Syekh Abdul Qadir Diberi Buku untuk Mencatat Muridya Sampai Kiamat

Reporter : Redaksi
Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Diriwayatkan di dalam kitab Bahjatul Asror, bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani pernah menyampaikan sebuah kisah yang menunjukkan kedudukan para muridnya di hadapan Allah SWT. Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata bahwa suatu ketika dirinya diberi sebuah buku yang sangat luas oleh Allah SWT. 

Luasnya buku tersebut digambarkan sejauh mata memandang. Buku itu bukanlah buku biasa, melainkan sebuah catatan yang di dalamnya diperintahkan untuk menuliskan nama-nama muridnya hingga datangnya hari kiamat. Di dalam buku yang luas itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menuliskan nama-nama orang yang menjadi muridnya dan orang-orang yang mengikuti jalan serta ajarannya. 

Baca juga: Kisah Syaikh Abdul Qadir al Jilani dan Istrinya yang Tak Pernah Mengeluh

Semua murid itu, menurut beliau, telah Allah serahkan kepadanya dan telah menjadi tanggung jawabnya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan batin dan kecintaan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani. 

Oleh karena itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap keselamatan mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Pada suatu kesempatan, Syaikh Abdul Qodir pernah bertanya kepada Malaikat Malik, yaitu malaikat yang menjaga neraka. 

Dengan penuh keyakinan beliau bertanya, “Apakah ada muridku dan sahabatku yang berada di dalam neraka?” 

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Malaikat Malik dengan tegas. Malaikat Malik berkata bahwa tidak ada satu pun dari muridmurid dan sahabat beliau yang berada di dalam neraka. Mendengar jawaban tersebut, Syekh Abdul Qadir al-Jailani kemudian bersumpah demi kemuliaan Tuhannya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata bahwa tangannya berada di atas murid-muridnya sebagaimana langit menutupi bumi. Maksudnya adalah bahwa perlindungan dan perhatian beliau terhadap para muridnya begitu luas dan mencakup mereka semua. Bahkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata bahwa jika murid-muridnya memiliki kekurangan atau keburukan, maka beliau yang akan menanggung dan memperbaikinya. 

Baca juga: Jalan Tasawuf Syayidi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani

Syekh Abdul Qadir al-Jailani kembali bersumpah demi keagungan dan kemuliaan Tuhannya. Syaikh Abdul Qodir mengatakan bahwa kedua telapak kakinya tidak akan bergeser di hadapan Allah SWT pada hari kiamat sebelum ada keputusan bahwa dirinya bersama-sama dengan murid-muridnya masuk ke dalam surga. Hal ini menunjukkan betapa besar rasa tanggung jawab dan kasih sayang Syekh Abdul Qadir al-Jailani kepada orang-orang yang menjadi muridnya. 

Lebih lanjut, Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga bersabda bahwa tangannya tidak akan pernah lepas dari kepala murid-muridnya. Walaupun dirinya berada di timur dan muridnya berada di barat, perlindungan itu tetap akan ada. Bahkan jika seorang muridnya mengalami keadaan yang memalukan atau tersingkap auratnya, maka Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan bahwa tangannya akan segera menutupinya. Ini adalah gambaran tentang perhatian dan perlindungan spiritual yang beliau berikan kepada para muridnya.

Kemudian Syekh Abdul Qadir al-Jailani kembali bersumpah demi keagungan dan kemuliaan Tuhannya. Beliau menyatakan bahwa pada hari kiamat nanti dirinya akan berdiri tegak di hadapan gerbang pintu neraka. Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak akan bergeser dari tempat itu sebelum murid-muridnya terlebih dahulu masuk ke dalam surga. Hal itu dilakukan karena Allah Yang Maha Kuasa telah menjanjikan kepadanya bahwa murid-muridnya tidak akan dimasukkan ke dalam neraka. 

Baca juga: Tanda Tanda Kewalian Syekh Abdul Qadir Al Jailani

Syaikh Abdul Qodir juga menyampaikan bahwa siapa saja yang berguru kepadanya dan memiliki rasa mahabbah atau kecintaan kepadanya, maka Syekh Abdul Qadir al-Jailani akan selalu memperhatikan dan menghadap kepadanya. 

Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga menyebutkan bahwa Malaikat Munkar dan Nakir telah berjanji kepadanya bahwa mereka tidak akan menakut-nakuti murid-muridnya di dalam kubur. 

Kisah ini menjadi salah satu manqobah yang menggambarkan kedudukan Syaikh Abdul Qodir al-Jailani serta kasih sayang beliau kepada para muridnya. Melalui kisah ini pula tergambar betapa kuatnya hubungan antara seorang guru dan murid dalam jalan spiritual, di mana seorang guru tidak hanya membimbing di dunia, tetapi juga memohonkan keselamatan bagi murid-muridnya hingga di akhirat kelak. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru