Poerbatjaraka sang Duta Utama, Doktor tanpa Sarjana
Tepat bulan Juni 2026 ini, 100 tahun lalu, sebuah karya disertasi diraih ilmuwan sastra asal Surakarta. Ia meraih gelar doktor tanpa harus melewati pendidikan sarjana dan magister. Dialah Prof. Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka.
Poerbatjaraka dijuluki Bapak filologi Jawa. Dia dikenal sebagai jenius sastra yang menantang dunia sastra, hingga membawanya mencapai pengalaman karier akademik tertinggi Melahirkan dua profesor di bidang sejarah dan antropologi, serta guru besar di Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Udayana (Unud).
Bagaimana cerita perjalanan Poerbatjaraka? Yuk simak uraian berikut ini.
Pada tahun 1926, seorang intelektual asal Surakarta mempertahankan disertasi di Universitas Leiden yang kelak menjadi salah satu tonggak kajian filologi dan sejarah kebudayaan Nusantara. la tak pernah menyandang gelar sarjana, karya ilmiahnya, justru namun mengantarkannya meraih gelar doktor dan diakui dunia sebagai salah satu filolog berpengaruh asal Indonesia.
Poerbatjaraka lahir di Surakarta pada tahun 1884 dengan nama Raden Mas Lesya. Menjelang keberangkatannya ke Belanda untuk menempuh pendidikan di Universitas Leiden, Pakubuwana X menganugerahkan kepadanya gelar Raden Mas Ngabehi sekaligus nama Poerbatjaraka.
Poerbatjaraka bermakna "sang Duta Utama", sebuah simbol kepercayaan bahwa ia akan menjadi utusan budaya dan ilmu pengetahuan Jawa di panggung akademik dunia. Nama itu kemudian benar-benar menjelma menjadi takdir intelektualnya.
Kecintaan Poerbatjaraka terhadap sastra tumbuh sejak kecil. Dari garis ibunya, ia merupakan keturunan pujangga besar Raden Ngabehi Yasadipura. Ibunya sendiri dikenal gemar membaca karya-karya sastra Jawa, sehingga Lesya tumbuh di lingkungan keluarga yang akrab dengan tradisi membaca dan kepustakaan.
Ketika memperoleh pendidikan Barat kesempatan sangat terbatas, ia justru belajar secara otodidak melalui naskah-naskah Jawa, memperdalam bahasa Jawa Kuno, Melayu, Belanda, hingga Sanskerta. Perpustakaan dan manuskrip menjadi ruang belajar yang membentuk watak keilmuannya.
Masa muda Lesya dihabiskan sebagai pendamping belajar Gusti Pangeran Antasena (kelak menjadi Pakubuwana XI) di Europeesche Lagere School (ELS). Namun pendidikannya tidak berlangsung lama. la dikeluarkan dari sekolah dengan alasan yang tidak pernah dijelaskan secara resmi.
Diduga, kecerdasan Lesya yang menonjol membuat keberadaannya dipandang tidak menguntungkan dalam sistem pendidikan kolonial, meskipun dugaan ini tidak pernah dibuktikan melalui dokumen resmi.
Peristiwa tersebut tidak mematahkan semangatnya. Tanpa ijazah sekolah, Lesya memilih menjadikan buku, manuskrip, dan bahasa sebagai guru terbaiknya, sebuah pilihan yang kelak mengantarkannya hingga Universitas Leiden.
Puncak perjalanan intelektual Poerbatjaraka terjadi pada tahun 1926 melalui disertasinya yang berjudul Agastya in den Archipel. Penelitian ini mengkaji persebaran Resi Agastya di Nusantara dengan memadukan telaah filologi, prasasti, arca, dan sumber-sumber sejarah.
Melalui kajian yang kritis terhadap berbagai jenis data, Poerbatjaraka menunjukkan bagaimana kebudayaan Hindu-Buddha berkembang melalui proses adaptasi dengan tradisi lokal. Seratus tahun kemudian, karya tersebut masih menjadi rujukan penting dalam studi filologi, arkeologi, epigrafi, dan sejarah Asia Tenggara.
Sepulang dari Belanda, Poerbatjaraka mengabdikan dirinya pada penelitian naskah di Dinas Purbakala dan Museum Pusat di Batavia. la menyunting, menerjemahkan, dan mengkaji puluhan naskah Jawa Kuno maupun Jawa Baru yang hingga kini menjadi rujukan utama para peneliti.
Kepakarannya mengantarkannya menjadi profesor di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Udayana.
Sebagai bentuk penghormatan, ketiga perguruan tinggi tersebut mengabadikan namanya sebagai nama gedung.
Pengaruh Poerbatjaraka tidak berhenti pada karya-karyanya. la juga membentuk generasi penerus ilmu humaniora Indonesia melalui aktivitas mengajar dan membimbing mahasiswa.
Di antara murid-muridnya terdapat dua nama besar, yakni Prof. Dr. R.M. Soetjipto Wirjosoeparto yang kemudian menjadi sejarawan terkemuka, serta Prof. Dr. R.M. Koentjaraningrat, pelopor antropologi Indonesia.
Poerbatjaraka juga dipercaya menjadi rektor pertama Universitas Udayana, memperlihatkan bahwa pengabdiannya tidak hanya pada penelitian, tetapi juga pada pembangunan pendidikan tinggi nasional.
Perjalanan hidup Poerbatjaraka memperlihatkan bahwa keilmuan tidak selalu berawal dari ruang kuliah. Gelar boleh menjadi pengakuan, tetapi ketekunan, integritas, dan kecintaan pada ilmu pengetahuanlah yang menjadikan Poerbatjaraka sebagai salah satu cendekiawan terbesar dalam sejarah Indonesia. (*)
Referensi
Hall, D. G. E. (Ed.). (1961). Historians of South-East Asia. Oxford University Press.
Noegraha, N. (2011). Prof. Dr. Poerbatjaraka dan naskah kuno Perpustakaan Nasional RI. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 2(1), https://doi. org/10.37014/jumantara.v211.124 111-121.
Pigeaud, T. G. T. (1966). In memoriam Professor Poerbatjaraka. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 122(4), 405-412.
Poerbatjaraka. (1926). Agastya In den Archipel. E. J. Brill.
Poerbatjaraka. (1992). Agastya di Nusantara (Terjemahan dari Agastya in den Archipel). Yayasan Obor Indonesia.
van der Melj, D. (2006). Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka: Tokoh Jawa dalam dunia ilmu pengetahuan kesusastraan Jawa. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Editor : Bambang Harianto