Soepomo, Tokoh Penting yang Terlupakan

Reporter : Redaksi
Soepomo

Namanya Selalu Ada di Buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), sering dihafal saat ujian sekolah. Tapi tak banyak yang tahu kisahnya. Dialah Soepomo

Jika kamu pernah duduk di bangku Sekolah Dasar hingga menengah, nama tokoh ini pasti tidak asing. Bersama Soekarno dan Mohammad Yamin, nama Prof. Dr. Soepomo selalu muncul di buku pelajaran PPKn atau Sejarah sebagai salah satu perumus dasar negara di sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Baca juga: Pidato Soekarno di Sidang Umum PBB

Kita semua menghafal namanya demi nilai ujian, tapi ironisnya, sejarah hidupnya jarang sekali dibahas tuntas.

Lahir di Sukoharjo pada tahun 1903 dari keluarga bangsawan, Soepomo muda adalah sosok yang sangat brilian. la tidak hanya jago secara akademis di sekolah hukum Batavia, tapi juga dikirim ke Universitas Leiden, Belanda.

Di usia yang masih sangat muda (24 tahun), ia sudah meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dengan predikat luar biasa summa cum laude.

Peran terbesar Soepomo bagi republik ini terjadi pada tahun 1945. Ketika para Founding Fathers sibuk berdebat soal bentuk negara, Soepomo ditunjuk menjadi Ketua Panitia Kecil Perancang Undang Undang Dasar (UUD).

Otak jeniusnyalah yang memimpin penulisan pasal demi pasal, merancang fondasi hukum, struktur negara, hingga sistem pemerintahan Indonesia merdeka.

Baca juga: Biografi Ratna Sari Dewi Soekarno

la adalah "Arsitek Konstitusi" kita.

Salah satu pemikiran paling ikonik (dan sering diperdebatkan) dari Soepomo adalah gagasan "Negara Integralistik". Soepomo membayangkan Indonesia bukan sebagai negara individualis ala Barat, melainkan seperti sebuah keluarga besar.

Pemimpin dan rakyatnya bersatu erat, saling mengayomi tanpa ada dualisme. Konsep kekeluargaan inilah yang mewarnai banyak pasal dalam UUD 1945 rancangannya.

Setelah kemerdekaan, Soepomo menjabat sebagai Menteri Kehakiman pertama Republik Indonesia dan sempat menjadi Rektor Universitas Indonesia. Namun, dedikasinya yang tanpa henti untuk negara harus dibayar mahal dengan kesehatannya.

Baca juga: Perang Senyap Para Arsitek Kedaulatan

Pada 12 September 1958, di usia yang baru menginjak 55 tahun, sang arsitek hukum ini wafat akibat serangan jantung di Jakarta. Kepergiannya cukup sunyi, tertutup oleh riuhnya dinamika politik Orde Lama saat itu.

Sangat tidak adil jika kita hanya mengingat Soepomo sebatas jawaban pilihan ganda di soal ujian sekolah. Soepomo adalah arsitek utama yang membangun "rumah" hukum bernama Indonesia. Sudah saatnya kita mengenal Soepomo lebih dari sekadar nama di buku teks PPKn. (*)

*) Source : Arsip Peristiwa

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru