Tahun 1970-an, memasukkan foto visual ke dalam komputer itu masih benar-benar fiksi khayalan alias sulit dilakukan. Di era itu, komputer masih identik dengan mesin seukuran lemari yang tugasnya sebagai "kalkulator super" untuk memproses teks, angka statistik, atau data militer.
Kala itu, Profesor Alexander Sawchuk dan timnya di lab USC sedang meneliti cara bagaimana mengecilkan file gambar agar bisa diproses komputer tanpa merusak detail fotonya. Ya, tanpa riset mereka ini, kita sekarang gak akan pernah kenal format JPEG, tidak bisa kirim selfie, atau menyimpan ribuan foto di Handphone.
Mereka akan presentasikan hasil penelitiannya kalau sistem algoritma mereka berhasil mengkompres file foto. Masalahnya, untuk membuktikan algoritma kompresi mereka sukses, mereka butuh foto uji coba yang bagus, detail yang jelas, dan menarik.
Tadinya mau pakai gambar dari stok foto televisi. Tapi gambar itu terlalu kaku. Dalam kebuntuan ide mencari foto untuk uji coba, tiba-tiba salah satu temannya lewat sambil membawa majalah Playboy edisi November 1972.
Insting purba lelaki Profesor Alexander Sawchuk ini pun langsung bekerja. Profesor Alexander Sawchuk pun segera meminjam majalah itu dan membuka halaman demi halaman secara seksama dan dalam tempo yang selambat-lambatnya
Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah foto menantang di bagian halaman tengah dari seorang model berwajah Skandinavia : Lena Forsén.
Kelak, foto ini menjadi "Gambar Tes Standar Dunia" ketika para ilmuwan mau menguji rumus algoritma yang ia ciptakan. Semua gunakan foto ini.
Para peneliti berdalih kalau foto itu punya kompleksitas pencahayaan, tekstur kulit halus, dan detail rumit di bulu topinya. Foto ini emang untuk konsumsi dewasa. Tapi untungnya, teknologi saat itu punya keterbatasan. Mesin scanner analog yang mereka pakai hanya sanggup memindai 512 baris, atau persis sekitar 5,12 inci dari atas ke bawah.
Hasilnya? Pemindaian itu berhenti tepat di bawah bahu Lena. Bagian bawahnya ter-cropping secara "alami" sehingga foto ini statusnya aman digunakan.
Gambar wajah Lena menyebar dan menjadi standar mutlak untuk menguji algoritma kompresi seperti format JPEG yang kita pakai tiap hari.
Majalah Playboy yang menyadari hak ciptanya dibajak, bersiap untuk melayangkan gugatan hukum. Namun, insting bisnis Hugh Hefner menahan mereka. la sadar ini adalah publikasi gratis yang tak ternilai dari komunitas sains global.
Selama 25 tahun, Lena sendiri tak pernah tahu bahwa jutaan ilmuwan menatap wajahnya setiap hari di depan monitor. Hingga pada tahun 1997, ia diundang oleh asosiasi sains terbesar di dunia (IEEE) sebagai tamu kehormatan dalam sebuah konferensi sains.
Zaman berubah
Atas alasan etika profesional, pada April 2024, asosiasi sains yang sama, IEEE, resmi melarang foto Lena digunakan dalam literatur teknologi digital. (*)
Editor : Bambang Harianto