Kisah Perjuangan M Shadiq Pasadigoe Jadi Bupati Tanah Datar

Reporter : Redaksi
Shadiq Pasadigoe

Panggung politik Sumatra Barat melahirkan banyak tokoh hebat, namun sedikit yang memiliki latar belakang sehistoris Ir. H. M. Shadiq Pasadigoe, S.H., M.M. Anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Partai NasDem ini tidak hanya dikenal sebagai mantan Bupati Tanah Datar dua periode yang sukses, tetapi juga sebagai pewaris api perjuangan pahlawan kemerdekaan.

Lewat dedikasi panjang dari seorang staf biasa di dinas perhubungan hingga menjadi salah satu legislator andalan Sumatra Barat di Senayan, Shadiq membuktikan bahwa integritas dan kerja keras adalah kunci utama dalam membangun daerah.

Makna di Balik Nama "Pasadigoe": Warisan Sang Ayah dari Pembuangan Papua

Lahir di Batusangkar pada 8 Januari 1960, Shadiq merupakan putra dari pasangan Mohamad Saleh Kari Sutan—atau yang lebih dikenal sebagai Pakiah Saliah—dan Asiah. Sang ayah bukan orang sembarangan; ia adalah seorang pejuang militan menentang kolonial Belanda asal Nagari Rao-rao. Akibat perlawanannya, pada tahun 1932, Belanda membuang Pakiah Saliah ke kamp tahanan politik paling ditakuti kala itu: Boven Digoel, Pulau Papua.

Nama "Pasadigoe" yang melekat di belakang nama Shadiq bukanlah nama keluarga biasa, melainkan sebuah akronim penuh penghormatan untuk sang ayah: Pakiah Saliah Digoel.

Lahir saat sang ayah sudah menginjak usia 62 tahun, Shadiq tumbuh dengan cerita kepahlawanan. Sang ayah wafat hanya tiga bulan setelah Shadiq menyelesaikan kuliahnya di Universitas Andalas pada tahun 1986. Warisan mental pejuang itulah yang membakar semangat Shadiq untuk terus belajar hingga merengkuh tiga gelar akademik sekaligus: Insinyur Peternakan (Unand), Sarjana Hukum (Universitas Ekasakti), dan Magister Manajemen (Universitas Negeri Padang).

Meniti Karier Birokrasi dari Bawah hingga Dipercaya Jadi Jenderal APKASI

Shadiq memulai pengabdiannya kepada negara benar-benar dari tingkat paling bawah sebagai staf biasa di Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Datar pada 1988. Setahun berselang, ia pindah ke Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Provinsi Sumatra Barat. Di dinas perhubungan ini, kariernya menanjak perlahan tapi pasti, mulai dari Kepala Seksi hingga didapuk sebagai Kepala Sub Dinas Keselamatan dan Teknik Sarana Angkutan Darat.

Sebelum terjun ke politik praktis pada tahun 2005, kapasitasnya yang serba bisa membuat ia dipromosikan menjadi Wakil Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumatra Barat.

Nakhoda Dua Periode Tanah Datar dan Staf Ahli Menpan-RB

Setelah sempat gagal pada pemilihan sistem perwakilan di DPRD tahun 2000, takdir kepemimpinan Shadiq terbuka lebar saat sistem Pilkada langsung pertama kali digelar pada 25 September 2005. Maju menggandeng Aulizul Syuib, pasangan yang diusung Partai Golkar ini menang meyakinkan dan resmi memimpin Tanah Datar.

Kinerjanya yang dicintai masyarakat membuatnya kembali terpilih untuk periode kedua (2010–2015), kali ini berpasangan dengan Hendri Arnis. Selama menjabat sebagai bupati, reputasi kepemimpinan Shadiq diakui secara nasional hingga ia didaulat menjadi Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) periode 2011–2015.

Usai purnatugas sebagai bupati, Shadiq kembali ke dunia birokrasi melalui lelang jabatan terbuka di tingkat pusat. Ia sukses menempati posisi mentereng sebagai Inspektur III Itjen Kemendagri (2016) dan mengakhiri karier PNS-nya sebagai Staf Ahli Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah pada tahun 2018.

Melangkah ke Senayan: Duo Politikus Tangguh Bersama Sang Istri

Darah politik rupanya mengalir kuat di keluarga Shadiq. Ia menikah dengan Hj. Betti Zulfina (Betti Shadiq Pasadigoe), seorang akuntan lulusan Unand yang juga politikus ulung dan sudah lebih dulu menembus Senayan sebagai Anggota DPR RI periode 2014–2019.

Sempat gagal pada Pemilu tahun 2019 lewat PAN, Shadiq menunjukkan mentalitas pantang menyerah khas ayahnya. Berlabuh ke Partai NasDem pada Pemilu 2024, ia bertarung di Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatra Barat I. Hasilnya luar biasa, Shadiq sukses mengamankan satu kursi DPR RI setelah meraup 50.458 suara sah dan resmi dilantik di Senayan pada 1 Oktober 2024.

Meskipun sempat didera duka mendalam atas berpulangnya putri keduanya, Nabila Mira Miranda, pada tahun 2021, Shadiq bersama istri dan keempat anak lainnya tetap tegar. Kini, dari ruang sidang DPR RI, anak pejuang Digoel ini melanjutkan estafet perjuangan sang ayah—bukan lagi melawan penjajah, melainkan memperjuangkan kesejahteraan dan otonomi daerah bagi masyarakat Sumatra Barat. (*)

*) Source : Nasrul Koto Ps

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru