Jejak Edy Rahmayadi di Korps Infanteri

Reporter : Redaksi
Edy Rahmayadi

Nama Letnan Jenderal TNI (Purn.) H. Edy Rahmayadi sudah sangat melekat di hati masyarakat Sumatera Utara. Figur militer berkarakter tegas yang dianugerahi gelar adat Datuk Laksamana Nara Diraja ini merupakan Gubernur Sumatera Utara periode 2018–2023. Perjalanan kariernya melintasi dunia militer, keorganisasian, hingga politik praktis menjadikannya salah satu tokoh pemimpin yang sangat diperhitungkan di kancah regional maupun nasional.

Kehidupan Awal dan Latar Belakang Keluarga

Baca juga: Prada Lucky Tewas Disiksa Senior, Ayah Korban : Saya Tuntut Keadilan, Nyawa Saya Jadi Taruhannya

Lahir di Sabang, Aceh, pada 10 Maret 1961, Edy tumbuh dalam lingkungan keluarga militer yang kental. Darah Melayu Deli mengalir dari sang ayah, Kapten Kal. (Purn.) Rachman Ishaq, seorang prajurit TNI Angkatan Udara yang kala itu sedang ditugaskan di Sabang. Sementara sang ibu merupakan keturunan Jawa.

Masa kecil Edy Rahmayadi dihabiskan berpindah-pindah mengikuti penugasan sang ayah. Ia mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Slako A, Madiun, Jawa Timur (1966–1972). Edy kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Angkasa Medan (1972–1975) dan SMA Negeri 1 Medan (1975–1979). Usai lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), ia sempat melanjutkan studi tinggi di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) sebelum akhirnya memantapkan langkah masuk ke dunia militer.

Karier Militer Cemerlang: Dari Danyonif 100 hingga Pangkostrad

Baca juga: Sidang Vonis Perkara Korupsi Koneksitas Tabungan Wajib Perumahan Angkatan Darat

Edy Rahmayadi merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1985 yang sangat berpengalaman di bidang infanteri. Kedekatan emosionalnya dengan tanah Sumatera Utara sudah terpupuk sejak perwira menengah, di mana ia pernah dipercaya menjabat sebagai Komandan Yonif Linud 100/Prajurit Setia yang bermarkas di Namu Sira-Sira, Langkat.

Karier militernya terus meroket hingga ia didapuk menjadi Panglima Kodam I/Bukit Barisan. Puncak karier Edy di lingkungan TNI AD tercapai ketika ia dipromosikan menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), menggantikan Jenderal TNI Mulyono yang naik jabatan menjadi KSAD.

Pensiun Dini Demi Pengabdian di Ranah Publik

Baca juga: Ikut Rapat PRRI Tapi Menolak Perang, Inilah Kisah Mayjen Nurmathias

Panggilan untuk membangun tanah kelahiran membuat Edy mengambil keputusan besar di awal tahun 2018. Berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/12/I/2018 tertanggal 4 Januari 2018, ia resmi ditetapkan sebagai Pati Mabes TNI AD dalam rangka pensiun dini. Langkah ini diambil Edy untuk memantapkan diri maju dalam kontestasi Pemilihan Gubernur Sumatera Utara.

Puncak Pengabdian : Pengorbanan menanggalkan seragam militer berbuah manis. Edy Rahmayadi sukses memenangi pilkada dan resmi menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara periode 2018–2023, membawa visi pembangunan yang disiplin dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru