Kisah Jenderal Agum Gumelar Sebagai Penyelamat PSSI

Reporter : Redaksi
Agum Gumelar

Dalam konstelasi elite militer dan politik tanah air, Jenderal TNI (Purn.) Agum Gumelar adalah sosok multidimensi yang langka. Lahir pada 17 Sertember 1945, lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1968 ini tidak hanya mengukir tinta emas di medan operasi intelijen bersama Korps Baret Merah (Kopassus), tetapi juga dikenal sebagai birokrat ulung, penasihat presiden, hingga sang penyelamat di kala sepak bola Indonesia dilanda badai krisis organisasi.

Kehadirannya di berbagai lini strategis nasional menegaskan reputasinya sebagai salah satu putra terbaik bangsa yang kenyang akan pengalaman kepemimpinan.

Baca juga: Sosok Muhammad Benrieyadin Anak dari Sjafrie Sjamsoeddin

Dari Intelijen Baret Merah hingga Gubernur Lemhannas

Agum Gumelar mengawali pengabdian militernya pada tahun 1969 usai menamatkan pendidikan di Magelang. Sejak muda, bakatnya di bidang intelijen dan keamanan sudah terasah tajam ketika ditunjuk sebagai staf Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) pada tahun 1973.

Karier militernya melesat melalui berbagai posisi komando yang sangat disegani:

Wakil Asisten Intelijen Kopassus (1987–1990): Menempa kemampuannya di korps elite baret merah.

Danrem 043/Garuda Hitam (1992): Memimpin komando teritorial di wilayah Lampung.

Danjen Kopassus & Direktur A BAIS ABRI (1993): Menduduki kursi tertinggi komando pasukan khusus sekaligus memegang peran kunci intelijen strategis negara.

Pangdam VII/Wirabuana (1996–1998): Mengawal stabilitas keamanan wilayah Sulawesi.

Gubernur Lemhannas (1998–1999): Menjadi nakhoda lembaga ketahanan nasional di awal masa transisi reformasi.

Menteri Lintas Kabinet dan Kiprah Politik Praktis

Memasuki masa purnabakti dari dunia militer, kepiawaian Agum dalam manajerial membuat para kepala negara kepincut untuk menariknya ke dalam pemerintahan. Pada era Presiden ke-4 RI, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Agum dipercaya menjabat sebagai Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi (1999) dalam Kabinet Persatuan Nasional. Ketangguhannya membuat Gus Dur kemudian menunjuknya sebagai Menko Polsoskam dan merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan pada Juli 2001.

Memasuki era Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, ia kembali dipercaya mengomandani sektor transportasi sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Gotong Royong (2001–2004). Jiwa kepemimpinannya juga membawanya masuk ke arena kontestasi nasional, mulai dari maju sebagai Calon Wakil Presiden mendampingi Hamzah Haz pada Pilpres 2004 hingga menjadi Calon Gubernur pada Pilgub Jawa Barat 2008.

Baca juga: Suhatman Imam, Legenda Semen Padang yang Pencetak Generasi Emas

Atas komitmen dan pengalamannya yang matang, pada tahun 2018, Presiden Joko Widodo melantik Agum Gumelar sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) untuk memberikan masukan strategis terkait pembangunan nasional dan kebijakan negara.

Bapak Sepak Bola dan Juru Damai Krisis PSSI

Bagi publik luas, nama Agum Gumelar tidak bisa dipisahkan dari dunia si kulit bundar. Dedikasinya pada sepak bola nasional sudah dimulai sejak era 1980-an ketika ia mengurus Persija Timur, memimpin Liga Amatir PSSI, hingga mendirikan Liga Indonesia (Ligina).

Puncaknya, ia terpilih menjadi Ketua Umum PSSI periode 1999–2003, yang dilanjutkan dengan amanah sebagai Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pusat periode 2003–2007.

Ketika sepak bola Indonesia berada di titik nadir akibat kisruh internal kepengurusan pada tahun 2011, dunia internasional berpaling pada sosoknya. Komite Darurat FIFA secara resmi menunjuk Jenderal Agum Gumelar sebagai Ketua Komite Normalisasi PSSI. Dengan ketenangan dan ketegasannya, ia berhasil menormalisasi organisasi dan menyelamatkan Indonesia dari sanksi berat sepak bola global saat itu.

Poros Unik "Dinasti Menteri" Lintas Generasi

Baca juga: Kisah Heroik Rambo Indonesia Rela Jadi Martir Demi Jiwa Korsa

Di luar karier militernya yang cemerlang, kehidupan pribadi Jenderal Agum Gumelar menyimpan catatan sejarah yang unik dan barangkali tiada duanya di Indonesia. Pernikahannya dengan Linda Amalia Sari pada 12 Mei 1974 melahirkan sebuah lingkaran keluarga politik dan birokrasi papan atas yang mengabdi sebagai menteri di berbagai era presiden :

Mertua (Achmad Tahir): Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi di era Presiden Soeharto.

Diri Sendiri (Agum Gumelar): Menteri Perhubungan, Menko Polsoskam, dan Menhan di era Presiden Gus Dur & Megawati.

Istri (Linda Amalia Sari): Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di era Presiden SBY.

Menantu (Taufik Hidayat): Legenda bulu tangkis dunia yang menikahi putrinya, Ami Gumelar, kini menjabat sebagai Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga di bawah Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto. (*)

*) Source : Nasrul Koto PSU

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru