Pratikno merupakan salah satu figur akademisi murni yang sukses meniti karier cemerlang di panggung politik nasional. Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) ini kini mengemban amanah besar sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) sejak 21 Oktober 2024.
Sebelumnya, pria kelahiran Bojonegoro, 13 Februari 1962 ini dikenal luas sebagai "tangan kanan" sekaligus salah satu orang paling kepercayaan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, dengan menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) selama dua periode penuh (2014–2024).
Baca juga: Dosen Hukum UGM Mengaku Diancam Setelah Kritik Menteri Pekerjaan Umum
Latar Belakang Pendidikan dan Gelar Guru Besar
Pratikno menghabiskan masa kecil dan pendidikan dasarnya di tanah kelahirannya, Bojonegoro, Jawa Barat. Ia merupakan alumni SMP Padangan dan SMPP Bojonegoro (sekarang SMA Negeri 2 Bojonegoro) yang lulus pada tahun 1980.
Setamat SMA, ketertarikannya pada dunia tata negara dan politik membawanya menempuh jalur akademik yang solid di dalam dan luar negeri:
S1 Ilmu Pemerintahan (UGM): Lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) pada tahun 1985.
S2 Administrasi Pembangunan (Birmingham University, Inggris): Meraih gelar Master of Social Science pada tahun 1991.
S3 Ilmu Politik (Flinders University, Australia): Meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) pada tahun 1997.
Berkat dedikasi dan kontribusi keilmuannya yang mendalam, pada Desember 2008, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) bidang Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada.
Karier Akademik: Penggerak Kerja Sama Global dan Rektor UGM
Pratikno memulai karier profesionalnya sebagai dosen di Fisipol UGM pada tahun 1986. Selain mengajar, ia sering dipercaya memimpin proyek kerja Sama akademik internasional antara UGM dengan berbagai universitas elite dunia:
Baca juga: Mohammad Sadli, Sosok Genius yang Buka Keran Modal Asing Pertama
Eropa & Australia: Menjadi manajer kerja sama dengan Agder University College (Norwegia), University of Oslo, Flinders University (Australia), serta Royal Dutch Institute of Southeast Asian and Carribean Studies (KITLV) di Leiden, Belanda.
Asia: Menjadi mitra tetap untuk Barometer Asia bersama Universitas Tokyo dan Universitas Chuo (Jepang), serta menjalin kerja sama dengan National University of Singapore (NUS).
Karier strukturalnya di kampus pun melesat cepat. Setelah menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik (2001-2004), ia terpilih menjadi Dekan Fisipol UGM periode 2008–2012. Puncaknya, ia terpilih menjadi Rektor UGM untuk periode 2012–2017. Namun, ia menanggalkan jabatan nomor satu di kampus biru tersebut pada tahun 2014 setelah dipanggil ke Jakarta untuk mengabdi di kabinet pemerintahan.
Terjun ke Pemerintahan dan Menjadi Orang Kepercayaan Istana
Kiprah Pratikno di ranah pemerintahan sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2006, jauh sebelum ia masuk kabinet. Ia tercatat pernah menjadi Tim Ahli Bidang Hukum, Sosial Politik, dan Otonomi Daerah di Departemen Dalam Negeri (2006–2007) serta Tim Ahli Konsepsi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (2007–2012). Karena netralitas dan keahliannya, KPU bahkan mempercayainya menjadi salah satu pemandu debat calon presiden pada Pilpres 2009.
Pada tahun 2014, Presiden Joko Widodo menunjuk Pratikno sebagai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg). Sebagai Mensesneg selama dua periode, ia bertindak sebagai gerbang administrasi kepresidenan, menyusun Perpres, Keppres, hingga mengumumkan pernyataan-pernyataan krusial kepala negara.
Baca juga: Poerbatjaraka sang Duta Utama, Doktor tanpa Sarjana
Sepanjang menjabat sebagai Mensesneg, beberapa momen penting yang dikawalnya antara lain:
Penyelesaian Kontroversi Kapolri (2015): Pratikno menjadi tokoh kunci yang meminta Budi Gunawan mundur dari pencalonan Kapolri setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, hingga akhirnya mengumumkan pembatalan tersebut dan menyampaikan pencalonan Badrodin Haiti.
Pengembangan Pendidikan Lingkungan (2017): Bersama Kementerian LHK, ia meluncurkan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Getas-Ngandong sebagai pusat pelatihan pengelolaan hutan bagi sivitas akademika UGM.
Netralitas Birokrasi: Di tengah tensi politik nasional, Pratikno selalu menegaskan posisi netralitasnya dari politik praktis daerah maupun nasional selama mengemban tugas negara.
Dari ruang kelas dan diplomasi antar-kampus dunia, Pratikno kini memegang kendali atas koordinasi kebijakan pembangunan manusia dan kebudayaan Indonesia. Rekam jejaknya yang panjang dalam mengelola administrasi negara menjadikannya salah satu teknokrat paling berpengaruh di jajaran kabinet saat ini. (*)
Editor : Bambang Harianto