Mengenang Ali Wardhana, Menteri Keuangan Termuda Indonesia

Reporter : Redaksi
Prof. Dr. Ali Wardhana

Jika membicarakan sejarah penyelamatan ekonomi Indonesia dari keterpurukan pasca-1965, nama Prof. Dr. Ali Wardhana tidak boleh dilewatkan. Bersama Widjojo Nitisastro, begawan ekonomi kelahiran Solo, 6 Mei 1928 ini adalah pilar utama penyokong arsitektur ekonomi Orde Baru.

Ali Wardhana mengukir sejarah sebagai Menteri Keuangan termuda sekaligus terlama dalam sejarah Indonesia—menjabat selama 15 tahun (1968–1983)—sebelum akhirnya mengemban tugas sebagai Menko Ekuin dan Pengawasan Pembangunan periode 1983–1988.

Baca juga: Tentang Purbaya, Kaya Bersama dan Musuh Bernama Bersama Sama

Sempat Menolak Kursi Menteri karena Merasa "Tak Cakap"

Lahir sebagai akademisi tulen, Ali Wardhana menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) pada tahun 1958. Ia kemudian terbang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi di University of California, Berkeley. Di sana, ia meraih gelar Master of Arts (1961) dan menyelesaikan gelar Ph.D (1962) dengan disertasi visioner berjudul "Monetary Policy in an Underdeveloped Economy: with Special Reference to Indonesia".

Sekembalinya ke tanah air, kepakaran Ali langsung diakui di dunia akademik hingga ia dipercaya menjabat sebagai Dekan FEUI selama satu dekade (1967–1978).

Titik balik hidupnya terjadi pada tahun 1968 ketika Presiden Soeharto menunjuknya sebagai Menteri Keuangan di Kabinet Pembangunan I. Menariknya, Ali sempat menolak jabatan mentereng tersebut. Ia merasa tidak cukup cakap untuk memikul beban berat negara yang kala itu sedang sekarat secara finansial. Namun, Soeharto berhasil meyakinkannya dengan kalimat persuasive : "Kita sama-sama baru menjabat, mari kita sama-sama belajar."

Keajaiban "Balanced Budget" dan Diplomasi Minyak Bumi

Ketika Ali Wardhana masuk ke gedung kementerian, Indonesia sedang dihantam badai hiperinflasi warisan Orde Lama yang mencapai angka mengerikan: 650%. Kepercayaan internasional berada di titik nadir, dan kemiskinan merajalela.

Mantan Menteri Keuangan RI, Mari Elka Pangestu, dalam bukunya A Tribute to Ali Wardhana, mencatat bahwa Ali mengabdi di sebagian besar waktu paling krusial selama dua dekade demi menurunkan hiperinflasi, menstabilkan ekonomi, dan membangkitkan kembali kepercayaan dunia terhadap Indonesia.

Hanya dalam waktu tiga tahun, Ali Wardhana berhasil melakukan "mukjizat" ekonomi melalui kebijakan anggarannya yang legendaris, Balanced Budget (Anggaran Berimbang). Hasilnya luar biasa:

Inflasi Indonesia merosot tajam dari 650% menjadi hanya 10%.

Kepercayaan pasar internasional kembali pulih seketika.

Baca juga: Aturan Baru tentang Pelaksanaan Pembukuan dan Audit di Kepabeanan dan Cukai

Pada era 1970-an, ia dengan cerdik melakukan manuver anggaran dengan memanfaatkan berkah oil boom (hasil minyak bumi) untuk mendanai program-program pengentasan kemiskinan masif di pelosok negeri.

"Kebijakan Balanced Budget Ali Wardhana sukses memangkas inflasi dari 650% ke 10�n menyelamatkan wajah ekonomi Indonesia di mata dunia."

Diakui Dunia: Ketua IMF & Bank Dunia Pertama dari Indonesia

Prestasi domestik yang gemilang membawa nama Ali Wardhana ke panggung internasional. Pada September 1971, kepakarannya diakui secara global saat ia terpilih sebagai Ketua Board of Governors Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk periode 1971–1972. Sebuah pencapaian yang sangat langka bagi seorang ekonom dari negara berkembang kala itu.

Selama hidupnya, Ali juga sangat produktif menelurkan karya ilmiah penting yang menjadi rujukan ekonomi makro, di antaranya:

"Inflation and Structural Tensions" (1965)

Baca juga: Kemenkeu Sumut Hibahkan BMN ke Ponpes dan Panti Asuhan di Medan

"Monetary Budget: Stabilization or Inflation Tool" (1966)

"Concessional Loans and Technical Assistance" (1970)

Akhir Hayat Sang Begawan Moneter

Setelah melepaskan jabatan menteri dan Menko Ekuin pada tahun 1988, pengabdian Ali tidak lantas berhenti. Ia tetap setia di balik layar sebagai penasihat senior pemerintah. Nasihat dan arahannya yang tajam seputar kebijakan moneter dan reformasi struktural selalu menjadi kompas bagi pemerintah setiap kali Indonesia dihantam krisis ekonomi yang sulit.

Di kehidupan pribadinya, Ali Wardhana membina rumah tangga yang harmonis bersama Rendasih binti Sulaeman Sukantabrata (Renny) dan dikaruniai empat orang anak.

Sang maestro moneter Indonesia ini mengembuskan napas terakhirnya pada 14 September 2015 di Rumah Sakit Medistra, Kuningan, Jakarta, dalam usia 87 tahun. Ali Wardhana pergi dengan meninggalkan warisan berharga bagi bangsa: sebuah cetak biru bagaimana sebuah negara bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi terdalam lewat disiplin fiskal yang ketat. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru