Eks Danjen Kopassus di Balik Nama Jalan Transyogi

Reporter : Redaksi
Yogie Suardi Memet

Bagi warga Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek), nama Jalan Transyogi pasti sudah tidak asing lagi. Jalur lintas strategis sepanjang belasan kilometer yang membelah kawasan Cibubur, Cileungsi, hingga Jonggol ini setiap harinya dilewati oleh ratusan ribu kendaraan.

Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, dari mana asal-usul nama "Transyogi" tersebut?

Baca juga: Sosok Muhammad Benrieyadin Anak dari Sjafrie Sjamsoeddin

Ternyata, nama jalan legendaris ini diambil dari nama seorang jenderal bintang tiga pembawa baret merah yang sangat dihormati, bersahaja, dan dikenal religius. Beliau adalah Raden Mohammad Yogie Suardi Memet.

Dari Tentara Pelajar hingga Menjadi Komandan Pasukan Khusus

Lahir di Cirebon pada 16 Mei 1929, jiwa patriotisme Yogie Suardi Memet sudah membara sejak remaja. Di usia yang masih sangat muda, ia sudah angkat senjata bergabung dengan Tentara Pelajar (TP) Batalyon 400 di Cirebon untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Selepas masa revolusi fisik, Yogie memantapkan kariernya di dunia militer. Kariernya melesat tajam di lingkungan Divisi Siliwangi yang legendaris, termasuk saat memimpin Batalyon Infanteri 330/Kujang yang tersohor pada medio 1964–1965.

Puncak karier militernya diraih ketika ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Komandan, lalu naik menjadi Komandan Jenderal Kopasandha (sekarang Kopassus) periode 1975–1978. Di kalangan prajurit komando, Jenderal Yogie dikenang bukan hanya karena ketegasannya di medan laga, melainkan karena kepribadiannya yang sangat sederhana, ramah, dan taat beribadah. Setelah memimpin pasukan khusus, ia kembali ke tanah pasundan untuk menjabat sebagai Pangdam VI/Siliwangi (1978–1983).

Rahasia di Balik Lahirnya Jalan Transyogi: Rencana Ibu Kota Baru!

Setelah pensiun dari militer, pengabdian Yogie berlanjut ke ranah sipil. Ia terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat selama dua periode (1985–1993). Di masa kepemimpinannya inilah, proyek infrastruktur besar yang kini kita kenal sebagai Jalan Transyogi digagas.

Ada fakta sejarah menarik di balik pembangunan jalan ini. Pada era 1990-an, Presiden Soeharto sempat memiliki rencana besar untuk memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke kawasan Jonggol, Bogor.

Baca juga: Kisah Jenderal Agum Gumelar Sebagai Penyelamat PSSI

Sebagai Gubernur Jawa Barat, Yogie Suardi Memet langsung bergerak cepat merancang infrastruktur penunjang utamanya. Ia menggagas jalur lintas yang menghubungkan Jakarta Timur langsung menembus Kabupaten Bogor (Cileungsi dan Gunung Putri). Walaupun rencana pemindahan ibu kota tersebut akhirnya urung terlaksana, jalur vital itu telanjur rampung dan dinamai Jalan Transyogi sebagai bentuk penghormatan atas visi besar sang gubernur.

Dipercaya Menjadi Mendagri di Ujung Era Orde Baru

Keberhasilan Yogie memimpin Jawa Barat membuat Presiden Soeharto menariknya ke ibu kota pada Maret 1993 untuk mengemban jabatan sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dalam Kabinet Pembangunan VI.

Menjadi Mendagri di era tersebut bukanlah tugas yang ringan. Yogie harus menakhodai politik dalam negeri yang mulai menghangat menjelang akhir era Orde Baru. Ia menuntaskan tugasnya pada Maret 1998, tepat dua bulan sebelum dinamika reformasi mencapai puncaknya. Setelah itu, ia masih mengabdi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga tahun 2003.

Menolak Berobat ke Belanda, Memilih Setia di Dalam Negeri

Baca juga: Kisah Heroik Rambo Indonesia Rela Jadi Martir Demi Jiwa Korsa

Sisi humanis dan kesederhanaan Jenderal Yogie terus melekat hingga akhir hayatnya. Memasuki masa tua, kesehatannya perlahan menurun akibat penyakit gagal ginjal kronis yang mengharuskannya rutin menjalani cuci darah.

Melihat kondisi sang jenderal, pemerintah sempat menawarkan fasilitas khusus untuk membiayai pengobatannya ke rumah sakit terbaik di Belanda. Namun, dengan penuh keteguhan prinsip dan kesederhanaan, Yogie menolak tawaran tersebut. Ia memilih untuk tetap dirawat di dalam negeri bersama dokter-dokter tanah air.

Pada 7 Juni 2007, Jenderal bersahaja itu mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Advent Bandung dalam usia 78 tahun, dikelilingi oleh keluarga tercinta.

Jadi, bagi Anda yang besok atau nanti sore terjebak macet atau melintas di Jalan Transyogi, ingatlah bahwa nama jalan tersebut adalah warisan dari seorang jenderal Kopassus berhati tulus yang pernah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bangsa ini. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru