Dunia mengenal Pramoedya Ananta Toer sebagai sastrawan kelas dunia. Karyanya diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa. Namanya langganan masuk nominasi Nobel Sastra. Tapi di tanah airnya sendiri?
Pramoedya Ananta Toer adalah "hantu". Selama puluhan tahun, menyebut namanya adalah tabu Membaca bukunya adalah kriminal. la dipenjara oleh tiga rezim berbeda : Belanda, Orde Lama, dan paling lama di Orde Baru.
Apa kesalahan Pramoedya Ananta Toer? Apakah ia korupsi? Membunuh? Bukan.
Kesalahannya hanya satu : la menulis. Pramoedya Ananta Toer menulis tentang ketidakadilan, tentang rakyat kecil yang ditindas penguasa. Karena tulisannya dianggap "berbahaya", pada tahun 1965, ia diciduk.
Rumahnya dijarah. Perpustakaan pribadinya yang berisi ribuan arsip sejarah, dibakar habis di depan matanya. Tanpa pengadilan, Pram dibuang ke Pulau Buru. Tempat antah berantah bagi ribuan tahanan politik.
Di sana, Pramoedya Ananta Toer dipaksa kerja rodi membuka hutan. Makan tikus dan ular untuk bertahan hidup.
Penyiksaan fisik adalah makanan sehari-hari. Telinganya menjadi tuli permanen setelah dipukul popor senapan oleh tentara. Penguasa melarangnya memegang pena dan kertas. Mereka ingin mematikan kreativitasnya.
Tapi Pram punya cara. Setiap malam, di barak yang pengap, Dia "menulis" dengan mulutnya. la mendongengkan kisah Nyai Ontosoroh dan Minke kepada teman-teman sesama tahanan agar kisah itu tidak hilang dari ingatannya. Dari dongeng lisan itulah kelak lahir mahakarya "Bumi Manusia".
Ketika akhirnya diizinkan menulis (setelah tekanan internasional), kertas sangat langka. Pramoedya Ananta Toer menulis di bekas bungkusan semen. Tinta dibuat dari arang.
Naskah-naskah itu diselundupkan keluar Pulau Buru dengan risiko nyawa. Ada yang dijahit di dalam baju, ada yang disembunyikan di balik tanah.
Jika ketahuan, naskah itu akan dibakar dan Pram akan dihukum isolasi.
Pada tahun 1979, Pramoedya Ananta Toer dibebaskan dari Pulau Buru. Tapi apakah ia merdeka? Tidak. Statusnya adalah Eks-Tapol (Tahanan Politik). Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya diberi tanda khusus "ET".
Pramoedya Ananta Toer dikenai tahanan rumah. Harus lapor diri setiap minggu. Yang paling menyakitkan : Buku-bukunya dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung.
Mahasiswa yang ketahuan membaca "Bumi Manusia" bisa ditangkap dan dipenjara.
Pram tidak membalas penyiksaannya dengan senjata. la membalasnya dengan karya. Semakin ia dilarang, semakin bukunya dicari. Buku-bukunya disalin secara sembunyi-sembunyi, difotokopi dan dibaca di bawah selimut oleh generasi muda yang haus kebenaran.
la membuktikan ucapannya sendiri : "Kalian boleh maju dengan tank dan senapan, aku akan maju dengan kata-kata."
Pramoedya Ananta Toer wafat pada tahun 2006. la pergi membawa luka fisik dan batin yang tak pernah sembuh total. Namun, sejarah membuktikan siapa pemenangnya.
Rezim yang memenjarakannya telah tumbang dan dilupakan, tapi karya Pramoedya Ananta Toer abadi, dibaca dan dirayakan hingga hari ini.
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."
Editor : S. Anwar