Bagi Anda yang tumbuh besar di era 1980-an atau 1990-an, istilah KUD atau Koperasi Unit Desa pasti sudah tidak asing lagi. Di pelosok desa, KUD adalah urat nadi ekonomi para petani. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, siapa sosok jenius yang pertama kali menggagas sistem penopang pangan nasional ini?
Beliau adalah Profesor Ir Soedarsono Hadisapoetro. Sosok akademisi sekaligus menteri penjelajah yang tidak hanya sukses menata sistem pertanian desa, tetapi juga menjadi pelopor lahirnya belasan Taman Nasional pertama di Indonesia. Sebuah rekam jejak luar biasa yang kini jarang diketahui generasi muda.
Baca juga: Misteri Sapi Kurban Presiden Republik Indonesia
Dari Kampus UGM hingga Menjadi Tangan Kanan Presiden Soeharto
Lahir pada 15 Juli 1921, Soedarsono muda mengawali kariernya dari bawah sebagai Kepala Kantor Pertanian di Karesidenan Pekalongan pada masa peralihan (1942–1946). Otaknya yang encer di bidang agraris membawanya masuk ke dunia akademis, hingga dikukuhkan sebagai Guru Besar di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1970.
Melihat kepakaran dan integritasnya, Presiden Soeharto kemudian memanggil sang profesor untuk masuk ke dalam Kabinet Pembangunan III sebagai Menteri Pertanian. Di sinilah insting akademisi dan eksekutor lapangannya bersatu.
Arsitek KUD, BIMAS, dan Panglima Pembasmi Hama Wereng
Sebagai menteri, Prof. Soedarsono tahu betul bahwa kemakmuran negara agraria dimulai dari kesejahteraan petaninya. Pada awal tahun 1980-an, ia menginisiasi program revolusioner:
Koperasi Unit Desa (KUD) dan Badan Usaha Unit Desa (BUUD): Didirikan sebagai tameng ekonomi agar tengkulak tidak mempermainkan harga gabah milik petani.
Program BIMAS & INMAS: Sistem bimbingan dan intensifikasi massal yang berhasil menyulap ladang-ladang tradisional menjadi lumbung padi yang super produktif.
Baca juga: Penyebab Keretakan Hubungan Soeharto Dan Benny Moerdani
Hebatnya lagi, saat Indonesia dihantam badai serangan hama wereng dan banjir yang mengancam stok beras nasional, Soeharto menunjuk langsung Prof. Soedarsono untuk memimpin operasi darurat tersebut. Hasilnya? Indonesia berhasil melewati masa-masa kritis pangan dengan gemilang.
"Swasembada gula memang menjadi beban pemerintah selama bertahun-tahun, dan kita masih terus mencari jalan keluar terbaik."
— Salah satu kutipan jujur Prof. Soedarsono yang menunjukkan karakternya yang realistis dan anti-asal bapak senang (ABS).
Pahlawan Lingkungan: Pencetus 11 Taman Nasional Pertama
Satu hal yang paling jarang diketahui publik adalah warisan besarnya di bidang pelestarian alam. Prof. Soedarsono bukan sekadar memikirkan cara mengeksploitasi lahan untuk padi, ia juga sangat peduli pada masa depan hutan Indonesia.
Baca juga: Jenderal Basuki Rahmat, Saksi Kunci Pembawa Surat Supersemar
Memanfaatkan momentum internasional Kongres Taman Nasional Ketiga di Bali pada 14 Oktober 1982, Prof. Soedarsono secara berani mendeklarasikan 11 kawasan suaka alam pertama di Indonesia untuk bertransformasi menjadi calon Taman Nasional atau kawasan pelestarian alam yang dilindungi ketat oleh undang-undang. Hutan-hutan konservasi yang kita nikmati keasriannya hari ini adalah buah dari ketegasannya di masa lalu.
Mengabdi Hingga Akhir Hayat
Prof. Soedarsono Hadisapoetro mengembustus napas terakhirnya di Jakarta pada 10 Juni 1988 dalam usia 67 tahun. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi negara terhadap sumbangsih besarnya yang mengubah lanskap pertanian dan konservasi alam, jasad sang profesor kini bersemayam di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
Kisah hidupnya adalah bukti nyata bahwa kombinasi antara ilmu pengetahuan di kepala dan ketulusan bekerja di lapangan bisa menyelamatkan hajat hidup orang banyak. (*)
Editor : S. Anwar