Di panggung bisnis dan teknologi nasional, nama Shanti Lasminingsih Poesposoetjipto adalah simbol nyata dari kombinasi kecerdasan ekstrem dan ketangguhan kepemimpinan. Perempuan hebat yang akrab disapa Shanti ini membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar penerus takhta bisnis keluarga, melainkan seorang visioner yang berhasil membawa era digital ke dalam industri pelayaran raksasa tanah air.
Sebagai putri sulung dari sang raja kapal legendaris Indonesia, Soedarpo Sastrosatomo (pendiri Soedarpo Corporation), Shanti justru memilih jalan yang terbilang langka pada masanya: menceburkan diri ke dunia teknologi informasi (TI).
Baca juga: PT Satuan Harapan Indonesia is Hiring
Jatuh Cinta pada Komputer di Jerman
Minat Shanti pada dunia teknologi tumbuh berkat pengaruh sang ayah yang melihat potensi besar di bidang elektronika. Ketertarikan mendalam inilah yang membawanya terbang ke Eropa untuk menempuh pendidikan di Technische Universität München, Jerman.
Di sana, ia mengambil jurusan Teknik Elektro dengan spesialisasi ilmu komputer—sebuah bidang yang pada era 1970-an masih sangat jarang dilirik, apalagi oleh kaum perempuan.
Sekembalinya ke tanah air dengan gelar insinyur Jerman, Shanti tidak serta-merta langsung duduk nyaman di kursi direksi. Sang ayah mendidiknya dengan keras untuk merangkak dari bawah.
Ia pertama kali ditempatkan sebagai manajer biasa di Service Bureau Department NVPD Soedarpo Corporation, sebuah divisi yang menjual jasa pengolahan data komputer untuk pihak ketiga. Di sana, ia bekerja bahu-membahu bersama para insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan besaran gaji yang sama rata, tanpa ada perlakuan istimewa sebagai anak pemilik.
Sang Arsitek Modernisasi Gurita Bisnis Soedarpo
Sepanjang tahun 1974 hingga 1997, Shanti memanfaatkan waktunya untuk mendalami seluk-beluk bisnis pelayaran di Samudera Indonesia, sembari menyisipkan teknologi digital ke dalam sistem operasional perusahaan.
Kelihaian bisnisnya kian tajam saat ia memprakarsai restrukturisasi (re-engineering) bisnis Soedarpo Corporation agar fokus pada dua pilar masa depan: teknologi informasi dan distribusi produk farmasi. Gebrakan besarnya terbukti sukses saat ia berhasil mengawal perusahaan keluarga tersebut melantai di bursa saham menjadi perusahaan publik pada tahun 1990.
Gebrakan tak berhenti di sana. Pada tahun 1993, Shanti melakukan asesmen total menggunakan analisis SWOT di semua lini usaha. Ia menerapkan kebijakan efisiensi ketat yang memaksa seluruh divisi mengutamakan kesehatan arus kas (cash flow) perusahaan dalam setiap transaksi bisnis.
Menakhodai Samudera Indonesia dan Masuk Daftar Orang Terkaya
Sepeninggal sang ayah, tanggung jawab besar menakhodai gurita bisnis jatuh ke pundak Shanti. Kini, ia memegang kendali penuh sebagai Komisaris Utama PT Samudera Indonesia Tbk, salah satu perusahaan pelayaran dan logistik terbesar di Indonesia.
Tak hanya di laut, taji Shanti di dunia digital kian kuat dengan memimpin berbagai perusahaan TI strategis, mulai dari penyedia jasa internet Pacific Internet Indonesia, perusahaan solusi integrasi sistem PT Praweda Ciptakarsa Informatika, hingga software house PT Sumber Daya Praweda Informatika.
Berkat kepemimpinannya yang bertangan dingin dalam mengelola gurita bisnis lintas sektor ini, majalah ekonomi AsiaGlobe bahkan pernah memasukkan nama Shanti ke dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia dengan taksiran aset mencapai Rp 500 miliar.
Shanti Lasminingsih Poesposoetjipto adalah inspirasi nyata bahwa privilege atau hak istimewa sebagai anak konglomerat tidak akan menjadi apa-apa tanpa adanya kerja keras, integritas, dan inovasi. Di tangannya, teknologi berhasil menjadi kemudi utama yang membawa kapal bisnis raksasa menerjang badai digitalisasi zaman. (*)
Editor : S. Anwar