Olahraga Pagi, Sarapan Dulu atau Tidak?

Reporter : Redaksi
Olahraga

Halo, selamat pagi. Hari ini saya dan istri hiking ke Bumi Luhur di KBP. Jalur hiking-nya dimulai dari Bumi Luhur Tea Shop, sekitar 2,8 km menuju puncak. Kalau pulang-pergi, totalnya kurang lebih 5,6 km. 

Menariknya, saya melakukan ini tanpa sarapan. Bukan karena sok kuat, bukan juga karena lupa makan—tapi karena saya paham apa yang sedang dilakukan tubuh saya.

Pertanyaan, “Olahraga pagi sarapan dulu atau tidak?” Ini termasuk salah satu pertanyaan paling sering saya dengar. Jawabannya tidak hitam-putih. Tergantung siapa Anda, kondisi tubuh Anda, dan jenis olahraga yang Anda lakukan.

Masalahnya, di media sosial sering disederhanakan: seolah-olah olahraga tanpa sarapan itu selalu baik, atau sebaliknya selalu berbahaya. Padahal tubuh manusia jauh lebih cerdas dari itu.

Secara umum, tubuh kita punya dua sumber energi utama: cadangan gula (glikogen) dan cadangan lemak. Glikogen tersimpan di hati dan otot, jumlahnya terbatas. 

Lemak? Jangan khawatir—kebanyakan dari kita punya stok yang cukup melimpah. Selama cadangan lemak masih ada, tubuh sebenarnya mampu menghasilkan energi tanpa harus langsung “diisi” dari luar.

Itulah alasan kenapa orang yang masih memiliki kelebihan berat badan, secara fisiologis, masih bisa berolahraga ringan hingga sedang tanpa sarapan. Tubuh akan beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi. Tapi ini ada syaratnya. Tidak bisa sembarangan. Dan ini bukan untuk semua orang.

Bagi pemula, saya sangat tidak menyarankan langsung olahraga tanpa sarapan. Tubuh yang belum terlatih belum efisien menggunakan lemak sebagai bahan bakar. Akibatnya, yang terjadi bukan pembakaran lemak, tapi pusing, lemas, gemetar, bahkan bisa pingsan. Sarapan kecil—misalnya buah atau sedikit karbohidrat—jauh lebih aman.

Kuncinya ada di intensitas olahraga. Kalau tujuannya membakar lemak, maka olahraga harus dijaga di zona aerobik, biasanya sekitar 60–70�ri denyut jantung maksimal. Di zona ini, tubuh masih nyaman, napas terkontrol, dan Anda masih bisa ngobrol walau agak terengah. Di sinilah lemak paling efektif digunakan sebagai sumber energi.

Begitu intensitas terlalu tinggi, tubuh akan masuk ke metabolisme anaerobik. Di fase ini, energi diambil cepat dari glikogen, bukan lemak. Hasilnya? Anda memang capek, keringat banyak, tapi pembakaran lemak justru tidak optimal. Itu sebabnya olahraga “ngoyo” tanpa dasar justru sering bikin berat badan stagnan.

Pada hiking pagi tadi, ritmenya saya jaga santai tapi konsisten. Tidak kejar-kejaran dengan waktu, tidak memaksa napas. Fokusnya bukan puncak, tapi proses. Dan itu penting. Olahraga bukan soal siapa paling cepat, tapi siapa paling konsisten.

Satu hal lagi yang sering dilupakan: hidrasi. Olahraga tanpa sarapan bukan berarti tanpa minum. Air sangat penting untuk metabolisme lemak. Kurang minum bisa membuat tubuh cepat lelah dan memicu kram atau pusing, meski intensitasnya ringan.

Yang perlu diingat, strategi seperti ini bukan lomba siapa paling “kuat puasa”. Ini soal mengenali tubuh sendiri. Ada orang yang cocok, ada yang tidak. Ada yang aman, ada yang justru berbahaya. Jangan meniru mentah-mentah apa yang dilakukan orang lain tanpa memahami konteksnya.

Jadi, olahraga pagi sarapan dulu atau tidak? Jawabannya: tergantung. Kalau Anda pemula, sarapan kecil dulu. Kalau sudah terbiasa, intensitas terkontrol, dan paham sinyal tubuh—olahraga tanpa sarapan bisa menjadi alat untuk melatih fleksibilitas metabolik. Yang penting bukan meniru tren, tapi membuat keputusan yang masuk akal untuk tubuh Anda sendiri. (*)

*) Source : Dr Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP (Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru