Dari toko ponsel kecil, Hengky Setiawan membangun Telesindo hingga mencatat omzet lebih dari Rp 6,9 triliun per tahun dan dikenal sebagai “Raja Voucher”. Namun ekspansi agresif, perubahan pasar, kerugian, dan beban utang membawa TELE ke titik pailit. Sebuah perjalanan bisnis tentang betapa cepat kejayaan bisa berbalik arah.
Wajahnya Pernah Ada di Mana-Mana
Sekitar satu dekade lalu, wajah Hengky Setiawan bahkan terpampang di badan bus Jakarta dan billboard strategis. Dengan ponsel TiPhone di tangan, sang chairman tampil seperti selebriti.
Salah satunya terlihat di jalur keluar Bandara Soekarno-Hatta, tempat mitra bisnisnya dari luar negeri juga bisa melihatnya. Untuk ukuran pemilik perusahaan, langkah menjadi bintang iklan produknya sendiri terbilang tak biasa.
Bintang Iklan Karena Budget Terbatas
Awalnya Hengky ingin menggandeng Anang dan Krisdayanti yang sedang naik daun untuk mengiklankan TiPhone. Tetapi harga yang diminta dinilai terlalu tinggi, sementara anggarannya terbatas.
Hengky mengambil jalan pragmatis, dirinya sendiri yang menjadi model. Ada yang menganggapnya terlalu percaya diri, ada pula yang memuji keberaniannya. Gaya "out of box" semacam ini memang kemudian melekat pada sosok yang oleh rekan-rekannya dijuluki Si Jangkung.
Berawal Dari Toko Ponsel Kecil
Jauh sebelum billboard dan perusahaan terbuka, ceritanya dimulai pada 1992. Hengky mendirikan Telesindo di Jakarta dari bisnis jual-beli ponsel bekas dan sebuah toko kecil.
Perlahan bisnis itu berkembang menjadi jaringan distribusi pulsa, kartu perdana, serta ritel ponsel lewat Telesindo Shop. Perusahaan tersebut resmi berbadan hukum pada 2001, lalu berekspansi agresif dengan membuka gerai di berbagai kota Indonesia.
Lahir Julukan Raja Voucher
Telesindo kemudian menjadi dealer nasional untuk pemasaran voucher isi ulang operator seperti Telkomsel, Telkom Flexi, dan Excelcomindo Pratama atau XL. Di masa jayanya, omzet perusahaan disebüt menembus lebih dari Rp 6,9 triliun per tahun.
Telesindo yang menjadi mitra utama Telkomsel juga memenangkan penghargaan sebagai ritel seluler nomor satu selama lima kali berturut-turut sejak tahun 2006. Dari sinilah Hengky dikenal luas sebagai "Raja Voucher."
Kesuksesan Nexian Mengubah Arah
Hengky ternyata tak puas hanya mendistribusikan pulsa dan menjual Nokia, Samsung, LG, serta merek global lainnya. Kesuksesan Nexian pada tahun 2008-2010 membuatnya melihat peluang lain.
Saat itu Nexian digemari berkat dual SIM, TV analog, dan desain QWERTY bergaya BlackBerry. Pada tahun 2008, Hengky mendirikan PT TiPhone Mobile Indonesia dan memperkenalkan ponsel TiPhone, menyasar konsumen low end dengan harga terjangkau.
Ekspansi Terus Dibuka Lebar
Ambisinya tidak berhenti pada penjualan perangkat. Pada tahun 2010, Hengky masuk ke bisnis layanan servis ponsel dan content provider melalui PT Setia Utama Service dan PT Media Aplikasi.
Setahun kemudian, seluruh perusahaan miliknya dikonsolidasikan dalam satu holding, PT TiPhone Mobile Indonesia. Materi menyebut perusahaan kemudian dibawa ke bursa melalui IPO pada tahun 2012 dengan kode saham TELE, yang belakangan berganti nama menjadi PT Omni Inovasi Indonesia Tbk.
Kerajaannya Pernah Sangat Besar
Menjelang fase pasar modal itu, skala bisnis Hengky sudah jauh meninggalkan toko kecil tempat semuanya bermula. Sepanjang 2011, TELE disebut memiliki sekitar 500 toko, lebih dari seratus service center, 6.000 karyawan, serta ratusan ribu reseller aktif di seluruh Indonesia.
Hengky kemudian memperluas bisnis ke sektor lain, termasuk properti, otomotif, dan teknologi digital. Dari luar, kerajaan bisnisnya terlihat terus membesar.
Persaingan Mulai Berubah
Masalah muncul ketika ekspansi yang semakin luas harus berhadapan dengan perubahan industri. TiPhone mulai kesulitan ketika merek-merek China membanjiri pasar Indonesia dengan teknologi dan fitur yang lebih kompetitif.
Merek lokal yang pernah cukup populer itu akhirnya menghilang, mengikuti jejak Nexian dan sejumlah pemain lokal lainnya. Ambisi besar serta ekspansi yang terlalu cepat juga membuat kerajaan bisnis Hengky semakin sulit dikelola.
Angka Tele Mulai Terjun
Tekanan disebut mulai terlihat sejak tahun 2019 ketika TELE mulai mencatat rugi bersih beruntun. Pada semester 1-2025, pendapatannya tinggal Rp 295 miliar, turun tajam dari Rp 1,46 triliun setahun sebelumnya.
Laba kotor menyusut dari Rp 10,9 miliar menjadi Rp 1,1 miliar. Setelah beban administrasi dan biaya keuangan, kerugian bersih mencapai Rp 27,3 miliar, membesar dari rugi Rp 18,9 miliar pada periode sebelumnya.
Utangnya Jauh Melampaui Aset
Per 30 Juni 2025, total aset TELE tercatat Rp 93,75 miliar, turun dari Rp 97,53 miliar pada akhir tahun 2024. Aset lancarnya Rp 60,7 miliar, sedangkan aset tetap turun dari Rp 35 miliar menjadi Rp 28,3 miliar.
Di sisi lain, total liabilitas mencapai Rp 4,83 triliun sekitar Rp 3,18 triliun berupa utang bank dan Rp 866 miliar utang obligasi. Defisiensi modal pun mencapai Rp 4,74 triliun.
Arus Kas Ikut Tercekik
Tekanan tidak berhenti di neraca. Aktivitas operasi TELE menghasilkan arus kas negatif sekitar Rp 4,17 miliar.
Perusahaan memang memperoleh dana sekitar Rp 3,18 miliar dari penjualan aset tetap, tetapi beban finansialnya sudah sangat berat.
Bagaimana utang berbunga tinggi dapat terus menggerus arus kas, membuat perusahaan semakin sulit menjalankan operasional sekaligus menghasilkan laba yang cukup untuk membayar kewajibannya.
Akhirnya Tele Dinyatakan Pailit
Pada 9 Oktober 2025, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat resmi menyatakan TELE pailit. Keputusan itu terkait kegagalan memenuhi perjanjian perdamaian restrukturisasi utang senilai Rp 3,2 triliun yang bermula sejak tahun 2020.
PT Telesindo Shop dan PT Simpatindo Multi Media ikut terseret. Ribuan investor ritel dan pemegang saham menghadapi kerugian karena aset perusahaan harus lebih dulu digunakan memenuhi kewajiban kepada kreditur dan perbankan.
Telkom Juga Ada Di Dalamnya
Salah satu investor yang terdampak adalah PT Telkom Melalui PT PINS Indonesia. Telkom disebut memegang 1754.641 247 saham TELE, setara sekitar 24% saham perusahaan.
Meski demikian, dampak finansialnya dinilai kecil dan tidak mengganggu bisnis inti Telkom Ironisnya, perusahaan yang bertahun-tahun tumbuh bersama ekosistem telekomunikasi Indonesia itu akhirnya runtuh setelah pernah menjadi salah satu pemain distribusi terbesar di industrinya
Masalah Belum Berakhir Di-Pailit
Di tengah kejatuhan TELE, Hengky juga terseret laporan dugaan penipuan berkedok investasi yang ditangani Direktorat Reserse Kriminal Polda Metro Jaya.
PT Upaya Cipta Sejahtera yang sahamnya dimiliki Hengky dan adiknya Welly Setiawan, pernah memiliki sekitar 37% atau 2,7 miliar saham TELE. Hengky disebut menjabat Direktur Utama, sementara Welly menjadi komisaris.
Saham Yang Sudah Digadaikan
Pada tahun 2018, sekitar 2,7 miliar saham tersebut disebut digadaikan PT UCS kepada Bank Sinarmas. Namun pada 2019-2020, PT UCS kemudian menerbitkan bilyet investasi dengan menjadikan saham PT TiPhone Mobile Indonesia Tbk sebagai dasar jaminan.
Kegiatan tersebut tidak memiliki izin OJK, sementara saham yang menjadi dasar jaminan disebut sudah lebih dahulu digadaikan.
Lebih Dari 300 Nasabah Terdata
Jumlah nasabah yang terdata dalam persoalan tersebut mencapai lebih dari 300 orang, dengan total kerugian disebut sekitar Rp 3,2 miliar. Puluhan korban kemudian melaporkan dugaan penipuan tersebut kepada pihak berwajib.
Statusnya tetap merupakan dugaan dan proses penyelidikan, sehingga cerita ini tidak dapat diperlakukan sebagai putusan bersalah terhadap Hengky Setiawan.
Dari Rp 6,9 Triliun ke Pailit
Perjalanan Hengky seperti lingkaran yang ekstrem. Bermula dari jual-beli ponsel bekas, ia membangun jaringan dengan omzet lebih dari Rp 6,9 triliun setahun, menjadi "Raja Voucher", melahirkan TiPhone, memiliki ribuan karyawan, lalu masuk bursa.
Tetapi ekspansi, perubahan pasar, kerugian dan beban utang akhirnya membawa TELE menuju pailit. Sebuah kerajaan bisnis yang dibangun selama puluhan tahun dapat berubah drastis ketika pertumbuhannya tak diimbangi fondasi keuangan yang kuat.
Ketika Raja Voucher Kehilangan Τahta
Wajah Hengky dulu terpampang di bus dan billboard, seolah menjadi simbol optimisme industri seluler Indonesia. Kini ceritanya justru menjadi pengingat tentang sisi lain pertumbuhan bisnis, semakin besar sebuah kerajaan, semakin besar pula konsekuensi ketika utang, ekspansi, dan perubahan pasar tidak lagi bisa dikendalikan. (*)
*) Source : Selulartech
Editor : S. Anwar