Imam Syafe'i atau Bang Pei adalah salah satu tokoh paling luar biasa dalam sejarah "dunia hitam" di Jakarta. Sekarang namanya nyaris terlupakan seiring munculnya nama-nama jagoan baru di Ibu Kota.
Imam Syafe'i lahir pada Agustus 1923 di Kampung Bangka, Jakarta. la kehilangan ayahnya saat berusia empat tahun-ditusuk golok oleh lawan yang ingin menguasai Pasar Senen.
Baca juga: Pria Pakai Atribut TNI Melawan Polisi Saat Penertiban Tambang Ilegal di Sambati
Pei kecil dititipkan ke seorang ulama, Habib Qodir al-Hadad, dan belajar ilmu bela diri. Kembali ke Pasar Senen, ia memulai kariernya dari bawah : copet di pasar sayur.
la membunuh jagoan setempat - Muhayar, asal Bogor. Seperti dalam film silat, Muhaya ternyata adalah anak pembunuh ayah Bang Pei.
Karena badannya pendek, Bang Pei terpaksa naik lapak sayur untuk menusuk lawannya dengan pisau. Sejak itu, ia mengendalikan Pasar Senen dan menjadi salah satu preman terbesar zamannya.
Di awal "kariernya" Bang Pei dikenal sebagai pentolan Kelompok 4 Sen-sebuah organisasi yang menghimpun para pedagang kecil, tukang sayur, pedagang kelontong, kusir delman, pengemudi becak, calo taksi, hingga kuli pelabuhan.
Setiap anggota diwajibkan menyetor uang sebesar 4 sen. Recehan yang terkumpul hingga memenuhi dua guci itu biasa digunakan untuk membantu anggota yang kesusahan. Efeknya, "anak nakal" di pasar pun menerima bantuan dan mengurangi kejahilannya
Ketika Jepang masuk, organisasi Bang Pei membantu keluarga korban romusha. la ditangkap, lalu lolos dari kebakaran. Ditangkap lagi, dijebloskan ke penjara di Ambarawa. Dan tentu saja lolos lagi.
Juni 1945, Pei mendirikan OPI (Oesaha Pemuda Indonesia), menculik sejumlah serdadu Jepang, dan memimpin laskar Bambu Runcing
Akhir tahun 1945, Bang Pei ambil bagian melawan Belanda Di atas kuda putihnya, ia mengejar jip Belanda di jalanan Jakarta.
Ketika pasukan ditarik mundur dari Ibu Kota, ia bergerilya ke Karawang, lalu Jonggol. Dan akhirnya Purwakarta-sambil bolak-balik masuk Jakarta untuk mencuri mobil, kelambu, pakaian, dan senjata, lalu menyelundupkannya ke wilayah Republik hingga Yogyakarta.
"Di antara tentara Sekutu ada serdadu Pakistan yang menolong kami setelah mengetahui bahwa kebanyakan di antara kami beragama Islam," kenangnya.
1946 - Bang Pei bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat-cikal bakal TNI (Tentara Nasional Indonesia).
1947 - Membujuk anggota laskarnya bergabung dengan angkatan bersenjata, membentuk Resimen Perjuangan yang terkenal karena anggotanya adalah pencuri dan pencopet.
Baca juga: Organisasi Papua Merdeka Tuduh TNI Tembak Mati Warga Sipil
1948 - Ikut menumpas peristiwa Madiun.
Pei resmi menjadi anggota TNI dengan pangkat kapten - bukan mayor seperti komandan batalyon lain, karena buta huruf.
Sekitar 1950-an, Bang Pei mendirikan Cobra-konon akronim dari Corps Bambu Runcing, diambil dari kenangan para anggotanya melawan Sekutu. Lantaran buta huruf, mereka "terbuang" dari TNI.
Bang Pei dihormati karena dua hal : ia jagoan, sekaligus anggota militer yang punya senjata api.
Cobra merekrut jagoan dari Senen hingga Tanah Abang, Pasar Rebo, Jembatan Lima Jatinegara, hingga Kebayoran Lama. Anggotanya paling kesohor: Mat Bendot-selalu menunggang kuda dan bersenjata ekor ikan pari, menguasai kawasan Tanah Tinggi.
Ada pula Cek Dien dari Palembang yang membuka kasino, dan Hanan dari Padang. Setiap kelompok wajib lapor ke Bang Pei di Pasar Senen.
Wilayah kekuasaan Cobra ditandai dengan stiker bergambar ular kobra tegak yang ditempel di dinding toko-terutama pertokoan milik pedagang keturunan Cina.
Baca juga: Praka Aprianus Gugur Ditembak Organisasi Papua Merdeka
Selain toko, Cobra juga hadir di pasar dan perumahan. Pendapatan terbesar berasal dari perjudian dan kasino.
Sekitar tahun 1953-1954, Bang Pei bahkan membuka kasino di rumah Duta Besar Filipina. Cobra bubar pada tahun 1959, tapi pengaruh Bang Pei sama sekali tidak luntur.
Puncak kariernya : diangkat menjadi Menteri Urusan Keamanan Rakyat dalam "Kabinet Seratus Menteri" Sukarno (24 Februari - 28 Maret 1966).
Lawan politik Sukarno menjulukinya "menteri copet", "ahli teror", dan "ketua bajingan-bajingana di Jakarta".
18 Maret 1966, sepekan setelah Supersemar, Bang Pei ditangkap dengan tuduhan komunis. Ironis. Pada 1948, justru ia yang ambil bagian menumpas Peristiwa Madiun.
Bang Pei dibebaskan pada tahun 1975. Menurut Misbach Yusa Biran, penulis 'Keajaiban di Pasar Senen', "Pei tidak tahu apa-apa tentang politik. Dia hanya setia pada Sukarno."
Tawaran kembali ke TNI-dengan kenaikan pangkat dan jabatan duta besar-ditolak Pei. la menghabiskan sisa hidupnya di Kebayoran Baru dan wafat pada 9 September 1982. (*)
Editor : S. Anwar