Nama Dr. Surya Suryadi, MA., barangkali terdengar kental dengan nuansa Jawa. Namun jangan salah, ia adalah seorang putra Minang tulen kelahiran Padang Pariaman, 15 Februari 1965. Lahir di era pasca-pergolakan PRRI di Sumatra Tengah, kini namanya berkibar di panggung akademik internasional sebagai salah satu pakar filologi dan ahli pernaskahan Nusantara paling disegani di dunia.
Saat ini, ia mendedikasikan ilmunya sebagai dosen tetap di Universitas Leiden, Belanda—sebuah kampus legendaris yang menyimpan gudang arsip dan naskah kuno terbesar mengenai Indonesia. Namun, siapa sangka, perjalanan karier sang doktor untuk bisa mengajar di kiblat filologi dunia itu harus melewati liku-liku birokrasi kampus dalam negeri yang penuh ketidakpastian.
Merantau karena "Diabaikan" Kampus Dalam Negeri
Langkah awal Suryadi di dunia akademik dimulai setelah ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Sastra Universitas Andalas (Unand) pada tahun 1991. Setamat kuliah, ia langsung mengabdi sebagai asisten dosen di almamaternya. Namun, setelah tiga tahun mendedikasikan waktu dan energinya, status dosen tetap tak kunjung ia dapatkan.
Suryadi memutuskan hijrah ke ibu kota dan mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Sayang, nasib baik belum juga berpihak. Empat tahun lamanya ia menunggu di UI tanpa kejelasan kapan akan diangkat menjadi dosen tetap.
Memegang Teguh Filosofi Minang:
Menghadapi jalan buntu di tanah air, Suryadi mengingat pepatah bijak dari kampung halamannya: "Jikok nasib alun baubah, labiah elok rantau dipajauah" (Jika nasib belum berubah, lebih baik rantau diperjauh).
Peluang emas itu akhirnya datang pada akhir tahun 1998 ketika Universitas Leiden menawarinya posisi sebagai dosen tamu untuk penutur ibu bahasa Indonesia. Siapa sangka, kampus tertua di Belanda itu justru lebih tanggap melihat potensinya. Hanya butuh waktu tiga tahun bagi Universitas Leiden untuk meresmikan status Suryadi menjadi dosen tetap pada tahun 2001.
Menemukan 'Dunia Sunyi' dan Menyelamatkan Memori Bangsa
Di Belanda, Suryadi justru menemukan gairah hidupnya di dalam "dunia sunyi"—ruang perpustakaan Leiden yang tenang, tempat jutaan naskah lama dan buku klasik Nusantara tersimpan. Melalui lembar-lembar kertas usang dan guratan aksara kuno, ia menyelami masa lalu Indonesia yang terlupakan.
Ketekunannya berbuah manis. Banyak hasil kajian filologinya yang berhasil menembus berbagai jurnal internasional bereputasi. Keahliannya yang langka membuat Suryadi kerap diundang menjadi pembicara seminar di berbagai belahan dunia. Hebatnya lagi, ia dipercaya untuk memimpin proyek pelestarian pernaskahan penting yang didanai langsung oleh lembaga bergengsi asal Inggris, The British Library.
Salah satu kontribusi besarnya adalah kajian mendalam terhadap surat-surat emas peninggalan raja-raja Buton, Bima, Gowa, dan Minangkabau. Hasil riset ini diadopsi oleh Australian National University (ANU) di Canberra ke dalam Malay Concordance Project.
Tak hanya itu, Suryadi adalah ilmuwan yang meneliti teks Melayu klasik berjudul Syair Lampung Karam. Naskah kuno tersebut merupakan satu-satunya dokumen dan sumber pribumi Nusantara yang mencatat secara dramatis kedahsyatan letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, yang memicu tsunami besar dan meluluhlantakkan pantai selatan Sumatra serta pantai barat Jawa.
Akademisi Lintas Generasi
Sambil terus mengajar dan meneliti naskah kuno, Suryadi tidak pernah berhenti belajar. Di Universitas Leiden pula ia sukses merengkuh gelar Master of Arts (MA) pada tahun 2002. Puncaknya, pada 16 Desember 2014, ia resmi menyandang gelar Doktor dari universitas yang sama setelah mempertahankan disertasinya yang fenomenal berjudul The Recording Industry and Regional Culture in Indonesia: The Case of Minangkabau. (*)
Editor : Bambang Harianto