Rahasia Logo di Balik Cerita Kesukses Rokok Gudang Garam

Reporter : Redaksi
Logo Gudang Garam

Satu pintu yang tertutup kunci, kenapa Gudang Garam tak terhentikan. Perhatikan logo Gudang Garam baik-baik. Terdapat lima gudang berjejer, dimana dua pintunya terbuka, dua setengah terbuka, dan satu tertutup rapat.

Banyak pelanggan setianya bahkan tidak menyadari hal itu. Padahal, pintu itulah filosofi yang membuat Gudang Garam bisa lahir. Dan ceritanya dimulai jauh sebelum logo ini pernah digambar.

Baca juga: Group Whatsapp Pelopor Jadi Petunjuk Dugaan Permainan Mafia Tanah di Kediri

Tjoa Ing Hwie adalah keponakan pemilik pabrik rokok Tjap 93 di Kediri. la mulai bekerja di sana sebagai pegawai biasa. Kariernya naik cepat, dari pegawai jadi orang kepercayaan, sampai akhirnya jadi Direktur di pabrik pamannya sendiri.

Sampai di tahun 1956, semuanya berubah. Bukanlah dipecat, justru ia yang memilih pergi. Tidak ada yang tahu persis pemicunya.

Satu versi bilang, Tjoa menuntut bagian saham. Versi lain bilang sang paman menolak rencana ekspansi yang ia ajukan. Yang jelas, Tjoa Ing Hwie pergi tanpa restu keluarga. Dan ia tidak pergi sendiri, bersama sekitar 50 karyawan memilih ikut keluar bersamanya.

Dari titik nol inilah semuanya, termasuk logo itu, sebuah kisah akan bermula.

Dengan modal seadanya dan racikan yang ia pelajari dari pamannya, Tjoa Ing Hwie membeli tanah di Kediri, memproduksi kretek klobot manual, dibantu 50 karyawan yang ikut keluar bersamanya. Hasilnya dijual dengan nama sendiri, Ing Hwie, brand yang sudah punya pembeli sendiri.

Bagi kelima puluh orang itu, loyalitas kepada orang lebih layak dipertaruhkan daripada loyalitas kepada merek.

Dua tahun berjalan begitu saja. Lalu suatu malam, Tjoa Ing Hwie bermimpi melihat gudang garam tua dekat rel Kertosono-Bangil, menghadap tepat ke bekas pabrik tempat ia dulu bekerja dan berselisih.

la menceritakan mimpi itu ke karyawannya. Sarman, yang setia sejak tahun 1956, mengusulkan gambar itu dicetak di kemasan rokok.

26 Juni 1958, berdirilah Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam dengan logo dari mimpi itu. Hari itu juga, Tjoa Ing Hwie berganti nama jadi Surya Wonowidjojo.

Perusahaan yang baru berdiri itu tidak butuh waktu lama menunjukkan taringnya. Akhir tahun 1958 saja, Gudang Garam sudah mempekerjakan 500 orang dan memproduksi lebih dari 50 juta batang kretek per tahun.

Tahun 1966, di tengah salah satu periode paling bergolak dalam sejarah politik Indonesia, Gudang Garam tercatat sebagai produsen kretek terbesar di negeri ini: 472 juta batang per tahun.

Baca juga: Kisah Berdirinya Pabrik Rokok Gudang Garam dari Konflik Keluarga

Tiga tahun berikutnya, produksinya nyaris berlipat dua jadi 864 juta batang. Tapi di titik paling sukses inilah, Surya justru mengambil keputusan yang kelihatan seperti langkah mundur.

Sepanjang tahun 1970-an, hampir semua pabrik kretek lain berlomba beralih ke mesin linting otomatis. Surya memilih bertahan dengan sigaret kretek tangan.

Yang tidak terlihat pesaingnya, ia sedang menunggu sampai mesin linting benar-benar matang dan harganya turun, baru masuk dengan skala penuh.

Setelah bertahun-tahun menahan diri, Surya mendatangkan 30 mesin linting sekaligus, bukan satu-dua unit uji coba, tapi armada penuh yang langsung dioperasikan bersamaan.

Formula racikan baru dikembangkan khusus untuk hasil linting mesin. Efeknya seketika. Produksi tahunan melompat dari sekitar 9 miliar batang jadi 17 miliar batang, dua kali lipat, dalam satu gebrakan.

Di masa emas itu, banyak orang yang bertanya ke Surya, "Kenapa satu pintu di logonya tidak pernah dibuka".

Surya sendiri mengakui bahwa ia tidak tahu alasannya. la hanya takut, kalau pintu itu dibuka, semuanya akan terasa sudah selesai. Tapi rasa takut itu justru memunculkan filosofi bagi Gudang Garam: mentalitas tak terhentikan. Mereka tidak boleh puas, apalagi mendengar kata "selesai".

Satu dekade setelahnya, skalanya berlipat jauh dari sekadar "terbesar" : pabrik seluas 240 hektar, menguasai sekitar 38 persen pasar rokok nasional.

Sampai sekarang, di tengah persaingan yang terus berubah, Gudang Garam tetap jadi salah satu raja industri kretek.

Tjoa Ing Hwie dan 50 karyawannya berangkat dari pabrik kecil di Kediri. Sejauh apa pun mereka melangkah, tujuannya tidak akan pernah tercapai, jika dulu pintu itu pernah mereka buka.

Tahun 1966, jadi yang terbesar. Tahun 1979, naik dua kali lipat. Bahkan 38 persen sudah dikuasai. Tiga kali mereka punya alasan sah untuk berhenti, tapi tidak ada satupun yang mereka ambil.

Mentalitas mereka cuma satu, tak terhentikan, karena begitu kamu berhenti, kamu tidak akan pernah tahu bagaimana kelanjutan ceritamu sendiri. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru