Dalam sejarah Kesultanan Malaka pernah berdiri seorang Sultan yang rela meninggalkan kemewahan istana demi memastikan rakyatnya hidup dengan aman?
Beliau adalah Sultan Alauddin Riayat Syah I, sultan ketujuh Kesultanan Malaka yang memerintah sekitar tahun 1477 hingga 1488 Masehi. Masa pemerintahannya memang singkat, tetapi dikenang sebagai salah satu pemimpin yang paling adil dan tegas dalam sejarah Malaka.
Baca juga: Kodaeral IV Batam Gagalkan Penyelundupan 25,9 Ton Pasir Timah
Pada masa itu, Malaka merupakan pelabuhan internasional yang sangat ramai. Pedagang dari Arab, India, Tiongkok, hingga Nusantara berdatangan setiap hari. Ramainya aktivitas perdagangan juga memunculkan berbagai tindak kejahatan, seperti perampokan dan pencurian.
Namun Sultan Alauddin tidak hanya memerintah dari balik singgasana. Menurut catatan sejarah Melayu, beliau sering menyamar sebagai rakyat biasa pada malam hari. Tanpa pengawalan kerajaan, beliau berkeliling kota untuk melihat langsung keadaan masyarakat dan memastikan para penjaga benar-benar menjalankan tugasnya. Dari penyamaran itulah beliau mengetahui berbagai persoalan yang tidak selalu sampai ke telinga istana.
Siapa pun yang terbukti melakukan kejahatan akan dihukum tanpa memandang kedudukan atau status. Ketegasan itu membuat keamanan Malaka semakin baik dan para pedagang merasa nyaman berdagang di bandar yang menjadi pusat perdagangan Asia Tenggara tersebut.
Baca juga: Djamaluddin Tamim Jadi Tangan Kanan Tan Malaka
Sayangnya, masa pemerintahan beliau tidak berlangsung lama. Pada tahun 1488 M, Sultan Alauddin Riayat Syah I wafat di daerah Pagoh ketika usianya diperkirakan baru sekitar 30 tahun. Banyak sejarawan menduga bahwa beliau meninggal akibat diracun, meskipun penyebab pastinya tidak pernah dapat dipastikan. Beliau juga belum sempat mewujudkan keinginannya untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah.
Sepeninggal beliau, takhta Kesultanan Malaka diteruskan oleh putranya, Sultan Mahmud Syah. Pada masa pemerintahan inilah Malaka akhirnya jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, mengakhiri kejayaan salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara.
Baca juga: Hasan Nasbi, Pengagum Pemikiran Tan Malaka Jadi Komisaris Pertamina
Kisah Sultan Alauddin Riayat Syah I mengajarkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak hanya memerintah dari istana, tetapi juga turun langsung melihat kehidupan rakyatnya.
Warisan kepemimpinannya tetap dikenang sebagai teladan keadilan, keberanian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam sejarah Kesultanan Malaka. (*)
Editor : Redaksi