Semarak Upacara Nata Jagat Nusantara, Satukan Budaya dan Semangat Kebangsaan

avatar Arif yulianto
  • URL berhasil dicopy
Budayawan dan tokoh masyarakat usai Upacara Nata Jagat Nusantara
Budayawan dan tokoh masyarakat usai Upacara Nata Jagat Nusantara
grosir-buah-surabaya

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-81 diisi dengan upacara Nata Jagat Nusantara yang digelar oleh Yayasan Sanggar Cipta Alam. Rangkaian acara upacara Nata Jagat Nusantara digelar selama 2 hari, dari Sabtu sampai dengan Minggu, 29-30 Agustus 2026, di Sendang Sreto, Desa Pule, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan.

Hadir dalam upacara sakral tersebut diantaranya seniman dan budayawan termasuk dari Sanggar Piwulang Jawi, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan berbagai elemen masyarakat.

Hadir pula sesepuh Budaya, Bunda Tina Sekartaji, yang turut berperan dalam rangkaian doa dan penataan sesaji sebagai bagian dari tradisi budaya yang dihadirkan dalam kegiatan upacara Nata Jagat Nusantara.

Sesepuh PB Wilwatikta, Mbah Samsul, bersama jajaran, juga turut hadir memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan.

Dari Mojokerto, turut hadir Host Talenta yaitu Bang Rama Nirwana dengan menciptakan sebuah karya lukisan yang diselesaikan dengan waktu 15 menit. Lukisan yang dibuat bertema “Jawadwipa”. Karya tersebut menjadi salah satu bentuk ekspresi seni yang memperkaya rangkaian kegiatan sekaligus mempertemukan berbagai unsur pelaku budaya dalam satu ruang kebersamaan.

Selain rangkaian upacara Nata Jagat Nusantara dan kegiatan budaya, momentum tersebut juga menjadi ruang apresiasi terhadap para penggerak regenerasi budaya sekaligus ruang untuk memperkenalkan dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya serta kearifan lokal Nusantara.

Di sela acara, Ketua Yayasan Sanggar Cipta Alam, Gus Arif Saifullah memberikan penghargaan kepada Ketua Lembaga Sanggar Piwulang Jawi, Ibu Mega Surya Dwi Mei. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dalam mendampingi 17 anak didik untuk mengenal dan mempelajari seni serta budaya Nusantara.

Di bawah pendampingan Sanggar Piwulang Jawi, para peserta mendapatkan pengenalan dan pelatihan di antaranya teater, aksara Jawa, serta seni tari Nusantara.

Menurut Gus Arif Saifullah selaku Ketua Sanggar Cipta Alam, pendampingan dari Sanggar Piwulang Jawi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun regenerasi pelaku budaya. Anak-anak tidak hanya diajak mengenal seni sebagai pertunjukan, tetapi juga memahami bahwa budaya merupakan bagian dari identitas dan jati diri bangsa.

"Kegiatan Upacara Nata Jagat Nusantara ini diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan antara generasi muda, sesepuh, seniman, pelaku budaya, masyarakat, dan berbagai elemen lainnya. Semangat tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan zaman, ketika generasi muda membutuhkan ruang untuk mengenal kembali akar budaya dan kearifan lokal di lingkungannya," katanya.

Gus Arif Saifullah selaku Ketua dan Pendiri Yayasan Sanggar Cipta Alam menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan sekaligus mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan.

Secara khusus, Yayasan Sanggar Cipta Alam menyampaikan apresiasi kepada Kepala Desa Sreto, Mbah Tres, beserta jajaran dan masyarakat yang turut membantu, sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik.

“Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan sukses, khidmat dan penuh rasa syukur. Kami berterima kasih kepada para sesepuh, pelaku budaya, masyarakat, Pemerintah Desa Sreto, para peserta, anak-anak Sanggar Piwulang Jawi dan seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini,” ujar Gus Arif.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi langkah berkelanjutan untuk mengembangkan budaya dan kearifan lokal.

Kusno selaku Bidang Hukum dan Wakil Panitia acara upacara Nata Jagat Nusantara memandang pelestarian budaya membutuhkan proses regenerasi. Karena itu, pendidikan seni dan budaya kepada anak-anak menjadi salah satu bagian penting yang terus didorong.

Pengenalan teater, aksara Jawa, tari Nusantara, serta berbagai bentuk kesenian lokal diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu menjadi pelaku dan penerus kebudayaan.

Dari kawasan Sendang Sreto, semangat tersebut diharapkan terus berkembang menjadi gerakan bersama untuk menjaga alam, merawat budaya, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap identitas Nusantara.

Upacara Nata Jagat Nusantara menjadi sebuah pesan bahwa kemajuan bangsa tidak harus meninggalkan akar budaya. Justru dari budaya, kearifan lokal, dan kesadaran generasi muda, jati diri bangsa dapat terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Alhamdulillah. Dua malam kegiatan berlangsung dengan sukses, khidmat dan penuh syukur. Dari Sendang Sreto, semangat merawat budaya dan kearifan lokal diharapkan terus menyala untuk Nusantara," pungkas Kusno. (*)