Kraton Airlangga di Krian Kebanjiran

Reporter : Redaksi
Kraton Airlangga di Krian

Selama ini, fokus pembacaan penelitian sejarah akan detail isi Prasasti Kamalagyan, hanya terfokus pada kecakapan Airlangga dalam segala macam urusan pengelolaan sumber daya air di wilayah kekuasaannya. Salah satu upayanya adalah membangun bendungan di Waringin Sapta, dalam sebuah momentum banjir besar yang melanda wilayah Kerajaan Medang (Kahuripan). 

Ternyata, prasasti tersebut juga menyebutkan bahwa Kraton Kahuripan (Bumi Janggala) pun kebanjiran! Dari peristiwa ini, letak Kraton Kahuripan dapat kami temukan!

Baca juga: Seorang Warga Desa Kraton Diciduk Polresta Sidoarjo

Historiografi Singkat Airlangga Periode Watanmas - Kahuripan

Airlangga (lahir di Bali tahun 990-wafat tahun 1049 Masehi), adalah penguasa Kerajaan Medang (yang beribukota di Watan Mas - Kahuripan) pada periode (1019-1043 Masehi).

Airlangga menikahi putri Raja Dharmawangsa Teguh (penguasa Medang yang beristana di Wwatan). Paska momentum pernikahannya, ayah mertuanya terbunuh oleh pasukan Lwaram. Sepeninggal sang mertua, ia menyelamatkan diri dan membangun istana baru di Watan Mas.

Tahun 1031 Masehi, seorang raja wanita dari Lodoyong, Ratu Dyah Tulodong, menyerang dan berhasil menghancurkan istana Airlangga di Watan Mas sehingga memaksanya menyelamatkan diri ke Desa Patakan, Sambeng, Lamongan.

Setelah Watan Mas dihancurkan, Airlangga membangun Ibu kota baru di wilayah Kahuripan tahun 1032 Masehi. Para sejarahwan menduga, lokasi wilayah Kahuripan berada dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo saat ini. Namun, hingga kini, belum terdapat satu pun kepastian akan letak Kraton Kahuripan.

Elemen Geografis Penting Baris ke 8, 9, 10 dan 11 Prasasti Kamalagyan

Prasasti Kamalagyan (1037 Masehi) merupakan bukti sejarah krusial yang merekam kebijakan strategis Raja Airlangga dalam menanggulangi ancaman banjir di wilayah hilir Sungai Brantas melalui pembangunan tanggul dan bendungan. Melalui prasasti ini, diketahui bahwa pemerintah masa itu secara terencana mengelola sistem hidrologis dengan melibatkan partisipasi masyarakat setempat, yang tidak hanya berfungsi sebagai upaya mitigasi bencana alam, tetapi juga sebagai langkah vital < untuk mengamankan stabilitas ekonomi sektor pertanian dan memperlancar jalur transportasi air di wilayah Kerajaan Kahuripan.

Selama ini, ada satu hal penting yang terlewatkan dalam proses pembacaan detil isi prasasti tersebut. Kami membaca ulang seluruh teks prasasti tersebut, yang dimuat dalam buku "Oud-Javaansche Oorkonde op Steen uit de Afdeeling Sidhoardjo", yang ditulis oleh Kromojoyo Adinegoro (Bupati Mojokerto ke 4) tahun 1922. Dan, akhirnya, kami berhasil menemukan Lokasi Kraton Airlangga di wilayah yang dinamakan Kahuripan tersebut.

Desa Kraton, Krian, Sidoarjo Sejarah Penting yang Terlupa

Melalui aplikasi kecerdasan buatan Gemini, kami memancing jawaban dari pertanyaan seperti ini :

"Jelaskan dalam sebuah paragraf pendek asal usul desa kraton, kecamatan krian, kabupaten sidoarjo."

Kemudian, Gemini menjawab seperti ini :

"Nama Desa Kraton di Kecamatan Krian, Sidoarjo, diyakini berasal dari kata "ratu" yang kemudian berkembang menjadi "kraton". Berdasarkan analisis toponimi, penyematan nama ini kemungkinan besar tidak berasal dari era Hindu-Buddha, melainkan dari era Mataram Islam, mengingat istilah untuk pusat pemerintahan pada masa yang lebih kuno biasanya menggunakan kata "kedhaton". Meskipun wilayah Krian sendiri memiliki jejak sejarah yang panjang dan erat dengan peninggalan masa Kerajaan Jenggolo maupun era Airlangga, penamaan Desa Kraton lebih merujuk pada pengaruh budaya era Mataram Islam tersebut."

Jawaban diatas, diperoleh Gemini dari laman Komunitas Begandring (Surabaya) dan Wikipedia.

Melalui aplikasi kecerdasan buatan ChatGPT, kami memancing jawaban dari pertanyaan yang sama:

"Jelaskan dalam sebuah paragraf pendek asal usul desa kraton, kecamatan krian, kabupaten sidoarjo."

Kemudian, ChatGPT menjawab seperti ini :

"Tidak terdapat sumber sejarah tertulis yang secara pasti menjelaskan asal usul Desa Kraton di Kecamatan Krian. Namun, berdasarkan penuturan masyarakat setempat dan kajian toponimi di wilayah Krian, nama "Kraton" diduga berasal dari kata keraton atau kraton, yang merujuk pada tempat tinggal bangsawan atau pusat pemerintahan pada masa lampau. Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan tersebut kemungkinan pernah memiliki kaitan dengan kekuasaan lokal atau menjadi lokasi penting pada era kerajaan di Jawa. Seiring perkembangan wilayah, Desa Kraton tumbuh menjadi salah satu desa strategis di Kecamatan Krian yang berperan sebagai pusat pelayanan pemerintahan dan aktivitas masyarakat."

Kata kraton (atau keraton) berasal dari kata dasar "ratu" yang mendapat awalan "ke-" dan akhiran "-an", yang secara harfiah berarti tempat kediaman seorang ratu atau raja. Secara etimologis, istilah ini merupakan bentuk serapan dari bahasa Sanskerta, yakni ka-ratu-an, yang merujuk pada pusat pemerintahan sekaligus kediaman resmi penguasa dalam tradisi budaya Jawa, di mana tempat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai istana, tetapi juga sebagai pusat spiritual dan kosmis bagi kehidupan masyarakat di lingkup kerajaan.

Toponimi Kraton memiliki urgensi krusial dalam historiografi nasional Indonesia karena berfungsi sebagai "dokumen spasial" yang merekam legitimasi kekuasaan, kosmologi, dan pergeseran sosiopolitik lintas zaman.

Pada masa klasik, penamaan pusat kerajaan mencerminkan konsep mandala dan pemujaan terhadap pusat semesta, yang menempatkan raja sebagai poros kekuatan magis-religius yang mengikat wilayah kekuasaan di sekitarnya.

Ketika memasuki masa peralihan dari pengaruh Hindu-Buddha ke Islam, toponimi kraton mengalam transformasi simbolis di mana struktur ruang tetap mempertahankan filosofi pusat yang kuat, namun diselaraskan dengan nilai-nilai sufistik-Islami yang mengubah makna filosofis keraton menjadi pusat dakwah sekaligus administratif.

Dinamika ini berlanjut pada masa kolonial, di mana toponimi kraton menjadi saksi bisu politik ruang yang penuh ketegangan; di sini, otoritas tradisional dipaksa menegosiasikan eksistensinya dan fungsi ruangnya di bawah tekanan kekuasaan asing yang mulai melakukan penataan ulang kota.

Dengan demikian, kajian toponimi kraton tidak sekadar memetakan lokasi fisik, tetapi menjadi kunci untuk mengungkap jejak evolusi identitas, kontinuitas kebudayaan, dan pergeseran struktur kekuasaan yang membentuk fondasi politik serta identitas nasional bangsa Indonesia hingga hari ini.

Secara geografis, titik awal atau "pintu masuk" dari zona Delta Brantas dimulai di Kota Mojokerto. Di wilayah Mojokerto inilah aliran utama Sungai Brantas bercabang menjadi dua sungai besar, yaitu Kali Surabaya (yang mengalir ke arah utara menuju Surabaya) dan Kali Porong (yang mengalir ke arah tenggara menuju wilayah Porong, Sidoarjo).

Karena delta ini terbentuk dari pengendapan material yang dibawa oleh aliran sungai menuju laut, daratan yang berada lebih dekat dengan titik percabangan di Mlirip (Mojokerto) umumnya lebih tua usianya dibandingkan dengan daratan yang berada lebih jauh ke arah muara.

Oleh karena itu, wilayah yang lebih dekat ke arah hulu percabangan (sebagian wilayah daratan yang kini menjadi Sidoarjo bagian barat/tengah) secara alami terbentuk lebih dulu daripada wilayah pesisir yang berada lebih jauh ke utara atau timur, yang baru terbentuk seiring dengan berlanjutnya proses sedimentasi ke arah laut dari waktu ke waktu

Anak Cabang Sungai Brantas di Wilayah Kabupaten Sidoarjo

Sungai Brantas di wilayah Sidoarjo bercabang menjadi tiga aliran utama yang berperan vital bagi ekosistem dan drainase kawasan tersebut, yaitu Sungai Surabaya di bagian utara yang mengalir menuju Selat Madura, Sungai Porong sebagai saluran utama di bagian selatan yang berfungsi sebagai outlet terbesar, serta Sungai Mangetan yang melintasi area tengah. 

Ketiga sungai ini merupakan bagian dari sistem hidrologi kompleks yang membagi aliran air dari hulu Brantas untuk memenuhi kebutuhan irigasi, pengendalian banjir, serta menopang aktivitas masyarakat di sepanjang dataran rendah delta Sidoarjo.

Sedimentasi Anak Sungai Brantas yang Berlangsung Hingga Saat Ini

Proses sedimentasi anak-anak Sungai Brantas masih berlangsung hingga kini. Pulau Ketingan di wilayah Sidoarjo serta Pulau Lusi di wilayah Jabon senantiasa bertambah luas karenanya. Beberapa anak Sungai Brantas di wilayah Sidoarjo juga pada akhirnya menjadi kali mati karena intensitas tinggi sedimen yang menumpuk sepanjang alur sungainya.

Lalu, Dimanakah Letak Bendungan Waringin Sapta Buatan Airlangga?

Perdebatan mengenai lokasi Bendungan Waringin Sapta yang dibangun oleh Airlangga di abad ke 11 Masehi (tercatat dalam Prasasti Kamalagyan, 1037 Masehi), masih terus berlangsung hingga kini. Sebelum masuk ke materi bahasan utama tentang letak Kraton Kahuripan, kami akan memastikan terlebih dahulu lokasi Bendungan Waringin Sapta.

Dalam wilayah Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, terdapat toponimi dengan nama Bakalan Wringinpitu (saat ini berupa wilayah Desa Bakalan Winginpitu), yang mungkin terkait dengan toponimi Waringin Sapta. Di dalam desa ini, terdapat dua buah wilayah pedukuhan, Dusun Bakalan dan Dusun Wringin pitu. Kedua dusun ini, telah tercatat dalam Peta Kabupaten Sidoarjo tahun 1892.

Kata waringin ataupun sapta, Dimaria keduanya berasal dari Bahasa Sansekerta, dimana waringin memiliki arti pohon beringin, dan sapta memiliki arti angka tujuh. Kemudian, kata "pitu", yang juga berasal dari Bahasa Sansekerta, memiliki arti yang sama dengan kata "sapta, yaitu angka tujuh.

Bendungan Airlangga di Wringin Pitu, Balongbendo, Sidoarjo

Terdapat satu nama lain dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo yang menggunakan unsur kata wringin, Dusun Wringinanom, sebuah dusun yang terletak di Desa Ploso, Kecamatan Krembung. Namun, walaupun nampaknya terdapat garis aliran sungai mati yang sekarang telah perkampungan, dari komposisi nama, sepertinya toponimi tersebut tidak terkonteks dengan angka tujuh.

Selain dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo, kami mencoba mencari toponimi yang mirip-mirip dengan toponimi Waringin Sapta. Terdapat satu nama wilayah yang agak mirip di dalam wilayah Kabupaten Gresik dengan nama Kecamatan Wringinanom, namun, dalam wilayah tersebut tidak satu pun terdapat aliran sungai yang mengalir.

Kemudian, dalam wilayah Desa Mojórejo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, terdapat pula sebuah wilayah yang mengandung kata Wringin, yaitu Dusun Winginanom. Namun sayang, dari komposisi nama, sepertinya toponimi tersebut tidak terkonteks dengan angka tujuh

Bendungan Airlangga Terdapat Di Kali Mangetan Bukan Kali Mas

Pembahasan materi letak Bendungan Waringin Sapta yang kami dalami pada slide 11, 12, 13, dan 14 mengandung sebuah kesimpulan yang kuat bahwa bendungan Airlangga, pada masa abad 11 Masehi yang lalu, terletak di wilayah Wringinpitu, yang saat ini dilintasi oleh Sungai Mangetan Kanal.

Dalam peta Karesidenan Surabaya (1852), sungai ini masih bernama Sungai Mangetan. Hindia Belanda di saat itu belum melaksanakan "Proyek Revitalisasi Pengairan", guna mengelola potensi air dan mencegah banjir di zona Delta Brantas, dengan cara membangun kanal dan bendungan air.

Sungai Mangetan, adalah sebuah sungai penting yang menyimpan banyak artefak penting berupa prasasti, bangunan candi yang rubuh, atau struktur batu bata kuno yang berasal dari periode abad ke 9 -14 Masehi. Sebagai contoh konkritnya adalah Prasasti Kuti (840 Masehi) yang ditemukan di Dusun Joho, Kecamatan Gedangan, Prasasti Waharu I (860 Masehi) yang ditemukan di Desa Keboan, kemudian Prasasti Bungur (873 Masehi) yang ditemukan di dalam wilayah kecamatan yang sama,

Toponimi Penting Yang Termuat Dalam Baris Prasasti Kamalagyan

Beberapa toponimi yang tercatat dilanda banjir pada abad ke 11 Masehi, juga terletak di wilayah bantaran di sepanjang Sungai Mangetan, seperti contoh Desa Panjunan, Dusun Jumput serta Desa Ganting.

Sungai Mangetan Membelah Desa Kraton, Kecamatan Krian

Selain melintasi wilayah-wilayah desa diatas, aliran Sungai Mangetan membelah dua Desa Kraton! Peta Sidoarjo tahun 1892 pun mencatat toponimi Kraton, namun masih dalam format wilayah dusun.

Rincian daftar wilayah yang terdapat di sekitar desa ini, yang termuat dalam Peta Sidoarjo tahun 1892, adalah sebagai berikut :

Dusun Parengan, Dusun Sidhamoekti, Dusun Kryan, Dusun Krian, Dusun Panakawan, Dusun Kemasan, Dusun Sidawaras, Dusun Sidatemoe, Dusun Sirapan, Dusun Kemangsen, Dusun Pilangbangoe, Dusun Tambag Kemeraan dan Dusun Katroengan.

Bendungan Waringin Sapta Jebol dan Hanyutnya Harta Airlangga

Sang Pangeran memerintah negeri itu dengan sangat baik, tanpa henti. Karena pekerjaan yang berat, para thani yang ditugaskan untuk pekerjaan itu berlindung di tempat yang lebih aman dan kelelahan. (Orang-orang ini berasal dari desa-desa) Palindjwan, Sidjanatyasan, Pandji ganting, Talan, Dasa pangkah, Pangkadja (juga) dari desa-desa Sitnaparasima, Kala, Kalagyan, Thani djoempoet, Wihara, Qala, Kamoelan, Parhyangan, Parapatapan. Dan terutama hal yang paling penting adalah makanan dan tempat perlindungan yang disebut lana Bhawana di Surapura. Dan ada banyak thani yang bertahan dengan segenap.kekuatan mereka, dan mendapati diri mereka dalam bahaya besar terkait tanggul-tanggul yang telah diperiksa.

Akhirnya, sungai jebol di Waringin, pada baris berikut, ringin sapta, akibatnya "Harta Milik Pangeran (Airlangga) Hilang", bersama dengan semua tanggul, karena sulit bagi semua penduduk untuk membangun kembali tanggul sungai di tempat jebol itu, bahkan jika tanggul itu dibangun kembali untuk kedua kalinya (berulang kali) oleh semua penduduk.

Mereka tidak memiliki hak (untuk memutuskan sendiri) dan tempat itu pun tidak ditentukan. Maka, Yang Mulia segera mengambil alih (pekerjaan), memanggil semua penduduk, mengawasi secara pribadi, dan mulai bekerja. Airlangga berdoa dengan khidmat. Beliau memberi perintah kepada semua orang (untuk memperbaiki bendungan).

"Beliau Menggumamkan Sebuah Formula Ajaib, Dan Bendungan Itu Memang Sudah Dipulihkan".

Hujan Lebat dan Pendangkalan Sungai (Sebab Banjir Di Kahuripan)

Ketika proses pendangkalan alamiah sungat masih berlangsung hingga saat ini, proses yang sama pastinya juga telah terjadi sejak periode Airlangga berkuasa di wilayah Kahuripan.

"Tanpa ampun, air bah yang telah menjebol struktur bendungan di Waringin Sapta, gelombang besar dari arah barat pun membanjiri istana Airlangga. Peristiwa ini membuatnya membangun kembali bendungan di wilayah Waringin Sapta dengan lebih baik, guna mengalirkan air ke anak sungai lain. Atas peristiwa ini, pastinya Airlangga, dibantu oleh warga tercintanya, membangun sistem pengairan yang lebih di wilayah Kahuripan (Krian) dan wilayah lain di dalam Bhumi Janggala (Sidoarjo) demi kesejahteraan umum." (*)

*) Source : Rumah Budaya Sidoarjo

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru