Di tengah hiruk-pikuk gemerlap duniawi, dari Kota Kediri hadir sesosok ulama kharismatik yang menyejukkan hati dan menjadi oase bagi ribuan umat. Beliau adalah KH Muhammad Douglas Toha Yahya atau yang lebih akrab dan penuh cinta disapa Gus Lik.
Sebagai putra dari pasangan KH Said dan Nyai Maemunah Banjarmlati, Gus Lik memegang amanah besar sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyah, Kota Kediri.
Gus Lik adalah potret nyata dari laku zuhud sejati. Dalam kesehariannya, penampilan beliau amat sederhana dan jauh dari kesan glamor. Gus Lik lebih sering terlihat berkendara menggunakan sepeda motor ketika bepergian. Kesederhanaan ini bukanlah kepura-puraan ; ketika seorang santri yang sukses menjadi pengusaha hendak membelikannya mobil keluaran terbaru untuk operasional dakwah, Gus Lik menolaknya dengan halus dan memilih tetap menggunakan mobil tuanya. Baginya, kemewahan harta dunia bukanlah hal yang perlu dipikirkan.
Nama Gus Lik begitu mengakar di hati masyarakat luas lewat majelis "Pengajian Langgar Kulon" yang rutin digelar pada Pengajian Malam Rabu (PMR) dan Pengajian Malam Jumat (PMJ).
Dakwah Gus Lik sangat membumi, menenangkan jiwa, membaur tanpa jarak, dan sama sekali tidak memiliki tendensi politik. Beliau merangkul semua jamaah tanpa pernah membeda-bedakan status sosial, suku, maupun kelompok.
Dedikasi hidupnya untuk agama, pesantren, dan umat begitu total, hingga beliau memilih jalan hidup untuk tidak menikah. Hal ini tergambar penuh haru saat sang ulama merakyat ini berpulang ke pangkuan Ilahi pada Sabtu, 21 September 2024, di usia 58 tahun.
Membelah lautan ribuan pelayat yang menggemakan kalimat tauhid, keranda jenazah beliau diiringi oleh dua santri yang memanggul kembar mayang di barisan depan—sebuah simbol adat Jawa sebagai penghormatan suci bagi seseorang yang wafat dalam keadaan lajang.
Gus Lik telah merampungkan tugas dakwahnya di dunia, meninggalkan jejak kesederhanaan, keikhlasan, dan cinta yang teramat dalam bagi Jamaah Langgar Kulon. Semoga Allah Swt. menerima segala amal bakti beliau dan menempatkannya di rida surga-Nya. (*)
Editor : Bambang Harianto