Theys Hiyo Eluay, Pejuang dari Papua Mati Dibunuh

Reporter : Redaksi
Theys Hiyo Eluay

10 November 2001. Hari Pahlawan. Seorang Big Man Papua diundang makan malam di markas pasukan elite. Dia pulang dalam kondisi tewas dicekik, dibuang di jurang dekat perbatasan Papua Nugini (PNG). 

23 tahun lebih berlalu. Yang divonis cuma "prajurit lapangan". Siapa yang memberikan perintah? Sampai sekarang tidak ada yang berani menjawab. Inilah kisah Theys Hiyo Eluay.

Baca juga: Pria Pakai Atribut TNI Melawan Polisi Saat Penertiban Tambang Ilegal di Sambati

Theys Hiyo Eluay bukan orang sembarangan. Lahir pada tahun 1937 di Sentani, Papua, dia salah satu tokoh yang ikut proses integrasi Papua ke Indonesia lewat Pepera 1969. Orang yang akhirnya dibunuh institusi negara ini, dulu justru bagian dari proses yang bikin Papua gabung ke Indonesia.

Tahun 1992, Theys Hiyo Eluay mendirikan Lembaga Musyawarah Adat, naungan 250 suku di Papua. Pengaruhnya sangat besar di akar rumput. Tahun 1999, momentum reformasi memberikan ruang. Dia menjadi Ketua Presidium Dewan Papua (PDP), lembaga yang justru difasilitasi Gus Dur (Abdurahman Wachid) sebagai bentuk otonomi khusus.

Tapi Theys Hiyo Eluay tidak berhenti disitu. Dia mulai menyebut diri "Pimpinan Besar Dewan Papua" dan mengibarkan bendera Bintang Kejora, simbol Papua Merdeka. Setahun sebelum kematiannya, Theys Hiyo Eluay menggelar Kongres Rakyat Papua II. Ujungnya, dia sempat dituduh makar. Lolos dari tuduhan itu. Tapi tidak lolos dari yang selanjutnya.

Malam pembunuhan Theys Hiyo Eluay

10 November 2001, sore. Markas Satuan Tugas (Satgas) Tribuana Kopassus di Hamadi, Jayapura Selatan, menggelar resepsi Hari Pahlawan. Tokoh-tokoh Papua diundang , termasuk Theys Hiyo Eluay. Pukul 20.00 WIT, Theys datang naik Toyota Kijang Kapsul biru, nomor polisi (nopol) B 8997 TO, diantar sopirnya, Aristoteles Masoka.

Dia diterima langsung di pendopo markas oleh Letkol Hartomo, Komandan Satgas Kopassus Tribuana. Makan malam dimulai. Di tengah jamuan, versi dakwaan bilang : Hartomo dengar kabar Theys mau proklamasikan kemerdekaan Papua. Dari situ katanya "muncul pertengkaran".

Selesai acara, Theys Hiyo Eluay sempat telepon istrinya, Yaneke Ohee, bilang lagi perjalanan pulang. Itu terakhir kali dia kedengaran hidup.

22.10 WIT. Sopirnya, Ari Masoka, telepon ke rumah Theys. Dia bilang, dirinya dan Theys sedang diculik orang-orang tak dikenal. Setelah itu, hening. Tidak ada kabar lagi.

Besoknya, Minggu 11 November 2001. Mobil Kijang itu ditemukan terperosok di jurang, daerah Skouw, dekat perbatasan Indonesia- Papua Nugini (PNG). Theys Hiyo Eluay ditemukan tewas di dalam mobil. Kunci mobil dalam posisi off , artinya bukan kecelakaan biasa, ada yang "menata" tempat kejadian perkara. Sopirnya, Ari Masoka? raib. Sampai hari ini, lebih 23 tahun kemudian, dia tidak pernah ditemukan. Hidup atau mati, tidak ada yang tahu pasti.

Sore itu jenazah dibawa ke Rumah Sakit Dok II Jayapura buat diotopsi. Hasil autopsi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dokumen nomor 200/IBS/SB/2001, tanggal 14 November 2001: Theys Hiyo Eluay bukan mati wajar. Ada tanda pencekikan dan memar di tubuhnya. Fakta forensik bicara jelas: ini pembunuhan.

Sekarang masuk dialektika , pertentangan kepentingan yang jadi akar kasus ini. Kenapa Theys jadi target? Karena dia representasi dari ketegangan lama: aspirasi self-determination Papua vs doktrin keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dipegang ketat sebagian elemen Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Ada faksi di tubuh militer yang gerah dengan Presidium Dewan Papua (PDP), takut lembaga itu jadi kendaraan buat lepasnya Papua dari Indonesia. Ironisnya, Presidium Dewan Papua (PDP) itu sendiri lahir dari fasilitasi negara (era Gus Dur) sebagai jalan tengah otonomi khusus. Tapi begitu Theys makin vokal soal kemerdekaan, dia berubah dari "mitra dialog" jadi "ancaman keamanan" di mata sebagian aparat.

Baca juga: Organisasi Papua Merdeka Tuduh TNI Tembak Mati Warga Sipil

Ini pola klasik conflict escalation : negara buka ruang dialog, tapi begitu tokoh sipil pakai ruang itu buat menyuarakan aspirasi yang dianggap "kebablasan", pendekatan berubah dari politik ke represi keras.

Logika, proses hukumnya, dan kenapa banyak yang bilang kasus ini "setengah tuntas". Januari 2003, sidang di Mahkamah Militer Tinggi III Surabaya. Total 7 anggota Kopassus diadili termasuk Letkol Hartomo, Kapten Rionardo, Sertu Asrial, Praka Ahmad Zulfahmi, Mayor Doni Hutabarat, Lettu Agus Suprianto, Sertu Laurensius.

Pledoi pembelaan bilang : "Ini kecelakaan, tidak direncanakan." 

Tapi fakta di lapangan tidak match. Salah satu terdakwa bahkan mengaku ikut mencekik/menutup mulut korban. Tempat kejadian perkara ditata biar kelihatan kecelakaan mobil. Saksi kunci (sopirnya) raib sampai sekarang. Kalau ini beneran "kecelakaan tanpa niat", kenapa perlu effort sebesar itu buat menyembunyikan ?

Vonisnya? Hartomo divonis 3,5 tahun dan secara formal dipecat dari dinas militer. Terdakwa lain divonis 2 sampai 3,5 tahun. Tapi ini yang bikin publik geregetan : ada laporan bahwa pemecatan itu tidak sepenuhnya dijalankan. Belakangan dia malah naik pangkat. 

Kalau benar, ini bukan cuma soal vonis ringan. Ini bukti bagaimana sistem melindungi orang dalam, bahkan setelah "dihukum" di atas kertas.

Data diri Theys Hiyo Eluay

Baca juga: Praka Aprianus Gugur Ditembak Organisasi Papua Merdeka

Theys Hiyo Eluay lahir pada 3 November 1937 di Sereh, Sentani Holandia, Hindia Belanda. Dia ikut andil dalam Pepera 1969.

Theys Hiyo Eluay dikenal sebagai aktivis pro-integrasi. Pada tahun 1969, Theys berhasil menghimbau massa untuk bergabung dengan Indonesia.

Theys Hiyo Eluay pernah menjadi Anggota DPRD Dati I Irian Jaya. Theys diangkat menjadi anggota DPRD Irian Jaya dikarenakan jasa-jasanya terhadap integrasi Papua barat ke Indonesia. Theys masuk dalam Fraksi Karya Pembangunan selama tiga periode hingga tahun 1996

Tak lagi dicalonkan dan Bersuara Merdeka

Theys tidak dicalonkan lagi sebagai anggota DPRD, dianggap memang sudah melenceng dan membahayakan. Menanggapi tidak dicalonkannya dirinya, Theys lantas menggalang massa untuk berteriak "merdeka".

Dekrit Papua dan Meminta Referendum

1 Desember 1999. Theys dan beberapa warga Papua lainnya bersepakat dan memberanikan diri untuk berteriak "merdeka"  serta mengibarkan bendera Bintang Kejora. Saat itu juga, Theys mengeluarkan Dekrit Papua, juga meminta referendum dan merdeka. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru