Roda nasib tidak pernah berdiri statis bagi mereka yang menolak menyerah pada takdir kemiskinan. Kalimat tersebut seolah menjadi cermin sempurna bagi perjalanan hidup Bustami Narda. Pria yang kini dikenal luas di panggung nasional sebagai motivator kewirausahaan, jurnalis senior, sekaligus Direktur Lembaga Kajian dan Konsultasi Komunikasi Republik Indonesia (LK3-RI) ini ternyata menyimpan masa lalu yang teramat getir.
Siapa sangka, di balik penampilannya yang penuh karisma saat membakar semangat ribuan mahasiswa di ruang-ruang seminar, Bustami kecil adalah seorang anak pedalaman yang harus bertarung nyawa demi selembar ijazah.
Lahir dari Rahim Kemiskinan Pedalaman
Lahir di Jorong Sungai Penuh, Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan, Kecamatan Sangir Batang Hari, Solok Selatan, Sumatra Barat, Bustami Nard tumbuh di sebuah kawasan yang kala itu terisolasi. Kedua orang tuanya, Nari Dt. Rajo Indo dan Darama, adalah buruh tani miskin yang tidak pernah mengecap bangku sekolah.
Demi menopang dapur agar tetap mengepul, Bustami kecil sudah harus memeras keringat di usia yang sangat dini. Ia terbiasa berjalan kaki menembus lebatnya hutan pedalaman Solok Selatan untuk mencari rotan bersama ayahnya. Ketika malam tiba, saat anak-anak lain tertidur lelap, Bustami justru harus bertaruh nyawa di tengah kegelapan sungai, mendulang emas secara tradisional atau mencari ikan untuk dijual esok hari.
Perjuangan Sekolah: Bertaruh Nyawa di Derasnya Batang Hari
Pendidikan adalah barang mewah yang harus ditebus Bustami dengan air mata dan keteguhan mental. Pada tahun 1972, demi bisa belajar di sebuah Sekolah Dasar (SD) partikelir, ia harus rela merantau dan ngekos di Talantam, kampung tetangganya. Jaraknya luar biasa jauh: dua jam perjalanan menyusuri Sungai Batang Hari yang terkenal berarus deras, ganas, dan dipenuhi batu-batu besar menggunakan sampan kayuh.
Ujian mental Bustami diuji berkali-kali. Baru dua tahun bersekolah, gurunya berhenti mengajar hingga sekolahnya tutup. Sempat menganggur setahun, sekolah itu buka kembali namun kembali tutup setahun kemudian karena alasan yang sama.
Menginjak kelas IV SD (Sekolah Dasar), semangatnya untuk pintar menuntunnya mendaftar ke SD Negeri Tanah Galo. Jaraknya semakin tidak masuk akal, yakni mencapai 4 jam perjalanan naik sampan dari kampung halamannya. Bisa dibayangkan betapa fisiknya ditempa oleh kayuhan dayung dan desingan arus sungai setiap minggu.
Melihat potensi luar biasa dan kegigihan anak pedalaman ini, seorang guru akhirnya iba dan memboyong Bustami ke Nagari Tarung-Tarung, Kabupaten Solok. Di sanalah, jalan pendidikannya mulai menemui titik terang hingga akhirnya ia berhasil menamatkan SMP, SMA 1 Kota Solok, dan meraih gelar sarjana dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIPOL) Imam Bonjol, Padang.
Bakat Menulis yang Lahir dari Sampah Koran
Tuhan tidak pernah tidur. Di tengah keterbatasan akses buku bacaan pada masa kecilnya, Bustami dianugerahi kecerdasan yang luar biasa. Keterbatasan justru membuatnya lapar akan ilmu. Apa saja ia baca, termasuk sobekan-sobekan koran bekas pembungkus barang yang berserakan di jalanan.
Kemampuan bahasanya yang di atas rata-rata membuat Bustami kecil sering dipercaya oleh kakak-kakak kelasnya untuk membuatkan surat. Puncaknya, bakat emas itu terbukti nyata ketika ia masih duduk di bangku SMP. Di saat anak seusianya baru belajar merangkai kalimat, Bustami berhasil merampungkan sebuah novel utuh berjudul Bertemu Di Ujung Jalan.
Karier literasinya semakin terasah saat ia memutuskan menjadi wartawan pada tahun 1986 semasa kuliah di Padang.
Menembus Batas Menjadi Motivator Nasional
Tahun 2000-an menjadi era pembuktian bagi Bustami Narda. Goresan penanya mulai menembus pasar nasional. Buku politiknya yang berjudul Kursi Kekuasaan serta kumpulan cerpen Pinik Gadis Pagai (2003) mendapat sambutan hangat.
Tak berhenti di sana, Bustami kemudian merambah ke dunia literasi motivasi bisnis dan komunikasi. Judul-judul buku karyanya kini bertengger di rak-rak toko buku seluruh Indonesia dan menjadi best seller, sebut saja:
Rahasia Bisnis Orang Padang (Buku wajib bagi para calon pengusaha)
Menjadi Orang Kaya Raya
Menjadi Mahasiswa Kaya Raya
Seni Berkomunikasi
Kini, melalui bendera LK3-RI, Bustami Narda mendedikasikan sisa hidupnya untuk membakar semangat generasi muda. Ia aktif keliling Indonesia, berpindah dari satu panggung seminar kampus ke kampus lain untuk menularkan virus kewirausahaan.
Kisah hidup Bustami Narda adalah tamparan keras sekaligus inspirasi besar bagi kita semua. Beliau membuktikan bahwa kemiskinan, keterbatasan fasilitas, hingga jarak ribuan kilometer dari pusat kota bukanlah tembok penghalang untuk sukses. Dari derasnya arus Sungai Batang Hari, anak pendulang emas itu kini telah berhasil mengarsiteki takdirnya sendiri menjadi sang motivator nasional. (*)
Editor : Bambang Harianto