Dosa Sang Tubagus Palsu, Jual Tanah Ulayat Leluhur dan Berakhir Tragis

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Bukit Badigul
Bukit Badigul
grosir-buah-surabaya

"Orang Sunda paling rakus dalam sejarah." Kalimat itu mungkin pantas disematkan pada sosok Tubagus Cecep Adireja. Tanpa latar belakang kebangsawanan yang sah, ia dengan percaya diri menggunakan embel-embel gelar "Tubagus. Namun, di balik gelar palsu itu tersimpan tindakan yang jauh lebih memalukan: dengan dungunya, ia menjual tanah ulayat atau tanah adat yang merupakan hak milik bersama warga secara semena-mena pada masa Orde Baru.

Saat itu, si Cecep menggunakan cara-cara represif ala militer untuk menakut-nakuti warga adat agar mau melepaskan tanah warisan leluhur mereka demi kepentingan pengembang aseng. Warga hanya bisa mengelus dada, menahan amarah, dan menyimpan luka yang teramat dalam

Mengapa luka masyarakat adat di Bukit Badigul begitu mendalam? Sebab, di tanah yang mereka jual dan gusur itu terdapat Makam Sri Baduga Maharaja, atau yang lebih dikenal luas sebagai Prabu Siliwangi. Tempat yang seharusnya disucikan dan dijaga kehormatannya justru dikorbankan demi keuntungan duniawi sesaat.

Namun, hukum alam dan supata (sumpah/kutukan) leluhur itu nyata dan sangat sakti. Tanpa ampun, Cecep Adireja beserta keluarganya, serta orang-orang yang turut serta menjual tanah suci tersebut ke pengembang, dikabarkan menemui ajalnya dengan cara yang mengenaskan mati secara misterius akibat penyakit aneh yang sulit disembuhkan. Sebuah akhir tragis bagi mereka yang berani memperjualbelikan tanah leluhur dan menginjak-injak martabat adat

Hari ini, Bukit Badigul mungkin telah tertutup rapat oleh tembok-tembok beton kemewahan Rancamaya, disulap menjadi lapangan hijau tempat para pemodal mengukur kuasa dan melanggengkan dominasi ekonomi mereka. Mereka boleh saja merasa menang, menguasai ruang, dan menimbun harta di atas tanah leluhur yang dirampas. Namun, roda zaman tak pernah berhenti berputar. Biarkan mereka menikmati puncak kejayaan hari ini; tapi ingatlah, selalu ada batas bagi setiap kebatilan. 

Akan datang masanya, ketika siklus itu berbalik, dan kebenaran serta hukum alam menagih apa yang telah mereka renggut secara paksa. Waktu yang akan membuktikan bagaimana sebuah kehormatan leluhur meruntuhkan kesombongan materi. (*)