Mohammad Yamin, Sang Arsitek Sumpah Pemuda

Reporter : M Ruslan
Mohammad Yamin

Jika ada satu nama yang paling bertanggung jawab dalam merajut keberagaman suku di Nusantara menjadi satu identitas bernama "Indonesia", orang itu adalah Mohammad Yamin. Lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat pada 24 Agustus 1903, putra dari pasangan Usman Baginda Khatib dan Siti Saadah ini adalah seorang maestro multidimensi. 

Ia merupakan sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, sekaligus ahli hukum yang meletakkan fondasi utama persatuan bangsa. Atas jasa-jasa besarnya, negara menghormatinya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sejak tahun 1973.

Baca juga: Peringatan Sumpah Pemuda Komitmen Bersama majukan Bangsa

Intelektual Muda yang Gagal ke Belanda

Yamin tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat menghargai pendidikan. Ayahnya memiliki 16 anak dari lima istri, yang hampir seluruhnya kelak tumbuh menjadi kaum intelektual berpengaruh—termasuk sang kakak, Djamaluddin Adinegoro, yang menjadi wartawan legendaris Indonesia.

Yamin menyelesaikan pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Palembang, sebelum melanjutkan ke Algemeene Middelbare School (AMS) di Surakarta (Solo). Di Solo, ia jatuh cinta pada sejarah purbakala dan mendalami bahasa-bahasa klasik seperti Yunani, Latin, dan Kaei.

Setamat dari Algemeene Middelbare School, Mohammad Yamin sebenarnya berencana melanjutkan kuliah ke Leiden, Belanda. Namun, kepergian sang ayah memaksanya mengubur impian tersebut. Ia akhirnya memilih kuliah di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum Jakarta, kini Fakultas Hukum UI) dan sukses menyandang gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) pada tahun 1932.

Pelopor Puisi Modern dan Otak di Balik Sumpah Pemuda

Kiprah Mohammad Yamin di dunia sastra dimulai pada dekade 1920-an. Melalui jurnal berbahasa Belanda Jong Sumatra, ia mulai merilis karya-karyanya. Pada tahun 1922, Mohammad Yamin menorehkan tinta emas dengan merilis kumpulan puisi berjudul Tanah Air—yang kala itu merujuk pada tanah kelahirannya, Minangkabau. Karya ini tercatat sebagai himpunan puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkan di Indonesia.

Namun, lompatan terbesar kesusastraan sekaligus politiknya terjadi pada 28 Oktober 1928 melalui karya bertajuk Tumpah Darahku. Momentum ini bertepatan dengan Kongres Pemuda II di Jakarta.

Sebagai salah satu motor penggerak Jong Sumatranen Bond, Mohammad Yamin lah yang menyusun teks ikrar monumental yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Dengan kecerdasan linguistiknya, ia mendesak dan menetapkan Bahasa Indonesia (yang berakar dari Bahasa Melayu) sebagai bahasa persatuan yang tunggal.

Sepak Terjang Politik: Dari Volksraad hingga Kontroversi BPUPKI

Karier politik Yamin bergerak dinamis di jalur hukum dan pergerakan. Setelah meraih gelar sarjana hukum, ia aktif sebagai advokat sekaligus mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) bersama Adnan Kapau Gani dan Amir Sjarifuddin pada 1937. Sempat dikeluarkan dari Gerindo karena dinilai melanggar aturan internal, ia mendirikan Partai Persatuan Indonesia (Parpindo) dan sempat mencicipi kursi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) pada 1939.

Pada masa pendudukan Jepang, Yamin bergabung dengan PUTERA sebelum akhirnya terpilih menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 1945. Di forum krusial ini, gagasan Yamin sangat visioner sekaligus berani:

Baca juga: Prajurit Puspenerbal Gelar Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda

Ia menjadi tokoh yang paling gigih memperjuangkan agar Hak Asasi Manusia (HAM) dimasukkan ke dalam konstitusi negara.

Ia mengusulkan wilayah Indonesia merdeka yang luas, meliputi Sarawak, Sabah, Semenanjung Malaya, Timor Portugis, hingga seluruh bekas Hindia Belanda—sebuah ide yang didukung penuh oleh Soekarno.

Polemik Sejarah: Klaim Pencetus Pancasila dan Piagam Jakarta

Mohammad Yamin juga terlibat dalam salah satu perdebatan sejarah paling menarik. Ia mengklaim telah menyampaikan pidato tentang lima prinsip dasar negara pada 29 Mei 1945—dua hari sebelum Soekarno berpidato tentang Pancasila pada 1 Juni. Meski klaim tertulis Yamin ini dipertanyakan oleh tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Hatta, Mr. Soebardjo, hingga Prof. Sunario, tak bisa dimungkiri bahwa Yamin adalah satu-satunya orang yang memiliki catatan paling lengkap tentang sidang-sidang BPUPKI, yang kemudian ia bukukan pada tahun 1959.

Mohammad Yamin juga merupakan anggota Panitia Sembilan. Berkat andil besarnya dalam merancang rumusan pembukaan undang-undang dasar, ia mengusulkan nama dokumen historis tersebut sebagai Piagam Jakarta.

Menteri "Tangan Besi" yang Membebaskan Tahanan Politik

Pasca-kemerdekaan, kepercayaan Presiden Soekarno kepada Mohammad Yamin tak pernah luntur. Ia bolak-balik menduduki jabatan menteri strategis, mulai dari Menteri Kehakiman, Menteri Pendidikan, hingga Menteri Penerangan.

Baca juga: Pimpin Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Kakanwil Ingatkan Semangat Gotong Royong

Saat menjabat sebagai Menteri Kehakiman (1951), Yamin mewarisi masalah pelik: ada sekitar 17.000 tahanan politik dari kabinet sebelumnya yang dipenjara tanpa proses hukum karena dituduh komunis atau sosialis. Dengan berani, Yamin langsung membebaskan 950 tahanan politik tersebut. Langkah ini memicu protes keras dari DPR. Menghadapi kecaman tersebut, Yamin dengan tegas menjawab, "Saya tanggung jawab!"

Ketika bergeser menjadi Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan (1953–1955), Yamin menjadi motor penggerak modernisasi pendidikan tinggi. Ia menginisiasi pendirian berbagai universitas negeri dan swasta di penjuru Indonesia, termasuk Universitas Andalas di Padang dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung.

Kehidupan Pribadi, Warisan, dan Akhir Hayat

Dalam kehidupan pribadinya, Mohammad Yamin mempersunting Siti Sundari, seorang putri bangsawan asal Kadilangu, Demak, Jawa Tengah pada tahun 1937. Pernikahan ini dikaruniai seorang putra, Dang Rahadian Sinayangsih Yamin, yang kelak menikah dengan putri tertua Mangkunegara VIII. Hingga hari ini, darah intelektual dan budaya Mohammad Yamin masih mengalir pada keturunannya, termasuk cicitnya, Rania Maheswari Yamin, yang kini dikenal sebagai publik figur muda yang aktif mengampanyekan kelestarian kebaya dan kain batik di kalangan generasi Z.

Sang "pencipta imaji keindonesiaan" ini akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada 17 Oktober 1962. Jasadnya dipulangkan ke tanah kelahirannya dan dimakamkan dengan khidmat di Talawi, Sawahlunto. Mohammad Yamin telah tiada, namun setiap kali bahasa Indonesia diucapkan dan setiap kali Sumpah Pemuda dikumandangkan, spirit dan buah pikirannya akan selalu hidup menjaga keutuhan Republik Indonesia. (*)

*) Source : Nasrul Koto Ps

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru