KH Ahmad Rifai Berani Menantang Belanda dengan Ilmu dan Pena

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
KH Ahmad Rifa'i
KH Ahmad Rifa'i
grosir-buah-surabaya

Ada satu ulama yang berani menantang penjajah Belanda dengan ilmu dan pena. Beliau adalah KH Ahmad Rifai Kalisalak, seorang ulama besar asal Provinsi Jawa Tengah yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

KH Ahmad Rifa'i lahir sekitar tahun 1786 di Tempuran, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Sejak kecil, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius. Setelah mempelajari dasar-dasar ilmu agama di kampung halamannya, beliau menimba ilmu kepada banyak ulama di berbagai pesantren di Pulau Jawa.

Semangat mencari ilmu membawanya menunaikan ibadah haji sekaligus bermukim di Makkah selama bertahun-tahun. Di Tanah Suci, beliau memperdalam ilmu tafsir, hadis, fikih, tasawuf, dan bahasa Arab kepada para ulama terkemuka. Pengalaman tersebut membentuk pemikirannya bahwa umat Islam harus memiliki ilmu yang kuat sekaligus keberanian melawan segala bentuk kezaliman.

Sekembalinya ke Nusantara, KH Ahmad Rifa'i menetap di Desa Kalisalak, Kabupaten Batang. Di sanalah beliau mendirikan pusat pendidikan Islam yang kemudian berkembang menjadi basis dakwah dan lahirnya Jamaah Rifa'iyah. Melalui pengajian dan pendidikan, beliau mengajarkan tauhid, akhlak, fikih, serta pentingnya menjaga martabat umat Islam di bawah tekanan penjajahan Belanda.

Yang membuat beliau berbeda dari banyak ulama pada masanya adalah keberaniannya mengkritik pemerintahan kolonial. Menurut beliau, penjajahan merupakan bentuk kezaliman yang bertentangan dengan ajaran Islam. Beliau juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah bekerja sama dengan penguasa kolonial apabila hal itu merugikan agama dan rakyat.

Untuk menyebarkan ajarannya, KH Ahmad Rifa'i menulis puluhan kitab berbahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon. Karya-karya tersebut dikenal sebagai Tarajumah. Isinya membahas akidah, syariat, akhlak, hingga kritik terhadap praktik ketidakadilan pada masa kolonial. Karena ditulis dalam bahasa yang dipahami masyarakat Jawa, kitab-kitab itu cepat menyebar dan menjadi pegangan para santri.

Pengaruh beliau semakin besar sehingga pemerintah Hindia Belanda menganggap ajarannya dapat membangkitkan semangat perlawanan rakyat. Akibatnya, aktivitas dakwahnya diawasi secara ketat. Banyak muridnya tetap setia menyebarkan ajaran beliau meskipun mendapat tekanan dari pemerintah kolonial.

Pada tahun 1859, pemerintah Hindia Belanda akhirnya menangkap KH Ahmad Rifa'i. Tanpa melalui proses yang adil, beliau dijatuhi hukuman pembuangan ke Ambon. Namun semangat dakwahnya tidak pernah padam. Di tempat pengasingan pun beliau tetap mengajar, berdakwah, menulis, dan membimbing masyarakat yang datang belajar kepadanya.

Beberapa tahun kemudian, pemerintah kolonial kembali memindahkan beliau ke Manado, Sulawesi Utara. Tujuannya agar pengaruh beliau terhadap masyarakat Jawa semakin berkurang. Namun sekali lagi, pengasingan tidak mampu menghentikan perjuangannya. Di Manado beliau tetap menjadi guru agama dan terus menyebarkan nilai-nilai Islam hingga usia senja.

Pada tanggal 25 Rabiul Awal 1286 Hijriah atau sekitar tahun 1869, KH Ahmad Rifa'i wafat di Manado dalam status sebagai ulama yang diasingkan. Meski jauh dari tanah kelahirannya, perjuangannya tidak pernah berhenti dikenang.

Murid-muridnya terus melestarikan ajaran Rifa'iyah yang hingga kini masih berkembang di berbagai daerah di Indonesia.

Atas jasa-jasanya dalam bidang pendidikan Islam, perjuangan melawan penjajahan, serta keteladanannya dalam membela kebenaran, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH Ahmad Rifa'i melalui Keputusan Presiden Nomor 89/TK Tahun 2004.

Warisan terbesar KH Ahmad Rifa'i bukan hanya puluhan kitab yang beliau tulis, melainkan juga teladan bahwa ilmu pengetahuan, keberanian, dan keteguhan iman dapat menjadi senjata paling ampuh untuk melawan penindasan. Nama beliau tetap dikenang sebagai ulama pejuang yang mengabdikan seluruh hidupnya demi agama, bangsa, dan kemerdekaan Indonesia. (*)