Di balik kemegahan istana kekaisaran Tiongkok yang megah dan penuh tata krama, tersembunyi sekelompok orang yang awalnya dipandang rendah, bahkan dianggap tidak berharga oleh masyarakat luas. Mereka adalah para Kasim.
Kebanyakan Kasim berasal dari kalangan paling bawah, banyak yang dijual atau ditangkap sebagai budak, lalu mengalami pengebirian agar bisa melayani di lingkungan dalam istana tanpa menimbulkan kekhawatiran soal kesetiaan atau persaingan keturunan.
Pada awalnya, tugas Kasim terbilang sederhana saja. Mengantar pesan, menjaga keamanan ruang pribadi keluarga kerajaan, mengurus kebutuhan sehari-hari, serta melayani para permaisuri dan selir. Kaisar bahkan menganggap Kasim lebih aman dibandingkan pejabat tinggi, karena tidak bisa memiliki anak, Kasim dinilai tidak akan membangun kekuasaan sendiri untuk diwariskan kepada keturunannya.
Namun pandangan itu perlahan-lahan berubah menjadi kesalahan besar yang berakibat fatal bagi beberapa dinasti besar Tiongkok.
Karena akses istimewa yang tidak dimiliki pejabat biasa, para Kasim tumbuh menjadi sosok yang sangat dekat dengan penguasa. Bahkan ada yang sudah menemani Kaisar sejak masih kanak-kanak, menjadi satu-satunya laki-laki yang dipercaya hingga sang Kaisar tumbuh dewasa.
Lambat laun, mereka mulai memanfaatkan posisi istimewa itu. Mulai dari menyaring setiap laporan yang masuk ke telinga Kaisar, mengatur siapa yang boleh menghadap, hingga ikut campur dalam pengangkatan jabatan-jabatan penting di pemerintahan.
Kekuasaan ini kemudian berkembang menjadi kekuatan politik yang mampu mengguncang sebuah negara. Sejarah mencatatnya berulang kali terjadi.
Di masa Dinasti Han, ketika banyak Kaisar naik takhta dalam usia sangat muda, para Kasim justru mengambil alih kendali pemerintahan. Mereka memecah belah persatuan kekuasaan, mengangkat tokoh-tokoh pendukungnya sendiri, dan menyingkirkan siapa saja yang berani menentang.
Ketika pejabat dan rakyat terpelajar akhirnya memberontak, mereka membalas dengan pembersihan besar-besaran yang menewaskan ratusan orang. Perselisihan yang dipicu dari sana akhirnya meletus menjadi perang saudara, dan menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Han yang telah berdiri ratusan tahun lamanya.
Hal serupa terulang kembali pada masa Dinasti Tang. Di saat negara goyah akibat pemberontakan di berbagai daerah, istana justru menyerahkan kendali pasukan pengawal pribadi langsung ke tangan para Kasim. Alih-alih menstabilkan keadaan, kekuasaan militer ini justru membuat mereka semakin berani, sampai pada tahap menentukan siapa yang akan naik takhta, bahkan tega membunuh kaisar yang dianggap menghalangi jalan kekuasaan mereka. Rencana untuk melumpuhkan kekuasaan para kasim ini pun akhirnya gagal total dan berujung pada pembantaian besar terhadap lawan-lawan politik mereka.
Tapi tidak semua Kasim membawa dampak buruk bagi sejarah Tiongkok. Ada pula yang justru mencatat nama baik dan dikenang sampai sekarang. Sebut saja Tong Guan di masa Dinasti Song, yang menjadi panglima perang andalan kekaisaran. Atau yang paling terkenal, Zheng He dari Dinasti Ming, Kasim yang memimpin pelayaran laut terbesar pada masanya, menjelajahi samudra hingga ke Afrika Timur dan berhasil memperluas hubungan dagang serta mengharumkan nama kekaisaran di mata dunia.
Namun secara keseluruhan, sejarah tetap membuktikan bahwa ketika kekuasaan terkonsentrasi terlalu banyak di tangan mereka, dampaknya sering kali justru merusak fondasi kekuasaan itu sendiri.
Mereka yang awalnya hanya dianggap sebagai pelayan tak berdaya, justru pada akhirnya menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat jatuhnya dinasti-dinasti besar Tiongkok.
Kisah ini mengingatkan kita semua bahwa kekuasaan tidak pernah melihat latar belakang, posisi awal, atau pandangan orang lain terhadap seseorang. Ia hanya melihat kesempatan, dan bagi mereka yang pandai memanfaatkannya, tirai istana bisa menjadi jalan untuk mengubah jalannya sejarah sebuah bangsa. (*)
Editor : Bambang Harianto