Djamaluddin Tamim Jadi Tangan Kanan Tan Malaka
Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tak pernah lepas dari sumbangsih besar para pemikir radikal asal Ranah Minang. Di antara sekian banyak nama, ada satu tokoh kunci yang bergerak di bawah tanah bersama Sang Bapak Republik, Tan Malaka, namun namanya jarang terulas di buku sejarah sekolah. Sosok legendaris itu adalah Djamaluddin Tamim.
Dari Sumatra Thawalib ke Jeruji Besi Cipinang
Lahir pada 18 November 1900, Djamaluddin Tamim merupakan intelektual muda yang mengeyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan sekolah Islam modern legendaris, Sumatra Thawalib Padang Panjang. Jiwa pergerakannya sudah membara sejak usia belia. Begitu tamat, ia bahkan sempat mengajar di almamaternya tersebut.
Pada tahun 1923, bersama Ahmad Khatib Datuk Batuah, ia mendirikan Sarekat Islam (SI) Seksi Padang Panjang yang berhaluan kiri (SI Merah) dan dipercaya sebagai sekretaris merangkap bendahara. Ketajaman penanya sebagai wartawan membuat pemerintah kolonial gerah. Akibat tulisan kritisnya di koran Pemandangan Islam yang mengecam penangkapan para aktivis, Djamaluddin dijatuhi hukuman 15 bulan penjara di Cipinang sebelum akhirnya dipindahkan ke Padang dan bebas pada September 1925.
Mendirikan PARI di Bangkok Bersama Tan Malaka
Pasca-pemberontakan Silungkang 1927, Djamaluddin melarikan diri ke Singapura dan menjadi pengikut setia serta orang kepercayaan Tan Malaka. Menggunakan nama samaran "Tunarman", ia terus bergerilya lewat tulisan di koran Bintang Timur untuk membela para tokoh pergerakan yang ditindas Belanda.
Puncak pergerakan internasionalnya terjadi pada 2 Juni 1927 di Bangkok, Thailand. Bersama Tan Malaka dan Subakat, Djamaluddin Tamim mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI). Partai bawah tanah ini mengusung visi raksasa: membangun jaringan proletar di Asia Tenggara hingga Australia.
Djamaluddin ditunjuk menjadi motor penggerak utama untuk wilayah Hindia Belanda, Malaysia, dan Singapura. Ia mendidik kader-kader ideologis tingkat tinggi lewat kursus rahasia dan mengirim mereka langsung ke persembunyian Tan Malaka di Bangkok untuk digembleng secara politik.
Penderitaan di Digul hingga Memimpin Gerakan di Australia
Aktivitas radikal lintas negara ini membuat intelijen Inggris meradang. Pada September 1932, ia ditangkap di Singapura dan diserahkan kepada Belanda, yang kemudian membuangnya ke kamp pengasingan paling mematikan di Papua: Boven Digul.
Ketika Perang Dunia II pecah dan Jepang mendarat di Nusantara, Djamaluddin bersama para tahanan Digul dievakuasi oleh sekutu ke Brisbane, Australia. Di negeri kangguru itulah, sesaat setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan di Jakarta, Djamaluddin memimpin pembentukan Central Komite Indonesia Merdeka (Cenkim) pada 21 September 1945 untuk menggalang dukungan internasional bagi kemerdekaan Indonesia.
Beliau akhirnya pulang ke tanah air pada tahun 1946. Hingga akhir hayatnya pada 1 April 1977, dedikasinya pada ideologi perjuangan tidak pernah luntur. Bahkan dalam keadaan sakit pada tahun 1957, ia masih sempat menulis buku untuk memperingati sewindu wafatnya sang mentor, Tan Malaka. (*)
Editor : S. Anwar