Lukman Ali, Diplomat Kebanggaan Ranah Minang

Reporter : Redaksi
Lukman Ali

Ranah Minangkabau sejak lama dikenal sebagai rahim yang melahirkan tokoh-tokoh pemikir, ahli bahasa, dan diplomat ulung yang mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional. Salah satu sosok yang menorehkan legasi emas tersebut adalah Drs. H. Lukman Ali.

Lahir tepat pada hari Natal, 25 Desember 1931 di Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, Lukman Ali tumbuh menjadi benteng kebudayaan Nusantara. Sepanjang hayatnya, hingga berpulang pada 19 Desember 2000 dalam usia 68 tahun, ia mendedikasikan seluruh keahliannya untuk merawat bahasa, memajukan sastra, dan memperkuat jembatan diplomasi kebudayaan Indonesia di dunia internasional.

Baca juga: Kisah Dokter Hampir Menyerah Saat Ujian Alih Program, Lulus Berkat Tawakkal

Petualangan Akademis dari Jakarta hingga Leiden, Belanda

Minat Lukman Ali yang mendalam pada dunia literasi dan struktur bahasa membawanya merantau ke ibu kota. Ia memilih menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI)—sebuah kawah candradimuka yang menelurkan banyak begawan sastra tanah air—dan berhasil merengkuh gelar sarjana pada tahun 1963.

Sebagai seorang pemikir yang visioner, Lukman menyadari bahwa keahlian akademis harus ditopang oleh kemampuan manajerial yang kuat, terutama jika ingin berkontribusi dalam birokrasi pemerintahan. Oleh karena itu, ia memperdalam ilmu manajemen di Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi Lembaga Administrasi Negara (Sespa LAN) pada tahun 1974.

Kehausannya akan ilmu pengetahuan kemudian membawa Lukman Ali terbang ke benua Eropa. Pada periode tahun 1977 hingga 1978, ia merantau ke Negeri Belanda untuk memperdalam kajian sastra dan kebahasaan di Universitas Leiden, salah satu pusat studi ketimuran dan bahasa Melayu tertua serta paling bergengsi di dunia.

Mengawal Diplomasi Budaya di Malaysia dan Menjadi Staf Ahli Menteri

Baca juga: Kisah Mochtar Kusumaatmadja, sang Penggagas Wawasan Nusantara

Bekal ilmu yang matang dan pemahaman kebudayaan yang luas membuat Lukman Ali dipercaya oleh negara untuk mengemban misi diplomasi yang krusial. Pada tahun 1980 hingga 1984, ia ditunjuk sebagai Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Di negeri jiran tersebut, Lukman Ali memainkan peran penting dalam merajut hubungan bilateral melalui jalur kultural. Di tengah dinamika pasca-konfrontasi dan kemiripan rumpun Melayu-Nusantara, ia berhasil memperkenalkan kekayaan seni, sastra, dan bahasa Indonesia secara elegan, sekaligus memposisikan Indonesia sebagai episentrum kebudayaan yang disegani di Asia Tenggara.

Sekembalinya dari misi diplomatik, kapasitas intelektual Lukman kembali dibutuhkan di dalam negeri. Pada tahun 1989 hingga 1992, ia diangkat menjadi Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dalam posisi strategis ini, ia ikut merumuskan berbagai kebijakan penting terkait pelestarian bahasa nasional dan pengembangan iklim sastra bagi generasi muda.

Baca juga: Kisah Hariman Siregar dan Mahasiswa UI Mengguncang Jakarta 1974

Legasi Abadi Sang Penjaga Bahasa

Sebagai seorang ahli bahasa dan sastrawan, Lukman Ali tidak hanya bekerja di balik meja birokrasi. Pikiran-pikirannya yang dituangkan dalam berbagai forum ilmiah dan tulisan menjadi rujukan penting bagi perkembangan bahasa Indonesia. Ia konsisten menyuarakan pentingnya menjaga martabat bahasa nasional sebagai pemersatu bangsa di tengah arus modernisasi.

Ketika Lukman Ali mengembuskan napas terakhirnya pada Desember 2000, Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun, dari tanah kelahirannya di Mungka hingga ruang-ruang kuliah di Universitas Indonesia dan koridor diplomasi di KBRI Kuala Lumpur, nama Drs. H. Lukman Ali akan selalu dikenang sebagai potret ideal seorang intelektual yang mendedikasikan hidupnya demi tegaknya peradaban bahasa dan budaya bangsa. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru