Sejarah kemerdekaan Indonesia kerap melahirkan figur-figur unik dengan bakat yang multidimensi. Salah satu yang paling fenomenal adalah Adnan Kapau Gani, atau yang lebih dikenal sebagai A.K. Gani. Lahir di Palembayan, Provinsi Sumatera Barat, pada 16 September 1905, putra Minang ini tidak hanya dikenal sebagai seorang dokter dan politikus ulung, melainkan juga seorang aktor film, tokoh militer, hingga "penyelundup" ulung demi menyokong dana perjuangan Republik Indonesia.
Pendidikan Kedokteran yang BerlikuA.K. Gani lahir dari pasangan Abdul Gani Sutan Mangkuto, seorang guru Sekolah Rakyat, dan Rabayah. Setelah ibunya wafat pada 1915, Gani bersama empat saudara kandungnya diasuh oleh ibu sambungnya, Aminatul Habibi.
Gani menyelesaikan pendidikan awalnya di Bukittinggi pada tahun 1923 sebelum akhirnya merantau ke Batavia (Jakarta) untuk mengejar cita-cita menjadi dokter. Perjalanannya menempuh pendidikan tinggi terbilang berliku.
Ia sempat masuk ke sekolah kedokteran STOVIA, namun sekolah tersebut ditutup pada tahun 1927. Gani terpaksa pindah ke sekolah menengah AMS hingga lulus pada tahun 1928.
Setahun kemudian, tekadnya membawa Gani masuk ke Sekolah Tinggi Kedokteran Geneeskundige Hoge School (GHS) Jakarta, dan ia berhasil menyandang gelar dokter pada tahun 1940.
Sejak muda, Gani sudah kepincut dunia pergerakan. Ia aktif menjabat sebagai Sekretaris Jong Sumatranen Bond (1927–1929) mendampingi Muhammad Yamin yang kala itu menjadi ketua. Tak hanya itu, Gani juga menjadi salah satu aktor penting yang terlibat langsung dalam peristiwa bersejarah Kongres Pemuda II pada tahun 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda.
Kontroversi Dunia Akting
Membintangi Film Asmara MoerniSisi paling unik dari seorang dr AK Gani terjadi pada tahun 1941. Di tengah memanasnya suhu politik, ia justru terjun ke dunia seni peran dengan membintangi film berjudul Asmara Moerni produksi The Union Film Company.
Berpasangan dengan aktris Djoewariah dan disutradarai oleh Rd. Ariffien, keterlibatan Gani sempat memicu kritik keras dari sesama aktivis pergerakan yang menilai keputusannya mendiskreditkan perjuangan kemerdekaan.
Namun, Gani bergeming. Ia berargumen bahwa keterlibatannya justru untuk menaikkan kelas dan kualitas perfilman lokal yang kala itu didominasi asing. Terbukti, film satu-satunya yang ia bintangi tersebut sukses besar secara komersial di pasaran.
Menolak Jepang dan Menjadi "Lokomotif Ekonomi" Sumatera Selatan
Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Gani menunjukkan sikap tegas. Ia menolak keras bekerja sama dengan penjajah, yang berujung pada penangkapannya oleh fasis Jepang dari September 1943 hingga Oktober 1944.
Pasca-proklamasi, taring Gani di dunia politik dan militer kian tajam. Ia ditunjuk menjadi Komisaris PNI dan Residen Sumatera Selatan. Di sinilah kecerdasan strategis Gani diuji. Ia melihat Palembang sebagai "lokomotif ekonomi" yang vital bagi kelangsungan hidup negara baru ini.
Gani memanfaatkan ladang minyak Palembang untuk menggalang dukungan internasional. Ia dengan cerdik bernegosiasi menjual aset-aset asing, termasuk perusahaan minyak Belanda, Shell.
Tak hanya itu, menggunakan jaringan luasnya di Singapura, Gani mengotaki operasi penyelundupan senjata dan perlengkapan militer skala besar untuk menyuplai pasukan Indonesia di garis depan.
Menteri, Wakil Perdana Menteri, hingga Rektor PertamaKarier politiknya di tingkat nasional meroket tajam.
Berikut adalah sepak terjang Gani di pemerintahan :
1946 – 1947
Menjabat Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Sjahrir III. Ia juga diutus sebagai delegasi Indonesia bersama Sutan Sjahrir dan Mohammad Roem dalam Perjanjian Linggarjati.
1947
Menjadi formatur kabinet bersama Amir Sjarifuddin dan Setyadjit Soegondo.
1947 – 1948
Menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II. Ia sempat ditangkap Belanda saat Agresi Militer I namun kemudian dibebaskan.
Setelah badai revolusi fisik mereda pada tahun 1949, Gani kembali ke daerah dan menjabat sebagai Gubernur Militer Sumatera Selatan. Dedikasinya terhadap dunia pendidikan pun dibuktikan saat ia diangkat menjadi rektor pertama Universitas Sriwijaya (Unsri) di Palembang pada tahun 1954.
Akhir Hayat dan Penghargaan NegaraSang "Dokter Pejuang" ini mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Charitas, Palembang, pada 23 Desember 1968 dalam usia 63 tahun.
Gani wafat dengan meninggalkan seorang istri bernama Masturah, tanpa memiliki keturunan. Jasadnya dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di Taman Makam Pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang.
Atas jasa-jasanya yang luar biasa bagi Republik, pada 9 November 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada dr. A.K. Gani melalui Keppres nomor 066/TK/2007.
Kini, namanya abadi sebagai nama Rumah Sakit Tk. II dr AK Gani di Palembang, nama ruas jalan di berbagai daerah, serta berdirinya Museum dr AK Gani di Kota Palembang guna mengenang heroisme sang jurnalis, aktor, dan diplomat ulung tersebut. (*)
Editor : S. Anwar