Hari ini, Manila dikenal sebagai ibu kota Filipina. Tapi jauh sebelum kota kolonial Spanyol berdiri, kawasan ini sudah memiliki pusat permukiman dan perdagangan bernama Maynila di sekitar Sungai Pasig. Di sinilah nama Rajah Sulayman muncul.
Rajah Sulayman merupakan salah satu penguasa pribumi Maynila ketika ekspedisi Spanyol tiba pada abad ke-16. Menariknya, dalam sejumlah narasi sejarah Nusantara, Sulayman dikaitkan dengan Minangkabau.
Ada pula kisah yang menghubungkan nama kawasan tersebut dengan istilah Arab “Fi Amanillah”, yang dapat dimaknai sebagai dalam perlindungan Allah. Dalam narasi tersebut, istilah itu kemudian dikaitkan dengan perubahan nama hingga menjadi Manila. Tapi ada satu persoalan penting: Seberapa kuat bukti sejarahnya? Sumber resmi sejarah Filipina memang mencatat Rajah Sulayman sebagai salah satu penguasa Maynila sebelum kolonisasi.
Namun, asal-usul Minangkabau dan hubungan etimologis Fi Amanillah, Manila belum dapat dianggap sebagai fakta sejarah yang sudah mapan tanpa bukti primer yang lebih kuat. Kemudian datanglah Miguel López de Legazpi. Pada 24 Juni 1571, Legazpi membentuk pemerintahan kota atau cabildo dan mendirikan Manila dalam struktur kolonial Spanyol. Karena itulah ia dikenal sebagai pendiri formal Kota Manila kolonial.
Jadi, ketika kita bertanya siapa pendiri Manila? Jawabannya ternyata tidak sesederhana satu nama.
Rajah Sulayman adalah penguasa Maynila sebelum kolonisasi. Legazpi adalah pendiri formal Manila kolonial pada tahun 1571. Dan di antara keduanya terdapat sebuah sejarah panjang tentang perdagangan, kekuasaan pribumi, Islam, Nusantara, dan kolonisasi yang membentuk Manila. Sejarah bukan hanya tentang siapa yang datang terakhir.
Kadang, kita perlu melihat siapa yang sudah berada di sana sebelumnya. (*)
Editor : S. Anwar