Omzet bulan itu hampir Rp 300 juta. Tapi tanggal 25, saya nggak punya cukup uang buat gajian.
Waktu itu saya sebenarnya lagi seneng-senengnya. Order masuk terus setiap hari.
Baca juga: Dosen Unesa Gelar Pelatihan Pengelolaan Keuangan di Desa Bangah
Tim sudah 12 orang. Bahkan saya baru ngomong ke istri : "Kayaknya tahun depan kita bisa buka cabang."
Saya pikir bisnis akhirnya mulai jadi.
Sampai tanggal 25 pagi, finance nge-chat saya : "Pak, boleh telepon sebentar?"
Saya jawab : "Kenapa?"
Beberapa detik kemudian dia balas : "Kayaknya payroll bulan ini kurang."
Saya baca chat itu dua kali. Badan langsung lemes.
Kopi yang dari tadi saya pegang langsung saya taruh.
Di kepala cuma kepikiran satu hal : "Kurang berapa?"
Karena 5 hari lagi...
12 orang nunggu gajian dari saya. Jujur, awalnya saya agak kesel.
Dalam hati : "Kurang gimana? Bulan ini penjualan kita bagus."
Saya buka mobile banking. Refresh. Saya tutup. Buka lagi. Saldo operasional: Rp 12.840.000. Saya diem.
Malam itu saya nggak jadi pulang. Saya sama finance buka transaksi satu-satu. Mutasi rekening. Invoice. Tagihan vendor. Semuanya kami cek ulang.
Jam 9 malam... belum ketemu juga. Saya mulai emosi.
"Nggak mungkin uang sebanyak itu hilang begitu aja."
Finance saya cuma diam. Sampai beberapa menit kemudian dia berhenti scroll.
Dia lihat ke saya dan bilang : "Pak... kayaknya saya tahu uangnya ke mana."
Saya langsung geser kursi ke sebelahnya. Dan ternyata... selama ini saya salah melihat bisnis saya sendiri.
Baca juga: Oven Hemat Energi yang Dikenalkan PKM Dosen UNESA Kepada UMKM Roti Ikan
Banyak penjualan kami ternyata belum menjadi uang. Ada customer tempo. Ada invoice belum dibayar. Ada DP (down payment) yang sudah kepakai untuk operasional.
Ada campaign yang saya tambah budget karena merasa : "Lagi rame, gas aja."
Omzet memang hampir Rp 300 juta. Tapi uang yang benar-benar tersedia jauh lebih sedikit.
Malam itu saya pulang hampir jam 1. Jalanan sudah sepi. Tapi kepala saya nggak berhenti mikir.
Saya kepikiran wajah anak-anak di kantor. Ada yang punya cicilan. Ada yang sudah berkeluarga. Ada yang mungkin besok ditanya istrinya:
"Gajian tanggal berapa?"
Dan mereka semua nggak tahu... malam itu saya bahkan belum tahu bisa menggaji mereka atau nggak. Rasanya sesak.
Karena kalau sampai gaji mereka telat, yang salah bukan bisnis ini. Yang salah keputusan saya.
Malam itu saya baru sadar : "Ternyata makin besar bisnis yang kita bangun, makin banyak hidup orang yang ikut kita bawa".
Singkat cerita... payroll bulan itu akhirnya aman. Semua anak-anak menerima gaji tepat waktu.
Baca juga: Pentingnya Personal Branding Bagi Ibu Rumah Tangga Sebagai Penghasilan
Mereka pulang seperti biasa. Bercanda seperti biasa. Mereka nggak pernah tahu apa yang terjadi malam sebelumnya. Tapi saya tahu... Saya nggak mau mengalami malam seperti itu lagi.
Sejak hari itu, ada satu hal yang berubah.
Dulu setiap meeting saya selalu bangga bertanya : "Omzet bulan ini berapa?"
Sekarang, sebelum bicara omzet, ekspansi, atau target... saya selalu tanya satu hal dulu : "Kalau besok nggak ada satu pun uang masuk..." "cash kita cukup buat hidup berapa lama?"
Karena malam itu saya akhirnya ngerti...
Omzet besar bisa bikin kita terlihat sukses. Tapi cashflow yang sehat bikin bisnis tetap hidup.
Selama ini saya pikir... bisnis sedang dalam bahaya ketika penjualan sepi. Ternyata saya salah.
Kadang bisnis justru berada di titik paling berbahaya... ketika order ramai, omzet naik, dan kita terlalu sibuk merasa semuanya baik-baik saja.
Karena pada akhirnya... yang bikin bisnis bertahan bukan seberapa besar angka penjualannya. Tapi seberapa lama bisnis itu masih bisa bernapas. (*)
Editor : S. Anwar