Purnomosidi Hadjisarosa, Otak Pembangunan Infrastruktur Era Orde Baru

Reporter : Redaksi
Purnomosidi Hadjisarosa

Di era 1970 hingga 1980-an, Indonesia gencar melakukan modernisasi infrastruktur besar-besaran, mulai dari jaringan jalan, jembatan, hingga sistem irigasi makro. Di balik deretan proyek megah era pemerintahan Presiden Soeharto tersebut, ada sentuhan magis dari para teknokrat berpendidikan mentereng.

Salah satu arsitek utamanya adalah Dr. Ir. Purnomosidi Hadjisarosa. Purnomosidi Hadjisarosa bukan sekadar pejabat biasa, melainkan seorang doktor teknik lulusan Jerman yang membawa pulang ilmu kelas dunia demi membangun tanah air tercinta.

Baca juga: Misteri Sapi Kurban Presiden Republik Indonesia

Pendidikan Berkelas Dunia: Dari Solo Menembus Jantung Eropa

Lahir pada 7 September 1934, bakat Purnomosidi Hadjisarosa di dunia teknik sudah mengkilap sejak masa belia. Ia merupakan alumni dari SMA Negeri 1 Surakarta, sebuah sekolah legendaris yang dikenal menetaskan banyak tokoh besar bangsa.

Setamat Sekolah Menengah Atas (SMA), Purnomosidi Hadjisarosa langsung diterima di jurusan bergengsi, yaitu Jurusan Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah menuntaskan pendidikan persiapan lengkapnya di ITB pada tahun 1956, Purnomosidi mengambil langkah besar yang jarang bisa dilakukan orang pada masanya: terbang ke Eropa untuk kuliah di Jerman.

Ia menempuh studi di Fakultaet fuer Bergbau und Huettenwesen der Bergakademie Clausthal (sekarang dikenal sebagai TU Clausthal). Di universitas teknik papan atas Jerman itulah, ia berhasil merengkuh gelar Insinyur sekaligus titel Doktor pada tahun 1963. Sebuah pencapaian yang sangat langka dan luar biasa di dekade 60-an!

Pulang Kampung Jadi Pionir Metalurgi di Universitas Indonesia

Bukannya memilih berkarier nyaman di luar negeri dengan gelar doktornya, Purnomosidi Hadjisarosa memilih pulang ke Indonesia. Sebelum dipanggil oleh negara ke jajaran birokrasi, ia terlebih dahulu mendedikasikan ilmunya di dunia akademis untuk mencetak insinyur-insinyur muda.

Baca juga: Penyebab Keretakan Hubungan Soeharto Dan Benny Moerdani

Purnomosidi Hadjisarosa tercatat sebagai salah satu pilar penting dalam sejarah Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI). Saat Jurusan Teknik Metalurgi UI pertama kali dibentuk, Purnomosidi Hadjisarosa langsung dipercaya untuk memimpin sebagai Ketua Jurusan pertama. Tak hanya itu, rekam jejak manajerialnya yang rapi juga membawanya menduduki posisi strategis sebagai Pembantu Dekan FTUI.

Menjadi Menteri Pekerjaan Umum Andalan Orde Baru

Kombinasi antara kecerdasan akademis dan kemampuan eksekusi lapangan membuat namanya dilirik oleh Istana. Purnomosidi Hadjisarosa akhirnya ditunjuk oleh Presiden Soeharto untuk menduduki pos krusial sebagai Menteri Pekerjaan Umum (PU) dalam Kabinet Pembangunan III.

Sebagai Menteri Pekerjaan Umum, Purnomosidi Hadjisarosa menjadi otak dan komandan utama yang merumuskan blueprint pembangunan jalan dan infrastruktur vital nasional. Gelar doktor Jerman-nya bukan sekadar pajangan, melainkan diterapkan langsung dalam standardisasi konstruksi modern yang kokoh di berbagai wilayah Indonesia.

Baca juga: Jenderal Basuki Rahmat, Saksi Kunci Pembawa Surat Supersemar

"Dedikasinya dari ruang kuliah UI hingga ke proyek-proyek strategis nasional menjadi bukti nyata bagaimana ilmu pengetahuan tingkat tinggi dipraktikkan langsung untuk hajat hidup orang banyak."

Warisan Abadi Sang Maestro

Purnomosidi Hadjisarosa mengembuskan napas terakhirnya pada 17 September 1997 dalam usia 63 tahun. Meskipun sang maestro kini telah tiada, pondasi infrastruktur modern dan sistem pendidikan teknik yang ia letakkan masih kokoh berdiri dan kita rasakan manfaatnya hingga hari ini. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru