Nama lengkap Abuya Sanja adalah KH Sanja bin H. Kasmin bin Ki Adil. Ia lahir di Kampung Cigintung, Kabupaten Pandeglang, sekitar tahun 1917. Sejak muda, beliau dikenal memiliki kecerdasan luar biasa dalam menguasai ilmu alat, khususnya ilmu nahwu dan sharaf yang menjadi fondasi memahami kitab kuning.
Di lingkungan pesantren Banten, nama Abuya Sanja lebih masyhur dengan sebutan "Raja Alfiyah" atau "Maha Guru Alfiyah Tanah Banten".
Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Beliau dikenal sebagai ulama yang menguasai secara mendalam Kitab Alfiyah Ibnu Malik, kitab berisi seribu bait kaidah tata bahasa Arab yang menjadi rujukan utama pesantren salaf di Nusantara.
Jejak Pendidikan dan Sanad Keilmuan
Perjalanan intelektual Abuya Sanja tergolong panjang. Ia menimba ilmu kepada sejumlah ulama besar Banten dan Jawa Barat, di antaranya :
Kiai Luthfi Kadugadung, Cipeucang, Pandeglang.
KH Tubagus Abdul Halim Kadupeusing, ulama sekaligus Bupati Pandeglang pertama.
Abuya Muqri Karabohong Labuan.
Syekh Adro'i Sukaraja Garut yang dikenal sebagai ahli Alfiyah terkemuka pada masanya.
Mama Sempur, KH Tubagus Ahmad Bakri Purwakarta.
Mama Gentur, KH Ahmad Syatibi Gentur Cianjur.
Sejumlah ulama besar di Cirebon, Pekalongan, dan Bogor.
Dari seluruh guru tersebut, pengaruh Syekh Adro'i Sukaraja sangat kuat. Banyak kalangan pesantren meyakini bahwa Abuya Sanja merupakan penerus tradisi keilmuan Alfiyah yang diwariskan oleh Syekh Adro'i, sehingga namanya kemudian identik dengan kajian Alfiyah di Banten.
Mengapa Dijuluki Raja Alfiyah?
Kitab Alfiyah Ibnu Malik merupakan kitab yang sangat sulit dipelajari karena berisi seribu bait nazam yang membahas tata bahasa Arab tingkat tinggi.
Di tangan Abuya Sanja, kitab tersebut tidak hanya diajarkan, tetapi menjadi identitas pesantrennya. Bahkan pesantren yang beliau dirikan diberi nama Pesantren Islam Riyadlul Alfiyah (PIRAK), yang berarti "Taman Alfiyah". Nama itu dipilih karena Alfiyah menjadi kajian utama yang diajarkan secara berkesinambungan kepada para santri.
Kealiman Abuya Sanja dalam ilmu alat membuat banyak ulama Banten mengirimkan santri terbaiknya untuk belajar langsung kepada beliau. Tidak sedikit kiai besar Banten yang pernah nyantri atau tabarukan ilmu kepada Abuya Sanja.
Guru Para Kiai Banten
Pada era 1950 hingga 1990-an, Pesantren Riyadlul Alfiyah Kadukaweng menjadi salah satu pusat studi ilmu nahwu dan sharaf paling berpengaruh di Banten.
Banyak tokoh ulama yang tercatat pernah belajar kepada Abuya Sanja, termasuk KH Bunyamin Hafidz, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten, yang dalam berbagai catatan disebut sebagai murid langsung Mama Sanja.
Di kalangan pesantren bahkan berkembang ungkapan: "Belum lengkap mengaji ilmu alat jika belum pernah belajar kepada Mama Sanja."
Editor : Bambang Harianto