Kiprah Politik Tifatul Sembiring

Reporter : Redaksi
Tifatul Sembiring

Panggung politik Indonesia selalu diwarnai oleh figur-figur dengan latar belakang yang unik dan karakter yang kuat. Salah satu sosok yang konsisten mencuri perhatian publik dalam dua dekade terakhir adalah Tifatul Sembiring. Mantan menteri, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan legislator Senayan tiga periode ini tidak hanya dikenal karena kebijakan politiknya, melainkan juga karena identitas kulturalnya yang kaya dan gaya komunikasinya yang nyentrik.

Di balik nama belakangnya yang kental dengan nuansa Sumatra Utara, Tifatul menyimpan ikatan darah dan kultural yang sangat kuat dengan Ranah Minangkabau. Sebuah perpaduan identitas yang membentuk karakter kepemimpinannya hingga hari ini.

Baca juga: Fraksi PKS Minta Pemerintah Tegas Berantas Tambang Ilegal

Harmoni Dua Budaya: Karo dan Minangkabau

Tifatul Sembiring lahir pada 28 September 1961 dari pasangan orang tua yang mewakili dua etnis besar di Sumatra. Dari sang ayah, ia mewarisi darah Karo beserta marga Sembiring yang melekat pada namanya. Sementara dari sang ibu, mengalir darah Minangkabau yang berakar kuat dari luhak agung.

Di dalam adat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal (garis keturunan ibu), Tifatul secara sah merupakan anak suku Koto. Ikatan kultural ini bukan sekadar status formal. Tifatul dipercaya memangku amanah sebagai kepala kaum suku Koto di Guguak Tabek Sarojo, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Atas kedudukannya tersebut, ia dianugerahi gelar kehormatan adat yang mulia: Datuak Tumangguang. Gelar ini menegaskan bahwa di samping kiprahnya di tingkat nasional, ia adalah seorang pemimpin adat yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kaum dan kampung halamannya di ranah Minang.

Masa Kecil di Bukittinggi dan Perjuangan Meraih Gelar Insinyur

Meskipun menghabiskan sebagian masa remajanya di Jakarta, masa-masa pembentukan karakter awal Tifatul terjadi di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Benteng Pasar Atas. Menariknya, dalam berbagai catatan masa lalu, ia mengenang dirinya sebagai bocah yang cukup bandel dan terbiasa pergi ke sekolah tanpa alas kaki—sebuah potret kesederhanaan masa kecil di daerah.

Selepas lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Bukittinggi, ia merantau ke ibu kota dan melanjutkan sekolah ke STM Pembangunan Jakarta (kini SMK Negeri 26). Kecintaannya pada bidang teknologi membawanya mendalami jurusan Manajemen Komputer di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat, hingga akhirnya berhasil meraih gelar insinyur komputer melalui ujian negara di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer (STI&K) Jakarta pada tahun 1988.

Sebelum terjun penuh ke dunia dakwah dan panggung politik, modal keilmuan ini mengantarkannya bekerja sebagai karyawan PT PLN (Persero) di bidang telekomunikasi dan pemrosesan data untuk wilayah Jawa, Bali, dan Madura.

Diplomasi Pantun: Warisan Sastra yang Melekat

Baca juga: Panaskan Mesin Partai, Pks Gresik Siap Menangkan Yani-Alif

Sebagai seorang putra Minangkabau, seni mengolah kata tampaknya sudah mendarat alami dalam diri Tifatul. Ciri khas paling menonjol dari gayanya berpolitik adalah kegemarannya menyelipkan pantun dalam setiap kesempatan. Baik saat menyampaikan sambutan resmi sebagai pejabat negara, berdiplomasi dengan mitra politik, hingga saat mencairkan suasana sidang di DPR RI yang tegang.

Bagi Tifatul, pantun bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen komunikasi politik yang cerdas. Melalui pantun, kritik-kritik tajam dapat disampaikan secara elegan tanpa harus menyulut amarah. Gaya "diplomasi pantun" ini bahkan sempat menginspirasi tokoh-tokoh negara lainnya, termasuk mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kerap saling berbalas pantun dengannya dalam rapat-rapat kabinet.

Jejak Karier dan Warisan Kebijakan

Perjalanan karier politik Tifatul terbilang lengkap. Ia merangkak dari posisi Humas partai, Wakil Sekretaris Jenderal, hingga puncaknya dipercaya menjadi Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) periode 2005–2010.

Ketika dipercaya menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) dalam Kabinet Indonesia Bersatu II (2009–2014), Tifatul menorehkan sejumlah warisan penting di bidang infrastruktur digital:

Pemerataan Akses: Meluncurkan program Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dan Mobile PLIK untuk menjangkau daerah terpencil.

Baca juga: Sosok Hendry Munief, Politikus PKS dari Riau

Kedaulatan Digital: Memulai langkah tegas (yang kala itu kerap memicu kontroversi) dalam menyaring konten negatif dan pornografi di internet demi melindungi moralitas bangsa.

Pencapaian PNBP: Berhasil menggenjot Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor kominfo hingga melampaui target nasional di akhir masa jabatannya, yang membuatnya dianugerahi penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana.

Menjaga Akar di Tengah Arus Nasional

Kini, sebagai anggota DPR RI yang telah terpilih selama tiga periode, Tifatul Sembiring tetap menjadi salah satu legislator yang vokal dan aktif, baik di meja parlemen maupun di media sosial.

Mengenal sosok Tifatul Sembiring adalah melihat bagaimana identitas lokal—ketegasan watak Karo dan keluwesan adat Minangkabau—bisa berpadu harmonis dalam diri seorang pemimpin nasional. Ia membuktikan bahwa setinggi apa pun jabatan yang diraih di tingkat pusat, akar budaya dan gelar adat Datuak Tumangguang yang dipikulnya akan selalu menjadi kompas dalam melangkah. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru