Dalam lembaran sejarah politik Indonesia, era Orde Baru kerap dikenang sebagai masa di mana kekuasaan berpusat begitu kuat dan atmosfer politik terasa mencekam. Menantang jalannya pemerintahan, apalagi berniat menggantikan posisi Soeharto di kursi kepresidenan, adalah hal yang tabu dan dianggap cari mati. Namun, sejarah mencatat sebuah aksi heroik nan langka yang lahir dari rahim pergerakan mahasiswa: kisah seorang dokter muda berusia 29 tahun yang nekat maju menjadi calon presiden.
Sosok pemberani itu adalah dr. Judilherry Justam, M.M. Pria kelahiran 27 September 1948 ini membuktikan bahwa idealisme dan nyali tidak bisa dibungkam oleh rasa takut, bahkan di bawah bayang-bayang rezim paling perkasa sekalipun.
Baca juga: Misteri Sapi Kurban Presiden Republik Indonesia
Berangkat dari Kegemasan Politik
Momen luar biasa ini terjadi menjelang Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tahun 1978. Saat itu, peta politik nasional benar-benar mandek. Tidak ada satu pun tokoh nasional, politisi senior, ataupun jenderal yang berani memunculkan nama mereka untuk menjadi penantang Soeharto. Semua orang mafhum akan risiko politik yang harus dihadapi jika berani mengusik kenyamanan penguasa.
Melihat kondisi yang dinilai penuh kepasrahan tersebut, Judilherry Justam merasa terpanggil. Didorong oleh rasa gemas dan gelisah karena melihat tiadanya iklim demokrasi yang sehat, pemuda yang kala itu baru saja lulus sebagai dokter dari Universitas Indonesia (UI) ini mengambil keputusan yang menggemparkan. Bagi Judil, harus ada seseorang yang berani mendobrak kebuntuan dan ketakutan politik yang sedang melanda negeri.
Datangi Adam Malik untuk Nyapres
Tanpa keraguan, dokter muda yang belum genap berusia 30 tahun tersebut melangkah langsung ke jantung kekuasaan legislatif. Ia mendatangi Adam Malik yang kala itu menjabat sebagai Ketua MPR.
Baca juga: Penyebab Keretakan Hubungan Soeharto Dan Benny Moerdani
Di hadapan sang Ketua MPR, Judilherry dengan tegas menyatakan sikap dan niatnya untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia. Langkah yang dianggap "gila" dan terlampau berani pada masanya itu ia lakukan murni sebagai sebuah pernyataan moral—sebuah pesan kuat kepada bangsa bahwa hak untuk memilih dan dipilih adalah milik setiap warga negara, bukan monopoli penguasa.
Rekam Jejak Sang Aktivis Malari
Keberanian dr. Judilherry sebenarnya bukanlah hal yang muncul dalam semalam. Jiwa pemberontaknya telah ditempa di kerasnya dunia aktivisme kampus. Ia merupakan mantan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM UI) yang kemudian mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal Dema UI, mendampingi sahabatnya, Hariman Siregar.
Kepengurusan mereka di UI kala itu lahir di tengah intervensi mendalam dari mesin politik Orde Baru melalui operasi intelijen Ali Murtopo. Alih-alih tunduk untuk menjaga stabilitas rezim, Judilherry dan kawan-kawan justru memilih berbalik arah menjadi kritikus paling lantang. Di saat yang sama, ia juga dipercaya memimpin sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran UI periode 1973–1974.
Baca juga: Jenderal Basuki Rahmat, Saksi Kunci Pembawa Surat Supersemar
Puncaknya terjadi pada 15 Januari 1974, ketika gelombang protes mahasiswa menentang dominasi modal asing memicu meletusnya Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Akibat aksi besar yang berujung kerusuhan massal di ibu kota tersebut, Judilherry harus membayar mahal idealisimenya. Ia ditangkap oleh rezim penguasa dan dijebloskan ke dalam jeruji besi bersama jajaran elite aktivis mahasiswa lainnya demi meredam gejolak perlawanan.
Menularkan Idealisme di Ruang Kuliah
Setelah badai politik masa muda berlalu dan roda sejarah terus berputar, dr. Judilherry Justam memilih jalan pengabdian yang lebih tenang namun tetap kokoh menjaga nilai-nilai intelektual. Sang mantan aktivis yang pernah mengguncang ibu kota dan menantang ketakutan politik bangsa ini, kini mendedikasikan hidupnya sebagai dosen di almamater tercintanya, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di sana, ia terus menularkan ilmu, integritas, dan semangat idealisme kepada generasi muda penerus bangsa. (*)
Editor : S. Anwar