Sisi Kejam Alexander Saat Pengepungan Gaza
Sebuah peristiwa penting dalam hidup Alexander terjadi saat pengepungan Gaza. Peristiwa ini memperlihatkan sisi kekejaman Alexander yang sesungguhnya.
Kejadian ini begitu kelam hingga banyak sejarawan memilih untuk mengabaikannya sama sekali. Mereka tidak mencantumkannya dalam buku-buku sejarah.
Kisah ini bermula di Gaza.
Kota yang menolak untuk menyerah. Dalam salah satu serangan awal, anak panah seorang tentara bayaran Arab menembus perisai Alexander, menembus zirah pelindung tubuhnya, dan menghunjam dalam ke bahunya. Kebanyakan orang pasti sudah harus dibawa keluar dari medan tempur.
Namun, Alexander justru mengumpat nasib sialnya, memerintahkan agar lukanya dibalut, dan terus bertarung hingga akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri akibat kehilangan banyak darah. Pasukan pembela Gaza bersorak gembira, mengira sang raja yang tak terkalahkan itu telah tewas. Ternyata tidak.
Ketika menara-menara pengepungan raksasa akhirnya tiba melalui jalur laut, Alexander bangkit kembali. Dengan bahu yang masih dibalut perban tebal, ia memimpin sendiri serangan keempat sekaligus serangan terakhir yang berhasil menjebol tembok kota. Pasukan Makedonia menyerbu masuk. Setiap pria Gaza yang bertahan dan melawan tewas terbunuh.
Kaum perempuan dan anak-anak dijual sebagai budak. Hanya sang gubernur, Batis, yang dibawa menghadap raja dalam keadaan masih hidup—terluka parah namun tak gentar—sembari menatap Alexander dengan sorot mata penuh penghinaan.
Tatapan itu sudah cukup.
Pada saat itulah, Alexander tak lagi sekadar menjadi seorang jenderal, melainkan menjelma menjadi sosok Achilles. Ia memerintahkan agar pergelangan kaki Batis diikat dengan tali kulit dan disambungkan ke bagian belakang kereta perangnya.
Kemudian, selagi Batis masih bernapas, sang raja memacu keretanya mengelilingi kawasan berbatu di sekeliling Gaza, menyeret tubuh itu melintasi debu dan bebatuan—persis seperti cara Achilles menyeret jenazah Hector mengelilingi tembok Troya.
Sebagian besar sejarawan kuno merasa begitu ngeri dengan peristiwa ini hingga mereka memilih untuk tidak memasukkannya ke dalam catatan sejarah mereka. Namun, mereka yang mencatatnya memahami maknanya. Alexander tidak sekadar menaklukkan sebuah kota. Ia sedang melakoni kisah epik. Ia mewujudkan kisah-kisah yang sejak masa kanak-kanak selalu ia simpan di bawah bantalnya itu menjadi kenyataan berdarah dan berdebu di tepi gurun.
Luka di bahunya masih basah. Amarahnya berkobar layaknya amarah para pahlawan dalam kisah Homer. Dan pesannya pun jelas: pria yang biasa tidur dengan kitab Iliad di samping belatinya itu telah memutuskan bahwa ia tidak hanya akan membaca kisah tentang para pahlawan, melainkan akan menjadi salah satu di antara mereka—betapapun kelam harga yang harus dibayar. (*)
Editor : Redaksi