolonial dan The Netherlands Indies Civil Administration (NICA) sampai tuli. Tapi mulutnya tetap terkunci rapat saat dipaksa untuk membuka rahasia pejuang? Namanya Opu Daeng Risadju. Dan ini kisahnya yang jarang diajarkan di sekolah.
Opu Daeng Risadju lahir pada tahun 1880 di Palopo, Sulawesi Selatan, dengan nama kecil Famajjah. Anak Muhammad Abdullah To Baresseng dan Opu Daeng Mawellu, dari garis ibu. Dia cicit Raja Bone XXII, La Temmasonge Matimoeri Malimongeng. Tapi jangan bayangkan dia hidup mewah seperti putri Disney.
Opu Daeng Risadju cuma belajar ngaji dan aksara Bugis. Sampai dewasa, dia tidak pernah sekolah formal dan buta huruf latin, cuma bisa aksara Bugis. Tapi jangan salah. Otaknya tajam. Dia belajar otodidak kepada saudaranya sendiri yang sempat merasakan sekolah formal.
Materialisme historis di titik ini penting dipahami : kondisi sosial saat itu emang tidak memberi akses pendidikan formal buat perempuan, apalagi di daerah. Tapi keterbatasan struktural itu tidak otomatis bikin orang jadi pasif. Famajjah pembuktiannya.
Opu Daeng Risadju nikah dengan H Muhammad Daud, ulama asal Bone yang jadi imam masjid istana Kerajaan Luwu. Dari situ dia dapet gelar kebangsawanan "Opu Daeng Risadju". Hidupnya waktu itu : istri ulama, ngobatin cacar pakai ramuan tradisional Bugis "pappitajang ati". Tenang. Biasa aja.
Titik baliknya baru datang pas dia umur 47 tahun. Bukan remaja idealis yang baru lulus kuliah terus mendadak jadi aktivis. Dia bertemu H Muhammad Yahya, tokoh Partai Syarikat. Islam Indonesia (PSII). Dari situ dia "melek" politik pergerakan nasional.
Opu Daeng Risadju dialektikanya jelas. Kesadaran itu tidak muncul dari ruang hampa. Ada pertemuan, ada dialog, ada proses yang bikin seseorang yang tadinya "cuma" istri ulama berubah jadi motor pergerakan. Tahun 1927, Opu Daeng Risadju resmi jadi anggota Partai Syarikat. Islam Indonesia (PSII) cabang Parepare.
Pas pulang ke Palopo, Opu Daeng Risadju tidak diam aja. Dia giat mempropagandakan cita-cita Partai Syarikat. Islam Indonesia (PSII) di daerah Luwu, khususnya ke keluarga dan sahabat-sahabatnya. Modal awal gerakan itu sering emang bukan duit atau jabatan. Tapi trust dan jaringan sosial yang sudah lama dibangun.
14 Januari 1930, Opu Daeng Risadju mendirikan cabang Partai Syarikat. Islam Indonesia (PSII) di Palopo dan Opu Daeng Risadju jadi ketuanya sendiri. Bayangkan, tahun 1930, di daerah yang masih sangat patriarkis, seorang perempuan memimpin organisasi politik. Belakangan, Opu Daeng Risadju bahkan jadi penghubung ke tokoh pergerakan level nasional macam Kartosuwiryo.
Logika kekuasaan kolonial itu simple : ancaman tidak diukur dari seberapa besar senjata, tapi seberapa besar pengaruh ke rakyat. Dan pengaruh Opu Daeng Risadju ke rakyat Luwu itu sudah level yang bikin penjajah panik.
Bahkan Datu Luwu (penguasa lokal) sendiri sampai turun tangan, minta Opu Daeng Risadju berhenti dari aktivitas partainya. Ini bukan cuma melawan Belanda saja, tapi juga tekanan dari elite lokal yang lebih milih aman dan nggak bikin ribut dengan penjajah.
Saking gerahnya, gelar kebangsawanan yang dia sandang sejak nikah, sampai dicabut oleh pihak kerajaan yang udah tunduk dengan tekanan kolonial. Sudah diserang dari luar, ditinggal dari dalam. Tapi dia tidak berhenti. Karena dukungan rakyat makin besar, Belanda mulai menahan dia.
Opu Daeng Risadju jadi perempuan pertama yang dipenjara Belanda karena aktivitas politik. Ini bukan gelar receh, dia menecahkan rekor sejarah.
Dan di penjara ini bagian paling berat dari ceritanya. Tapi ini baru babak pertama. Opu Daeng Risadju ditahan Belanda sekitar 11-14 bulan di era 1930-an. Disiksa berulang kali. Tapi rahasia jaringan perjuangan dan nama-nama kawan seperjuangannya? Tidak pernah dia bocorin.
Belanda pergi, tapi cerita penyiksaannya belum kelar. Pas revolusi kemerdekaan pecah, di usia 60-an tahun, Opu Daeng Risadju lawan NICA lagi. Ditangkap lagi. Kali ini dipaksa jalan kaki 40 km ke Watampone. Sampai disana, disiksa, termasuk ditembak senapan persis di dekat telinga dan kepala distrik Bajo. Itu yang membuat dia tuli seumur hidup.
Dua kali ditahan, dua kali disiksa, dua rezim beda, kolonial Belanda dan NICA. Tapi di kedua fase itu, Opu Daeng Risadju tetep bungkam soal jaringan perjuangannya. Itu bukan kepasifan. Itu bentuk perlawanan paling senyap tapi paling keras.
Pasca-NICA, dia lanjut terlibat di jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI). Surat resmi pemberhentiannya tahun 1950, mencatat dia sempat berpangkat Pembantu Letnan di bagian intelijen. Perempuan tua yang buta huruf latin ini berjuang di dua zaman: pergerakan nasional dan revolusi kemerdekaan.
Setelah Indonesia merdeka, Opu Daeng Risadju tidak dapat karpet merah. Dia meninggal 10 Februari 1964 di usia 84 tahun, dimakamkan dekat makam raja-raja Luwu di Lokkoe, Palopo, tanpa upacara kehormatan. Tidak ada tembakan salvo. Tidak ada pidato pejabat. Sepi.
Butuh 42 tahun setelah kemerdekaan buat negara akhirnya sadar. Baru pada 3 November 2006, lewat Keputusan Presiden (Keppres) nomror 085/TK/Tahun 2006, Opu Daeng Risadju resmi jadi Pahlawan Nasional.
Ironi sejarahnya jelas: orang yang paling teguh memegang rahasia demi bangsa, justru bangsanya sendiri yang "lupa" buat memberi pengakuan resmi. Sekarang namanya diabadikan jadi nama jalan di Makassar (bekas Jalan Cenderawasih), lengkap dengan barcode buat orang scan dan baca sejarahnya.
Opu Daeng Risadju mengajarkan satu hal yang simpel tapi berat : keberanian itu tidak butuh ijazah, tidak butuh umur muda, dan tidak butuh panggung besar. Yang dia butuh cuma satu, pendirian yang tidak bisa dibeli, dan tidak bisa disiksa keluar dari tubuhnya. (*)
Editor : Bambang Harianto