Kisah Tragis Oerip Soemohardjo, Meninggal Dengan Hati yang Patah

Reporter : Redaksi
Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. 

Ada nama yang hampir terlupakan sejarah, padahal tanpa dia, boleh jadi tentara Indonesia tidak pernah ada. Namanya Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. 

Bagi banyak orang, nama itu kalah populer dibanding Jenderal Soedirman. Tapi inilah yang tidak banyak diketahui : Soedirman sendiri adalah juniornya. Dan justru Oerip Soemohardjo -lah yang menyusun, membangun, dan membentuk organisasi tentara nasional Indonesia dari nol di atas puing-puing kemerdekaan yang masih rapuh.

Lahir di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, 22 Februari 1893, pria bernama asli Muhammad Sidik ini tumbuh dengan satu mimpi yang tak bisa dipadamkan: menjadi tentara. Ia menghabiskan hampir 25 tahun bertugas di bawah bendera KNIL, tentara kolonial Belanda, dan menjadi satu-satunya perwira pribumi yang berhasil menembus pangkat Mayor dalam institusi yang penuh diskriminasi rasial itu. Bahkan berkali-kali ia berani bersuara menentang perlakuan tidak adil Belanda terhadap bangsanya sendiri.

Ketika Proklamasi Kemerdekaan bergema pada 17 Agustus 1945, Oerip Soemohardjo sudah lama pensiun dan menghabiskan hari-harinya berkebun anggrek di pinggiran Yogyakarta. Namun negara memanggilnya kembali. Pada Oktober 1945, Oerip Soemohardjo diangkat sebagai Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Letnan Jenderal, mendapat mandat membangun kekuatan militer nasional dari hampir tidak ada apa-apanya.

Tugas yang diterimanya adalah tugas yang mustahil di atas kertas. Tidak ada struktur komando, tidak ada seragam seragam, tidak ada tanda pangkat, dan tidak ada dana yang cukup. 

Laskar-laskar pejuang dari berbagai latar belakang bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Oerip menyatukan semuanya dengan tangan besi yang berdisiplin tinggi : membentuk Markas Besar Tentara di Yogyakarta, membangun komandemen wilayah dari Jawa Barat hingga Jawa Timur, menetapkan sistem komando hierarki, dan mendirikan Militaire Academie, akademi militer pertama Indonesia, di Yogyakarta pada 31 Oktober 1945 — yang menjadi cikal bakal Akademi Militer (Akmil) yang kini berdiri di Magelang.

Namun di sinilah luka itu mulai terbuka.

Oerip adalah seorang tentara sejati. Ia percaya bahwa satu-satunya bahasa yang dipahami Belanda adalah kekuatan, bukan meja perundingan. Ketika pemerintah memilih jalur diplomasi dan akhirnya menandatangani Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948, kekecewaan Oerip meledak. 

Perjanjian itu memaksa sekitar 35.000 tentara Indonesia mundur dari kantong-kantong pertahanan di Jawa Barat dan Jawa Timur ke wilayah Republik, sementara Belanda diberi waktu untuk memperkuat pasukannya. Bagi Oerip, itu bukan diplomasi. Itu pengkhianatan.

"Berunding dengan Belanda hanya mengulang kesalahan para leluhur sejak pengkhianatan terhadap Pangeran Diponegoro," begitulah sikap keras sang jenderal Oerip Soemohardjo.

Akhir dari kisahnya lebih pahit lagi. Presiden Soekarno menonaktifkannya dari jabatan Kepala Staf dan memindahkannya ke Dewan Pertimbangan Agung, sebuah posisi yang Oerip sendiri sadari hanya untuk membuatnya tidak berdaya. Semangat hidupnya seolah padam. Ia yang terbiasa memimpin dari lapangan, kini hanya duduk tanpa kuasa.

Ditambah gejolak Insiden Madiun yang pecah September 1948 dan kondisi jantungnya yang sudah lama melemah, tubuh sang jenderal tidak mampu lagi bertahan. Pada malam 17 November 1948, Oerip Soemohardjo ambruk di kamarnya di Yogyakarta dan tidak pernah bangun lagi. Ia wafat akibat serangan jantung di usia 55 tahun, meninggalkan istri tercintanya, Rohmah, dan seorang putri angkat.

Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Pada 1964, Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya. Ia juga secara anumerta dinaikkan pangkat menjadi Jenderal penuh.

Jenderal Soedirman sendiri, saat hampir mundur dari jabatannya pada 1949, secara terbuka menyalahkan ketidakkonsistenan pemerintah sebagai penyebab kematian Oerip dan penyakit yang menggerogoti dirinya sendiri.

Oerip Soemohardjo pergi tanpa sempat menyaksikan kemerdekaan yang utuh. Tapi TNI yang berdiri tegak hingga hari ini adalah monumen hidupnya. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru