Jejak Sejarah Madyopuro, Misteri Desa Sima Pamintihan

Reporter : Redaksi
Madyopuro

Nama Madyopuro berpeluang besar baru digunakan pada masa setelah Hindu-Budha (abad XVI). Potensi tersebut muncul dari petunjuk pada prasasti bertarikh 1473 Masehi, yang ditulis atas perintah Raja Majapahit Suraphrabawa, yaitu kemungkinan nama lama Madyopuro adalah 'Pamintihan'. 

Prasasti Pamintihan yang ditemukan di Bojonegoro ini, menginformasikan mengenai penetapan Pamintihan sebagai ‘desa perdikan (sima, swatantra)’. Anugerah (waranugraha) status ‘sima’ tersebut diberikan kepada Arya Surrung. 

Baca juga: Misteri Sejarah Panjang Gadang dan Candi yang Hilang

Menilik gelarnya, yakni ‘arya (pada masa kemudian disebut ‘haryo’ atau’ario’), tentu Surrung adalah seorang yang terhormat, terpandang, mulia, ningrat (Zoetmulder, 1995:5).

Cukup beralasan untuk melokasikan Pamintihan di tempat yang kini bernama ‘Madyopuro’. Hal itu tergambar pada letak ‘desa-desa perbatasan (parwatasan sekaligus wanwa tpi siring)’ dari desa sima Pamintihan sebagaimana diberitakan oleh Prasasti Pamintihan, yaitu Kabalan yang berada di sebelah timur-utaranya dan Tugaran di sebelah selatan lokasi Pamintihan. 

Jika Tugaran adalah Kampung Tegaron di Kelurahan Lesanpuro sekarang, dan Kabalan yaitu Kampung Kebalon di Kelurahan Cemoro Kandang, maka tergambar bahwa tempat yang diapit oleh keduanya menurut garis arah utara-selatan adalah apa yang kini dinamai Kelurahan Madyopuro.

Baca juga: Pabrik Polisi ya di Mojokerto

Jika ini memang benar , berarti jelang akhir Masa Hindu-Buddha tempat yang kini bernama ‘Madyopuro’ pernah menyandang status perdikan (sima). 

Sima adalah tempat yang konon dianggap desa maju, yang dipandang cukup layak untuk bisa mengelola rumah tangga atau pungutan pajak dari warga di desanya secara mandiri (swatantra). 

Berarti pula, sebagai suatu desa, Pamintihan (kini ‘Madyopuro’) telah ada jauh sebelum akhir abad XV, yang tumbuh dan berkembang sebagai desa maju pada jamannya. 

Jejak kekunoannya itu antara lain tergambar pada adanya delapan buah punden di wilayah Madyopuro, dan di salah sebuah diantaranya dijumpai artefak yang bentuknya menyerupai Lingga, atau jika dicermati lebih menyerupai ‘lingga patok’ atau disebut juga ‘batu sima’, yaitu benda yang berbentuk silindris di bagian atas dan persegi empat di bagian bawahnya, yang konon digunakan sebagai petanda suatu desa/derah perdikan, yang ditancapkan di tanah dalam prosesi ‘manusuk sima’.

*) Sumber : Blog petembahan citralekha

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru