Bagi masyarakat Minangkabau, musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk mengadukan nasib. Dan tidak ada suara yang mampu menangkap getirnya garis hidup, luka batin, serta perjuangan merantau seotentik Syamsurizal. Dunia mengenalnya dengan nama panggung yang melegenda: Zalmon.
Meskipun sang maestro telah berpulang pada 21 Mei 2011 di Rumah Sakit Ibnu Sina, Padang akibat penyakit paru-paru basah, warisannya tak pernah lekang oleh waktu. Menghasilkan tidak kurang dari 120 album sepanjang kariernya, vokal serak basah milik Zalmon tetap menjadi lagu wajib yang diputar di lapau-lapau ranah Minang hingga kedai-kedai perantauan di seluruh Nusantara.
Baca juga: Kekurangan Volume Ratusan Juta di Pembangunan Diagnostic Centre RSUD Ibnu Sina
Lahir di Rantau, Besar Melalui Lagu Ratapan
Sebuah ironi yang indah mencatat bahwa Zalmon, penyanyi yang paling fasih menyuarakan kepedihan hidup di kampung halaman, justru terlahir di perantauan. Ia lahir di Jakarta pada 15 September 1954. Namun, darah Minang yang mengalir di tubuhnya membuat Zalmon memiliki kepekaan rasa yang luar biasa terhadap kultur parasaian—sebuah konsep emosional masyarakat Minang tentang penderitaan, kesendirian, dan perjuangan bertahan hidup.
Zalmon membangun biduk rumah tangga bersama Nuraida. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai lima orang anak, dengan putri sulung bernama Sri Suryani yang terus menjaga memori sang ayah hingga kini.
Melepas Dahaga Musik Minang Lewat "Nan Tido Manahan Hati"
Karier rekaman Zalmon dimulai pada akhir era 1980-an. Kehadirannya di belantika musik Sumatra Barat kala itu digambarkan bagai hujan di tengah kemarau panjang. Pasca-berkurangnya aktivitas panggung maestro Tiar Ramon serta berakhirnya era keemasan awal Elly Kasim dan Ernie Djohan, dunia musik Minang sempat mengalami masa-masa kering idola.
Zalmon datang membawa warna baru. Lewat lagu hit perdananya, "Nan Tido Manahan Hati" (Yang Tak Berpunya Menahan Hati), ia langsung merebut hati jutaan pendengar. Lagu ini merekam kepedihan warga kelas bawah yang harus tegar memendam perih di tengah keterbatasan ekonomi. Begitu masifnya gelombang cinta dari masyarakat, lagu ini meledak di pasar nasional hingga mengantarkan Zalmon meraih penghargaan bergengsi HDX Award pada tahun 1995.
Memasuki dekade 1990-an hingga 2000-an, produktivitas Zalmon semakin tak terbendung. Karakter suaranya yang lirih, berat, dan dipenuhi penghayatan mendalam melahirkan deretan tembang best seller lainnya, seperti :
Kasiak Tujuah Muaro (Pasir Tujuh Muara)
Ratok Padi Ampo (Ratap Padi Hampa)
Baca juga: Pengadaan Obat di RSUD Ibnu Sina Gresik Rp 20,03 Miliar Jadi Sorotan Auditor
Sapayuang Bajauah Hati (Sepayung Berjauh Hati)
Buruak Sisiak (Buruk Sisik)
Diseso Bayang (Disiksa Bayangan)
Gema Suara Lintas Negara
Kekuatan magis vokal Zalmon terletak pada kemampuannya menjadi jembatan emosional antara "ranah" (kampung halaman) dan "rantau". Bagi para perantau Minang yang tengah berjuang mengadu nasib, mendengarkan lantunan lirih Zalmon adalah ritual penawar rindu sekaligus pelecut semangat.
Baca juga: Polsek Lambu Bongkar Arena Sabung Ayam di Desa Melayu
Efek domino dari popularitas tersebut membuat Zalmon menjadi salah satu artis Minang yang paling sering diundang oleh ikatan keluarga perantau. Ia menjelajahi berbagai kota besar di Indonesia, mulai dari pusat-pusat grosir di Jakarta hingga menyeberang ke luar negeri untuk menggelar konser di hadapan komunitas Melayu dan Minang di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kepergian Sang Idola dan Legasi yang Abadi
Dua puluh tahun lebih mendedikasikan hidup di jalur musik, fisik Zalmon akhirnya harus menyerah pada penyakit paru-paru basah kronis yang dideritanya. Pada usia 56 tahun, sang biduanita legendaris mengembuskan napas terakhirnya.
Siang pada hari yang sama, ia dihantarkan oleh ribuan pelayat—mulai dari masyarakat biasa, sesama seniman, hingga jajaran pejabat daerah yang merasa kehilangan sosok "suara hati" mereka—menuju tempat peristirahatan terakhirnya di pandam pekuburan suku Jambak, Lubuk Minturun, Koto Tangah, Kota Padang.
Zalmon mungkin telah tiada, namun ia berhasil mengarsiteki sebuah warisan budaya yang kokoh. Selama masih ada anak Minang yang merantau membawa harapan, dan selama masih ada rindu yang mengetuk pintu hati di sepertiga malam, maka suara serak nan lirih milik Zalmon akan selalu ada di sana, menemani setiap tetes air mata dan perjuangan mereka. (*)
Editor : Bambang Harianto